Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Semudah itu???


__ADS_3

Zoya duduk di bangku taman sendirian, sungguh ini Zoya yang berbeda, sebelumnya Zoya sangat tidak suka duduk sendirian seperti ini.


Nisa berjalan mendekati Zoya, lalu duduk di samping Zoya. Menyadari kehadiran Nisa, Zoya menghembuskan nafas berat namun tetap tidak menoleh padanya.


"Zoy... " panggil Nisa.


"hmm" sahut Zoya tetap tidak menoleh, gadis itu masih menunduk menatap kakinya yang berayun.


"Kita sahabat kan?... "


Zoya tak menjawab, hanya deheman yang menjadi respon dari Zoya.


"Gue kalo ada apa apa selalu saja membicarakan semuanya sama loe, dan Mila, jadi... "


Zoya kembali menghela nafas, ia mengerti apa yang di maksud Nisa. Tapi Zoya sangat takut, masalah yang dia hadapi terlalu privasi untuk di bicarakan. Zoya takut teman temannya merasa jijik pada dirinya lalu menjauh darinya.


"Zoy.... Loe percaya kan, sama gue? " tanya Nisa meyakinkan Zoya, meskipun Nisa sering lola dan membuat kesal tetap saja Nisa adalah sahabat yang terbaik. Ke lolaan Nisa bisa menyesuaikan situasi. 🤣


Zoya menoleh pada Nisa, baru juga ingin membuka mulut untuk berbicara Zoya menangkap sosok Mila berjalan menghampiri mereka.


"Disini kalian rupanya " Mila ikut duduk di samping Zoya, nafasnya terdengar tidak teratur berlari kesana kemari mencari Zoya dan Nisa.


Mila merasa canggung, kedua sahabat nya diam membisu padahal Mila melihat keduanya tampak berbicara tadi.


"Apa gue ketinggalan sesuatu? "


"Gak kok Mil, gue baru aja nanya penyebab Zoya menjadi seperti ini" jawab Nisa jujur. Zoya kembali terdiam, nyalinya kembali hilang. Ia tidak mungkin menceritakan pada kedua sahabat nya terlebih lagi pada Mila yang menjabat sebagai sepupu Azlan.


"Gue ke kelas dulu! "


Zoya bangkit dari duduknya lalu pergi begitu saja, Nisa dan Mila saling berpandangan tidak bisa menahan Zoya dan memaksa Zoya untuk menceritakan pada mereka.


"Mungkin Zoya belum siap untuk membaginya"lirih Nisa,


Mila pun mengangguk setuju dengan ucapan Nisa.


Azlan berdiri di ujung tangga, sudah 10 menit laki-laki itu berdiri di sana. Ingatannya melayang mengingat kejadian tadi malam ketika ia salah mengetuk rumah orang.


Azlan mencari alamat rumah Zoya, tetapi ia malah mendapat alamat yang salah, karena itulah Azlan memutuskan untuk menemui Zoya di sekolah saja.


Zoya melewati tangga dari taman belakang, tiba tiba Azlan yang melihatnya langsung menghadang gadis itu.


"Mau apa lagi loe? " ketus Zoya menatap tajam Azlan.


"Gue ingin menyelesaikan semua ini"

__ADS_1


"Semuanya sudah selesai, gue harap loe gak muncul lagi di depan gue! " Zoya mendorong tubuh Azlan yang menghalanginya. Bukannya mengelak, Azlan malah menarik tangan Zoya hingga membuat Zoya terhuyung menabrak dada bidang Azlan.


"Minggir!! " kata Zoya penuh penekanan mendorong dada Azlan.


"pulang sekolah datang ke Cafe santai, gue mau ngomong sama loe. Setelah itu gue gak bakal ganggu hidup loe"


Azlan melepas Zoya lalu pergi meninggalkan Zoya yang ambruk di lantai. Untung tangga tidak terlalu ramai di lewati, hanya orang orang yang ingin bersantai ke atap dan ke taman belakang yang melewatinya.


***


Pulang sekolah Zoya langsung mengendarai mobilnya menuju kafe yang Azlan sebutkan. Walau bagaimana pun Zoya juga harus menyelesaikan semua ini agar dirinya merasa lebih baik.


Zoya mencari cari keberadaan Azlan, kafe itu terlihat sepi ,boleh di katakan kafe ini belum seutuhnya buka. Bisa bisanya Azlan menyuruhnya datang ke cafe jam segini.


"Selamat siang dek, ada yang bisa saya bantu? " tanya seorang pelayan yang menghampiri Zoya.


"Saya ingin menemui seorang teman"


"Oh anda tamu tuan Azlan? "


Zoya langsung mengangguk, meski ia sedikit bingung pelayan itu tahu tentang pertemuan nya dengan Azlan.


"Ikut saya " tutur pelayan itu sopan, menuntun Zoya ke ruang privasi.


"Silakan masuk nona, tuan muda Azlan sudah berada di dalam"


Ceklek~


Azlan melirik Zoya yang baru saja masuk, lelaki itu menegakkan tubuhnya, sejujurnya ia sangat gugup saat ini. Pembicaraan yang akan mereka bicarakan adalah sesuatu yang intim.


"Duduk" kata Azlan datar.


Tanpa menjawab, Zoya langsung duduk di depan Azlan.


"Gak usah basa basi, apa yang loe ingin kan? "


"Santai, gue cuma ingin menyelesaikan kesalahan ini" kata Azlan.


"Apa yang sudah gue lakuin ke loe? " tanya Azlan.


Zoya memalingkan wajahnya, pipinya memerah, sungguh pertanyaan ini adalah pertanyaan yang menjijikkan bagi Zoya.


"Gue rasa loe pasti lebih tahu dari gue" jawab Zoya.


Azlan mendekat pada Zoya membuat gadis itu berdiri dan menjauh dari lelaki itu. Azlan tahu sesuatu yang salah telah ia lakukan pada Zoya, Terlihat ada bercak darah kering pada jagoan kecilnya.

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak ingat Zoya, tapi.... "


"Cukup Azlan!!! kalau bukan karena loe gue gak akan pernah meminum minuman laknat itu!! "


Zoya menatap Azlan nanar, masa depannya sungguh sudah hancur. Jantung nya harap harap cemas takut perbuatan mereka malam itu membuahkan beni yang Zoya sendiri belum siap menerima nya.


"Gue juga gak tahu bakal jadi kaya gini, gue gak mau masalah ini ada yang tahu selain kita. makanya gue mau nyelesain semuanya" kata Azlan, lelaki itu berdiri di belakang Zoya.


"Gue mau kita anggap malam itu tidak pernah terjadi"


Zoya menegang, seenaknya Azlan mengatakan untuk melupakan malam itu. Bagi dirinya malam itu memang malam biasa, namun bagi Zoya malam itu adalah malam kehancuran kehidupan nya.


"Loe boleh melakukan nya, namun bagi gue malam itu adalah malam kematian Zoya yang dulu"


Zoya tak kuasa menahan tangis, gadis itu memilih untuk keluar dari ruangan VIP itu.


Zoya melangkah tanpa memperhatikan jalannya, tanpa ia sengaja gadis itu menabrak seseorang.


"Aduh.. "


"Maaf, saya tidak sengaja" kata Zoya menundukkan kepalanya.


"Zoya? ini Zoya temennya Mila kan? " Airaya tersenyum lebar, ia tidak menyangka akan bertemu dengan Zoya di sini.


Zoya mengangkat kepalanya, Air mata yang tadinya hampir jatuh ke pipinya di seka terlebih dahulu.


"Kak Airaya"


"Loe dari cafe ini? belum buka gini udah ke cafe? "


"Iya kak tadi ada janji sama temen" ucap Zoya jujur namun tidak menyebutkan nama temennya.


"Yaudah, ayuk ngobrol di dalam. Ini tu cafe adek gue"


Airaya menarik tangan Zoya masuk ke dalam, tapi Zoya menahan diri. Gadis itu tidak mungkin masuk kembali ke sana, bisa bisa Airaya tahu jika orang yang di temui Zoya adalah adik Airaya.


"Kak, ngobrolnya lain kali aja ya. soalnya gue lagi buru buru" kata Zoya beralasan.


"Lah, kita baru kenal jadi harus sering sering ngobrol"


"Lain kali deh, gue bakal ngobrol bareng lo" ucap Zoya lagi meyakinkan Airaya.


"Hmm yaudah deh, tapi lain waktu loe gak bisa nolak lagi" seru Airaya.


"Siap kak"

__ADS_1


Zoya tersenyum manis, lalu melambaikan tangannya pada Airaya.


"Huh... pantes Azlan seenaknya ke sana dan menyuruh nyuruh gue datang ketika cafe Santai masih tutup" batin Zoya. Gadis itu melajukan mobilnya pulang ke rumah.


__ADS_2