
Pagi yang indah, setelah hujan lebat kini matahari mulai terik. Pagi yang terasa segar membuat seorang wanita betah duduk di taman berjam jam. Sejak pukul 8 pagi Zoya duduk sendiri di taman sembari menatap bunga bunga mekar.
Sekarang sudah pukul 10 pagi, seharusnya Zoya sudah masuk ke dalam rumah karena matahari mulai memancarkan panas yang maksimal.
"Zoya, mari masuk" panggil Meika dari pintu samping, Zoya pun menoleh lalu tersenyum.
"Iya bun, Zoya masuk sekarang"
Zoya melangkah masuk ke dalam rumah, langkah kakinya langsung menuju ke dapur. Meneguk air minum untuk membasahi tenggorokan yang mulai terasa kering.
"Zoy!!!!! " teriak Mila dari arah depan.
Zoya mengerut bingung, tumben banget Mila meneriaki nya dari depan. Biasanya Mila akan datang dan berbicara di depannya bukan seperti ini.
Zoya bergegas ke depan, hatinya mulai khawatir mendengar teriakan Mila tadi.
"Ada apa mil? "
Tubuh Zoya mematung, melihat siapa yang sedang berdiri di depannya ini. Bibirnya mulai bergetar, matanya berkaca kaca.
Sama halnya dengan wanita itu, tubuhnya tampak sudah tua dan bisa di bilang tergolong nenek nenek.
"Bi Iyun... "
"Non Zoya.. "
Zoya beringsut mendekati pengasuhnya dulu, ia masih tidak percaya dengan semua ini. Sudah 6 tahun lama nya ia terpisah dengan bi Iyun.
Zoya melirik Azlan yang tersenyum dan mengangguk padanya. "Gue udah bilang sama loe, bakal ada kejutan hari ini" ujar Azlan tersenyum lebar.
"Terimakasih" lirih Zoya, lalu kembali menatap bi Iyun. Mereka saling berpelukan melepas rindu.
"Non, baik baik aja kan? selama 6 tahun ini bibi sungguh kesepian" rengut bi Iyun membuat Zoya terkekeh pelan, lalu merenggangkan pelukannya.
"Bi Iyun juga gak mau ikut kan sama aku" balas Zoya.
"Karena bibi yakin non Zoya pasti akan kembali"
"Ihhh Bibi" Zoya kembali memeluk bi Iyun erat, wanita yang selalu memberikan kasih sayang dan kehangatan seorang ibu kepadanya.
Meika dan Mila ikut terharu kepada mereka berdua, Zoya yang berhati mulia tidak membeda bedakan antara dirinya dan asisten rumah tangganya. Tidak banyak orang seperti ini, bahkan banyak di luar sana menganggap rendah asisten rumah tangga, padahal mereka sudah bekerja sepenuh hati demi majikan nya.
Ingatlah wahai saudara ku tiada yang lebih tinggi di atas bumi ini, harta, jabatan, itu bersifat sementara. Kerendahan hati seseorang, itulah kemuliaan yang tinggi.
Mari kita saling hormati 🙏oke lanjut.
"Mama!!!!! "
__ADS_1
Suasana haru berganti ricuh karena kemunculan teriakan dari Raya yang melengking.
Raya berlari, dan menuruni tangga dengan cepat.
"Ada apa Raya, kenapa kamu teriak teriak? " tanya Meika masih mengusap dadanya.
"Tau ih kak Raya, orang lagi suasana sedih juga" cibir Mila.
Azlan menggeleng melihat tingkah kakaknya yang nyengir setelah membuat ricuh.
"Sorry, tapi ini penting " cicit Raya. Lalu membisikkan sesuatu kepada Meika.
"Apa???? kamu serius? " tanya Meika dengan mata membulat.
"Ada apa bun? " Mila ikut penasaran.
"Heeh, orang di sini rame. Kenapa bicara berbisik seperti itu! " tegur Azlan, yang sebenarnya dirinya juga penasaran.
"Tau ih kak Raya" Sahut Zoya.
"Rahasia... " Cibir Raya menarik tangan Meika dan juga Mila ke dapur.
Zoya melirik kearah suaminya, bertanya melalui tatapan mata.
"gue seriusan gak tahu" balas Azlan dengan tatapan pula.
Tak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi. Azlan langsung bangkit dan berjalan menuju pintu.
"Stttt, kami mau melamar sekaligus buat kejutan untuk Zoya" ucap Calista dengan suara pelan.
Azlan mengangguk paham, mereka masuk dengan langkah pelan. Pertama Azlan dan Anggi yang memasuki rumah.
"Sayang, itu siapa? " tanya Zoya, lalu ia tersenyum ketika melihat kakaknya yang datang.
"Wahh kak Anggi udah kembali lagi dari Amerika? " ujar Zoya sembari merentangkan tangannya, lalu memeluk Anggi.
"Aku merindukan mu" bisik Anggi membalas pelukan Zoya.
"Aku juga"
"Permisi... "
Mata Zoya membulat, ia tidak percaya ini. Paman Pram sedang ada di depan matanya. Dengan segera Zoya melepaskan pelukan Anggi, lalu berlari menghampiri Pram.
"Sayang, loe harus hati hati" sahut Azlan terdengar janggal di telinga Pram. Namun ia tidak ingin membahas ini lebih dulu.
"Kangen kan? " decak Pram bangga.
__ADS_1
"Tentu saja, aku sangat sangat merindukan paman"
"Lalu bagaimana sama gue? " tanya Calista tekikik pelan.
"Wahhh kamu juga ada di sini? " teriak Zoya beralih memeluk sahabat nya.
"Aku gak akan mau di tinggalkan" sahut Calista manja.
"Lahh, sudah sampai? " kaget Raya ketika kembali dari dapur, ternyata mereka sudah berkumpul.
"Gagal ngasih surprise deh" lenguh Raya pelan.
"Aku tetap kaget kak, ini benar-benar luar biasa" ucap Zoya tersenyum bahagia.
"Yaudah sekarang kita duduk dulu yah, kasian para tamunya" lerai Meika mempersilahkan Pram, Calista dan Anggi untuk duduk di sofa.
"Bun, ayah mana? " tanya Azlan.
"Ayah sebentar lagi pulang kok. Bunda udah telfonin tadi" jawab Bunda tersenyum.
Zoya tersenyum bahagia, ini adalah harinya yang paling bahagia.
"Sayang, loe mau minum apa? biar gue ambilin" tanya Azlan, mengundang perhatian Pram lagi.
"Lah, sudah suami istri masih manggil loe gue? " decak Pram.
Zoya menutup mulutnya menahan tawa. Azlan memang tidak terbiasa menggunakan kata aku kamu.
"Hehe, maaf paman Aku gak biasa" cengir Azlan.
"Nah tu bisa, hanya gak ada niat aja tuh" timpal Anggi, membuat mata Azlan membulat, Anggi sudah berani bercanda dengan nya? tidak seperti di kantor.
"Yaudah, besok besok manggil sayang ajah, gak usah pake loe gue kalo kamu gak terbiasa" saran Pram, Azlan mengangguk paham.
"Aneh ke dengeran nya" imbuh Pram lagi.
"Siap paman, aku akan melakukan yang terbaik dan tidak akan mengecewakan lagi" ucap Azlan sembari menarik tangannya ke samping jidat lebarnya memberi hormat pada Pram.
"Bagus" kekeh Pram.
"Nah, silakan di nikmati hidangannya. " Meika menghidangkan semua makanan yang udah ia masak, dan juga beberapa cemilan yang sudah raya siapkan kemarin.
"Terima kasih" semangat Calista.
"Ehhh, jaga sikap dulu. " tegur Anggi pada calista yang langsung meraih bolu ke sukaannya.
"Ihhh Anggi, aku mau ituu" rengek Calista kesal. Bibirnya manyun keriting imut. Mereka tertawa bersama melihat ekspresi Calista cemberut.
__ADS_1
...----------------...
Sebenarnya, author juga merasa aneh dengan panggilan nya. Tapi author pengen buat part untuk mengoreksinya. Makasih yang udah ingatin author buat partnya 😘😘