Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Nasi goreng azlan


__ADS_3

Zoya masih terdiam, memejamkan matanya menikmati setiap kecupan hangat azlan pada leher belakang nya.


Kruyukk~ bunyi keroncongan perut Zoya.


Azlan menghentikan aktivitas nya, membalik tubuh Zoya agar ia bisa melihat wajah cantik Zoya yang sedang menunduk malu.


"Apa loe lapar? "


Zoya mengangguk pelan, ia malu ketahuan sedang lapar oleh Azlan.


"Eh" kaget Zoya, Azlan membawanya ke dapur.


"Tunggu di sini, gue akan masak untuk loe"


Azlan bergerak cepat, mengambil beberapa lauk pauk di dalam kulkas, lalu mulai melancarkan aksinya.


"Apa dia akan memasak? " gumam Zoya memperhatikan Azlan dari meja dapur. Perutnya kembali berbunyi.


Zoya menghirup aroma masakan Azlan yang memasuki rongga hidungnya. "Wangi sekali"


45 menit Azlan berkutat di dapur, akhirnya ia datang ke meja makan membawa sepiring nasi goreng.


"Nah makan lah"


Zoya tak bergeming, ia tidak menyangka Azlan bisa membuat makanan dengan tampilan menggiurkan seperti ini. Mengingat 6 tahun lalu Azlan memasak untuk Zoya ayam goreng gosong.


"Jangan pikirkan tampilan dan rasanya, yang penting loe kenyang" lirih Azlan karena Zoya tak kunjung menyentuh nasi goreng nya.


"Dia pikir aku bisa makan jika rasa nya tidak enak" gerutunya Zoya dalam hati, namun ia tetap meraih nasi goreng itu dan melahap nya.


"Bagaiamana? apa rasanya masih tidak enak? " Azlan menatap Zoya penuh harap, menunggu komentar dari Zoya. Sudah 6 tahun dirinya belajar memasak untuk Zoya.


"Lumayan" jawab Zoya singkat.


"Huh? " cengoh Azlan, hanya itu komentar darinya?


"Bagaimana rasanya? garamnya? atau ay nya? "


"Yah, semua nya layak di makan" jawab Zoya lagi.


Azlan mengangguk pelan, seperti nya ia harus belajar lagi agar Zoya terkesan dengan masakannya.


"Lalu.. " ujar Zoya.


"Lalu apa? "


"Kapan kamu akan membebaskan aku dari tahanan ini! " dengan Zoya kesal, ia sudah bosan berada di dalam apartemen ini.


"Perusahaan paman loe sudah gue bereskan, "Jawab Azlan.


Zoya menggeleng, bukan itu yang ia maksud. Azlan benar-benar bodoh sekarang.


" Lalu, kapan gue akan keluar dari sini? "


"Tidak akan pernah"


"Azlan!!! " teriak Zoya, sudah cukup bertele-tele. Zoya berpikir jika dengan kelembutan Azlan akan melunak dan tidak bersikap egois seperti ini.


"Loe itu istri gue!! dan loe gak akan kemana-mana"


hufff haaaa.


"Azlan, aku tuh gak bisa kalo kamu Kurung seperti ini terus"

__ADS_1


"Kita bisa jalan jalan jika loe mau" ujar Azlan.


"Udah lah terserah loe! mana ponsel gue"


Azlan menatap tangan Zoya yang menengadah di depannya.


"Aku belum sempat memeriksa nya"


"Apa? " Zoya tak percaya, Azlan benar-benar membuatnya kesal. "kamu tidak boleh memeriksa ponsel aku sembarangan! "


"Kenapa?, apa ada sesuatu di dalamnya? "


Zoya semakin menggeram kesal, Azlan benar-benar tidak bisa di ajak bicara.


"Aku hanya akan menghubungi pama Pram"ujar Zoya pasrah agar Azlan segera memberikan ponselnya yang sengaja Azlan sita.


Azlan tak menjawab, pria itu malah pergi meninggalkan ruang makan.


Azlan duduk santai di sofa, menghidupkan TV.


" Ayolah Azlan, berikan aku ponsel itu. Aku harus memberi kabar pada mereka" bujuk Zoya.


"Azlan!! pria yang tampan, pria perkasa"


"Baiklah, tapi satu syarat"


"Syarat lagi" densus Zoya.


"Mau atau tidak? "


"Iya iya, apa syarat nya? " jawab Zoya cepat.


"Kiss me"


"Aku tidak mau! " tolak Zoya.


"Ya sudah, tidak ada ciuman, tidak ada ponsel"


Zoya menghembuskan kan nafas nya kasar, harga dirinya sedang di injak injak sekarang.


Azlan memainkan ponsel Zoya, membuat gadis itu menggeram kesal.


"Baiklah, satu ciuman tidak masalah" pikir Zoya menenangkan dirinya.


Cup~


"Masih belum terasa"


Cup~


"Lagi"


Cup. cup. cup.


Berkali kali sudah Zoya mengecup bibir tebal Azlan, hingga kesabarannya habis dan akan berteriak pada pria itu, namun Azlan memberikan ponselnya cepat.


"Terimpphh" Azlan menarik tangan Zoya,membekap bibir Zoya dengan mulutnya. lalu menahan tengkuk Zoya agar wanita itu tidak bisa menjauh darinya.


Lama bibir mereka saling menempel, dengan Zoya duduk di atas paha Azlan.


Mata Zoya melotot kaget, lalu perlahan sayu dan mulai terpejam. gerakan pelan bibir Azlan memangut bibirnya membuat Zoya larut dalam kenikmatan.


Ponsel yang semula di genggam Zoya jatuh di sambut sofa, tangannya melingkar memeluk leher Azlan.

__ADS_1


"Huhh" lenguh Zoya, Azlan memberikan isapan kecil di sudut bibirnya.


Zoya tersentak, pikiran sadarnya kembali. Di dorong nya tubuh Azlan agar menjauh darinya.


Zoya bangkit dari tubuh Azlan, lalu berlari ke dalam kamar tak lupa menyambar ponselnya.


"Bajingan" umpat Zoya sebelum menutup pintu.


"Loe masih tidak bisa menolak pesona gue" kekeh Azlan tersenyum menang.


Zoya terus merutuki dirinya, bisa bisanya otak bodohnya tidak berfungsi ketika pria itu mencoba meracuni dirinya dengan kenikmatan yang selalu Zoya rindukan.


"Halo paman" ucap Zoya ketika pamannya menerima panggilan darinya.


"Hai girl, bagaimana? apa liburan mu menyenangkan? "


"Apa? liburan? " tanya Zoya bingung.


"Sorry girl, paman tidak bermaksud menjebak mu. tapi ini paman lakukan demi kebahagiaan mu! " terdengar suara Pram menyesal.


"Tidak masalah, aku mengerti sekarang" lirih Zoya, lalu memutuskan Sambungan telfon.


"Dasar licik! "


Zoya melangkah keluar dari kamar, mencari pria yang tadinya ia tinggalkan di sofa.


"Azlan!!! " teriak Zoya lantang.


"Ada apa berteriak sahut" sahut Azlan yang keluar dari kamarnya. Matanya tampak biasa saja menatap Zoya yang berjalan cepat menghampirinya.


"kamu sengaja bersiasat sama paman Pram! "


"Yah, paman loe mengerti dengan apa yang gue rasakan"


"Tidak!! kami pasti mempengaruhi paman kan! " bentak Zoya lagi.


"terserah loe mau nuduh gue gimana sekarang bersiaplah gue akan bawa loe ke rumah bunda" Azlan berjalan acuh ke dapur, meninggalkan Zoya yang masih mematung.


"Bunda? " ulang Zoya.


"10 menit loe tetap berdiri di sana, gue tinggal" peringat Azlan.


Secepat kilat Zoya masuk kbali ke kamarnya, mengganti pakaian secara cepat dan menggosok giginya karena ia abis makan tadi.


Zoya kembali berlari cepat keluar kamar, menghadap Azlan yang sudah menunggunya di depan pintu.


"Ayo"


Tanpa menjawab Azlan membuka pintu, lalu keluar terlebih dulu. Zoya tak bersuara lagi, jantung nya berdegup kencang membayangkan bagaimana ekspresi wanita yang sangat baik padanya. Zoya sangat merindukan wanita itu, kasih sayang seorang ibu yang Zoya harapkan ada di tangannya.


"Heh, gak mau masuk? "


Zoya tersentak, lalu masuk ke dalam mobil Azlan dengan cepat.


"Dasar aneh" cibir Azlan pelan, sikap juteknya sudah kembali.


"Tadi manja, kekanak kanakan. Sekarang malah seperti aku lak yang mengejar nya" gerutunya Zoya melirik Azlan tajam.


"Gue harus tampil mengerikan, agar cewe cewe ganjen itu tidak mendekati gue" jawab Azlan yang membuat Zoya mencebik. Siapa yang ingin mendekatinya, pria tanpa hati dan wajah dingin ini.


"Narsis sekali" ledek Zoya.


Azlan melajukan mobilnya menuju rumah bunda Meika, walau bagaimana pun Azlan tetap tidak tega mengurung Zoya di apartemen terus menerus.

__ADS_1


__ADS_2