
Bastian tiba di sebuah rumah sakit sesuai dengan alamat yang Azlan kirimkan. Langkah besarnya membawa Bastian lebih cepat tiba di depan ruangan bersalin.
"Dady, Ayah"
Azlan dan Ali pun menoleh, kedua pria tua itu langsung, mengerut kesal.
"Ha, baru datang? sungguh mengecewakan! " tukas Azlan. Bastian tak menjawab, ia beralih menatap pintu ruangan persalinan. Tanpa di sangka pintu ruangan itu terbuka, ketiga pria itu langsung mendekat.
"Mohon maaf bapak bapak, siapa ayah dari bayi ini? " tanya suster menatap Azlan, Bastian dan Ali. Suster itu ingin meminta ayah si bayi berkumandang kan Adzan kepada si bayi.
"Saya sus" jawab Bastian maju mendekat. Suster itu tersenyum, lalu dengan hati hati memberikan bayi baru lahir itu kepada Bastian.
Bastian gemetar, ia masih belum bisa mempercayai ini. Seorang bayi kecil hasil buah cinta nya dan istri nya telah hadir dan berada di pelukannya.
Azlan dan Ali pun menahan diri untuk tidak menggendong bayi itu, karena bayi itu baru lahir jadi sangat rentan. Mereka hanya memperhatikan bayi itu ketika Bastian Adzan.
"Ini Sus, sudah selesai" ucap Bastian mengecup sekilas pipi mungil dan lembut. Kemudian baru Bastian serahkan kepada suster.
Bastian masih menatap putri kecil nya lekat, hingga suster yang menggendong nya hilang di balik pintu.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu dari mana saja? Kasian Dea. Dia melewati antara hidup dan mati sendiri. Seharusnya kamu ada untuk dia! dan tidak meninggalkan nya sendiri!! "
Bastian tak menjawab, ia hanya menunduk menerima omelan dady nya. Memang dirinya yang salah, seharusnya dirinya membawa Dea, Atau malah cuti untuk sementara waktu.
"Sudah sudah, mungkin kamu punya alasan sendiri, tapi semua itu tidak usah jelaskan kepada kami. Kamu jelaskan saja kepada Dea dan para ibu ibu di dalam. " ucap Ali bijak.
"Baik ayah" balas Bastian mengangguk.
Setelah di bersihkan, Dea langsung di pindahkan ke ruang rawat. Tidak seperti ruang rawat, kamar inap Dea lebih cocok di sebut kamar pribadi. Karena ruangan ini kelas VVIP, tentu saja lebih nyaman, lebih luas dan persis seperti kamar pribadi.
Dea masih terlelap, mungkin efek ke lelahan. Sementara bayinya juga tertidur di samping nya dalam keranjang bayi.
Bastian masuk ke dalam kamar inap Dea, terlihat Zoya dan nisa langsung berdiri dan memalingkan wajah. Mereka sangat kecewa kepada Bastian.
Bastian menghela nafas berat, lalu berjalan mendekati istrinya. Perlahan Bastian mengecup kening Dea, lalu mengecup punggung tangannya. Terlihat betapa sayang nya Bastian kepada istrinya. Bukan hanya orang tuanya dan mertuanya saja yang kecewa kepada dirinya. Ia sendiri pun merasa kecewa. Seharusnya dirinya yang menemani istrinya melewati perjuangan ini, seharusnya dirinya yang melihat proses kelahiran putri nya.
Tanpa di sadari air mata meluncur dari pelupuk mata Bastian, pertanda dirinya sangat menyesali perbuatannya.
Tidak tega melihatnya, akhirnya Ziya dan Nisa menghampiri Bastian. Mengusap bahu Bastian yang kini sudah mulai bergetar.
__ADS_1
"Apapun alasannya, kami bisa mencoba memahaminya. " Zoya mengusap usap punggung Bastian pelan.
"Semoga Dea juga bisa menerima nya" Sahut nisa.
Tak berapa lama, Karena mendengar grasak grusuk di dekatnya. Akhirnya Dea terbangun dari tidurnya. Matanya masih terasa berat, tetapi dia harus membukanya karena rasa penasaran.
Dea melihat apa yang mengganggu tidurnya, ternyata itu adalah Bastian dan kedua ibu ibu cerewet.
"Dea" panggil Bastian tersenyum lembut.
"Bunda, tolong aku tidak mau di ganggu" ketus Dea, ia menarik tangannya yang ada si genggaman Bastian dengan kasar.
"Dea... " lirih Bastian lagi.
"Bunda.... Dea lelah! " rengek Dea lagi, ia bermaksud untuk menyuruh Bastian menjauh.
"Sudah nak, biarkan Dea istirahat dulu. ia pasti sangat lelah" ucap Zoya .
"Baiklah momy" jawab Bastian beranjak dari sana.
__ADS_1
Dea memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya sendiri, sunguh sangat sulit bagi Dea situasinya seperti ini.
...----------------...