Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Cemburu? oh tidak


__ADS_3

Jam istirahat pun tiba, Zoya tidak bergabung dengan Mila dan Nisa. Gadis itu lebih memilih duduk sendiri di taman.


"Hai, " sapa Angga memberikan minuman pada Zoya.


Zoya mendongak, menatap Angga bingung.


"Ngapain loe kesini? " Zoya menggeserkan tubuhnya ketika angga tanpa permisi duduk di samping nya. Walau bagaimana pun Zoya sudah menjadi istri seseorang, jadi ia harus menjaga dirinya.


"Galak banget, gue cuma mau ngobrol sama loe" balas Angga pelan, membuat ekspresi sedih di wajahnya


Zoya pun terdiam, mungkin sikapnya terlalu jutek pada teman teman sekolahnya.


"Sorry " lirih Zoya.


"Gak papa"


Zoya kembali menatap buku yang sejak tadi di bacanya. Angga menjadi kikuk, ia memikirkan berbagai topik agar bisa terlihat lebih dekat dengan Zoya.


"Akhir akhir ini gue gak liat loe di sekitar sekolah" Angga memulai pembicaraan.


Zoya terdiam, terdengar helaan nafas berat darinya.


"Gak papa, loe gak harus jawab kok" cicit Angga tak enak hati.


"Gue istirahat di rumah, bosen bertemu anak ips yang selalu buat gue kesal" celetuk Zoya dengan nada bercanda.


"Eh, gue termasuk dong " ujar Angga menunjuk dirinya.


"Mybe " Kekeh Zoya.


"Wahhh sebuah keberuntungan bagi gue bisa bikin loe kesal" ucap Angga lagi.


"Wah benar kah? " ucap Zoya di buat buat kaget, lalu tertawa terbahak bahak. Untuk pertama kalinya Zoya tertawa bersama siswa smA nya, biasanya Zoya hanya akan bicara atau ngobrol dengan teman sekelasnya atau Trio A.


Angga terpanah, tawa Zoya begitu indah di matanya. "Indah sekali" gumam Angga keceplosan.


"Apanya? " tanya Zoya membuat Angga gelagapan.


"taman ini" ucapnya asal.


"Oh tentu, jika tidak indah, mana mau gue duduk di sini"


Sepasang mata menatap ke arah siswa dan siswi yang sedang duduk di taman, mereka tampak akrab dan senang. Sorot matanya tajam dan sulit di artikan, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang mungkin akan meledak jika ia berlama lama di sana.

__ADS_1


"Sudah bersuami masih saja berdekatan dengan laki-laki lain" gumam Azlan dingin.


Marah? tidak Azlan merasa dirinya tidak marah. Tetapi Azlan hanya tidak mau jika bundanya tahu akan hal ini maka bundanya akan sedih.


Kring~~~~


"Eh bel dah bunyi, gue masuk dulu" Zoya bangkit dari duduknya lalu beranjak menuju kelas.


Nisa dan Mila sudah duduk di bangkunya, Zoya berjalan lurus menuju bangkunya samping Nisa. Gadis itu hanya melempar senyum pada Zoya.


"Kita gak bisa begini terus, geng Zomian harus kembali" batin Nisa.


Pelajar berjalan seperti biasanya, Zoya merapikan buku bukunya setelah mendengar bel pulang.


"Baik anak anak, pelajaran hari ini kita cukupkan sampai disini, selamat siang" ucap bu mina menutup pelajaran.


Zoya bangkit dari bangkunya, tanpa sengaja ia menyenggol Mila yang hendak keluar dari mejanya.


"Aduh! "


"Sorry" cicit Zoya membantu Mila membereskan buku buku mya yang berserakan.


"Udah deh, biar gue aja" jawab Mila ketus, merebut buku bukunya yang ada di tangan Zoya.


Nisa menggeleng melihat sikap kedua sahabat nya yang entah sampai kapan akan seperti ini terus.


"Gue duluan Zoy" pamit Nisa.


"Huhhh maafin gue Mil" lirih Zoya pela tanpa ada yang mendengarnya.


Perlahan Zoya keluar dari kelas, ia langsung menuju ke parkiran. Azlan sudah ada di sana, menunggu Zoya di dalam mobil.


"Sorry gue agak lama" ucap Zoya Masuk ke dalam mobil, lalu meraih tangan Azlan untuk menyalami seperti biasa. Namun berbeda dari yang biasanya, Azlan menarik tangannya ketika hendak di cium Zoya. Gadis itu menatap Azlan bingung. Ada apa dengan Azlan?.


Brammmm.


Tanpa pemberitahuan Azlan langsung menginjak pedal gas mobilnya, sehingga menyebabkan Zoya terhempas ke jok mobil. Buru bubu Zoya memakai sabuk pengaman agar dirinya aman.


Tak ada pembicaraan, Azlan mengendari mobilnya bak kesetanan. Zoya yang ketakutan hanya memejamkan matanya tak berani melihat jalan.


"Turun! " titah Azlan dingin.


Zoya pun membuka matanya, ia menatap ke luar jendela memastikan mereka ada di mana.

__ADS_1


"Sudah sampai? " pikir Zoya, baru beberapa menit saja mereka sudah sampai, sungguh mengejutkan.


Zoya turun, lalu mengikuti Azlan masuk ke dalam lift. Matanya melirik Azlan melalui ekor matanya.


"Pria ini kenapa? " pikir Zoya menerka berkata apa yang sudah terjadi. Mood Azlan terlihat sangat buruk.


"Apa karena gue berantem sama Intan? " batin Zoya mencoba menebak sesuatu yang mungkin salah ia lakukan.


Bruk~ Zoya menabrak punggung Azlan, ia tidak tahu Azlan sudah berhenti berjalan.


"Loe sekarang sudah jadi istri gue! jadi loe harus menjaga martabat gue! " ucap Azlan dengan nada dingin penuh penekanan, pria itu tidak berniat menoleh pada Zoya yang notabene nya menjadi istri nya.


"Loe pikir gue apa? " tanya Zoya tak Terima di anggap tak menjaga martabat suaminya.


"Selama jadi istri gue, loe gak usah jual murah! " kata Azlan berbalik menatap istrinya. Pola pikir Azlan tak stabil, emosi menguasai dirinya sehingga tidak memikirkan ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri.


"Apa?? loe pikir gue wanita murahan?? loe pikir... " ucap Zoya terhenti, ia tidak mengerti dengan maksud ucapan Azlan. ia merasa tidak pernah melakukan apapun yang di maksud oleh Azlan.


"Dekat dengan semua pria apa itu tidak murahan! "potong Azlan dengan nada lebih tinggi, cukup membuat Zoya kaget.


"Apa??" Zoya benar-benar bingung dengan sikap Azlan, sejak kapan gadis itu dekat dengan banyak pria. Gadis itu berbah menjadi Dingin, sorot matanya tajam menatap sang suami.


"Anggap aja itu benar,.. " kata Zoya dingin.


"Murahnya gue tidak ada hubungan nya dengan loe! " lanjut Zoya lagi.


"Benar, dan gue harap loe bisa jaga sikap loe selama masih jadi istri gue!! karena gue gak mau di bilang punya istri murahan! " tekan Azlan, Lalu berbalik melangkah masuk ke dalam kamarnya.


"Azlan!!! Azlan!!! " teriak Zoya mengedor ngedor pintu kamar Azlan, ia tidak Terima di katakan sebagai cewe murahan! Zoya merasa terhina.


"Gue bukan wanita murahan!! loe ingat itu!! " teriak Zoya dari luar. Azlan masih mendengarnya, ia merasa kesal dengan sikap Zoya yang dekat dekat dengan pria lain di sekolahnya.


"Kenapa gue marah seperti ini? " pikir Azlan menyadari tingkah aneh nya.


"Gakk, gue sangat wajar marah. bukan karena cemburu" batin Azlan meyakinkan dirinya.


Sementara Zoya yang masih kesal masuk ke dalam kamarnya, lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


"Dia pikir dia siapa?? seenaknya marah marah sama gue!! " kesal Zoya.


"Sudah cukup gue bersikap baik dan selayaknya seorang istri." batin Zoya, lalu memejamkan matanya melepas semua kekesalan. Zoya tidak peduli lagi dengan hidupnya, apapun yang terjadi Zoya sudah pasrah. Hidupnya sudah hancur, bahkan pernikahan ini tidak akan berlangsung lama. Zoya yakin jika setelah melahirkan Azlan pasti akan menceraikannya dan mereka tak akan bertemu lagi.


T E R I M A K A S I H

__ADS_1


__ADS_2