
Dea menatap rumah nya, ekspresi bingung tertera di sana.
"Turun! " tegas Bastian keluar lebih dulu.
Dea ikut keluar, mengikuti Bastian yang sudah lebih dulu masuk ke rumah nya.
Ali dan Nisa kaget melihat kehadiran Bastian dan putrinya. Nisa menatap Dea penuh tanda tanya.
"Bastian, kenapa datang gak bilang bilang" ucap Nisa.
"Tidak papa Aunty, aku hanya ingin meminta ijin"
"Ijin apa? " tanya Ali.
"Aku akan membawa Dea tinggal bersama ku di apartemen" jelas Bastian, sebenarnya dirinya sudah membicarakan hal ini dengan Ali dan Nisa, namun Bastian tidak mengatakan kapan ia akan membawa Dea ke sana.
"What??? berani sekali kamu!! " teriak Dea kaget.
"Bun, jangan beri ijin. Mana mungkin Dea serumah dengan pria ini" tegas Dea menatap bunda dan Ayahnya bergantian.
"Tidak masalah Dea, diana kalian tidak akan sekamar. Lagian kalian tidak berdua, di sana ada asisten rumah tangga" balas Nisa tersenyum lembut pada Bastian. Nisa sangat mendukung hubungan Bastian dan Dea.
"Huh? bunda memberikan ijin? " Dea tak percaya dengan semua ini, siapa yang menjadi putri mereka disini.
"Aku percayakan putriku pada mu Bastian" ucap Ali.
"Ayah!! "
__ADS_1
Ali tersenyum pada Dea, ia yakin jika Bastian akan menjaga putri. "Aku harap kamu tidak mengecewakan ku"
"Dea, kamu harus menuruti perkataan Bastian" ucap Ali. Lagi lagi Dea melongo di buatnya, bagaimana mungkin semua ini terjadi pada nya.
"Ayah, aku bisa menjaga diriku. Kenapa aku harus tinggal dengan nya. Ayah dan bunda juga di rumah" mohon Dea.
"Tidak Dea, bunda sama Ayah harus ke kampung halaman grandma kamu. Mereka butuh bantuan kami. " jelas Nisa.
"Huh? " mengapa semuanya secara tiba-tiba seperti ini. Dea menatap Bastian sengit, Ia yakin jika semua ini di sebabkan oleh pria itu.
"Tidak!! aku tidak mau. " tolak Dea, lalu berlari masuk ke dalam kamarnya.
Bastian tersenyum, Dea tak akan menolak nya jika dia yang akan memaksa gadis itu ikut dengan nya.
"Maaf yah Bastian, dia memang manja" lirih Nisa tidak enak hati.
"Yah sudahlah, uruslah gadis itu" kekeh Ali sembari menarik istri nya pergi dari sana. Keduanya sebenarnya memang akan pergi ke kampung halaman Nisa, kedua orang tua Nisa sudah tua. Gadis itu meminta suaminya agar mereka membantu merawat mereka di sana.
Sementara di kampus, Boby termenung di taman belakang kampus. Ia masih memikirkan tentang perdebatan nya dengan Bastian. Apa mungkin Dea adalah tunangan Bastian? atau itu hanya akal akalan pria itu saja.
"huh... Dea!!! kamu membuat ku gila!! " Boby mengusap kasar rambutnya, ia benar-benar kehabisan akal memikirkan cara mendapatkan Dea.
"Wah,, Dea beruntung banget yah. Di rebutan dua cowo yang tahir dan tampan"
"Aku sangat iri padanya"
Boby melirik sebentar gadis gadis yang menggosip kan Dea, lalu ia memilih pergi dari sana. Boby pulang ke rumah, ia merindukan mamanya.
__ADS_1
"Ma.. " lirih Boby yang mendapati mamanya duduk di ruang tamu.
"Hei, putra mama kok sudah pulang jam segini? "
Boby menghela nafas berat, lalu memaksakan bibirnya untuk tersenyum. "Jam kuliah sudah selesai"
"Oh baguslah, apa kamu mau makan sesuatu? " tanya mama Boby.
"Hm.. mama masak apa? "
"Mama masak makanan ke sukaan kamu" jawab mama Boby tersenyum.
"Kalau begitu ayo kita makan"
Mama Boby menghidangkan semua masakan yang sengaja ia masak untuk putranya. Boby tampak senang melihat masakan terlezat di seluruh dunia.
"Terimakasih ma" ucap Boby menerima sepiring nasi dari mamanya, lalu melahap nya.
Mama Boby tersenyum senang, "Boby, bagaimana hubungan mu dengan Dea? apa baik baik saja? "
"hmmm... " Boby menatap mamanya lama, ia sedih jika hubungan nya tak semanis yang di harapkan mamanya.
"Hubungan kami baik baik aja ma"
"Benarkah? kalau begitu kapan kamu bawa Dea kesini lagi??? mama sangat menyukai dia" ucap mama Boby berbinar, pria itu terpaksa berbohong pada mamanya karena ia tidak ingin melihat mamanya sedih.
"Besok mah, aku akan membawanya menemui mama" jawab Boby lagi, entah bagaimana nantinya Boby harus membawa Dea menemui mamanya.
__ADS_1
...----------------...