Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Jadi tahanan


__ADS_3

Zoya bangun dari tidurnya, matanya menyipit menyesuaikan pencahayaan lampu yang terasa silau di matanya. Pandangan Zoya mengedar ke seluruh ruangan yang tak asing baginya.


Gadis itu sangat hafal dengan tempat ini, Zoya duduk di tepi ranjang, melirik pakaiannya yang sudah berganti menjadi pakaian tidur. Siapa yang menggantinya Zoya tidak tahu.


"Apa aku di apartemen? " pikir Zoya, ia berjalan mengelilingi kamar yang sudah 6 tahun ia tinggal kan. Tata letak perabotan nya masih sama persis seperti ketika Zoya tinggalkan.


Ceklek.


Azlan memasuki kamar, senyum hangat tak pudar dari bibirnya. Azlan membawa nampan berisi makanan ke sukaan Zoya ketika ia hamil dulu. Seblak.


"Loe udah bangun? "


Zoya tak menjawab, ia malah memalingkan wajahnya ketika Azlan ikut duduk di samping nya.


"Loe harus makan, sejak siang tadi loe tidur. Pasti sekarang perut loe kelaparan" Azlan meletakkan nampak ke atas nakas, lalu mulai mengangkat sendok hendak menyuapi Zoya.


"aku gak lapar! "


"Kenapa kamu bawa aku kesini!!! "


Tatapan mata itu menatap tajam ke arah Azlan, Zoya benar-benar benci, di tambah lagi setelah Azlan melakukan kesalahan itu lagi. Mereka sudah bercerai, tetapi Azlan kembali membuat Zoya terpuruk dalam dosa besar.


"Santai sayang, ini rumah kita. Apa loe lupa? "


"Tidak!! ini bukan rumah ku!! " Sangkal Zoya berdiri dari duduknya menghadap Azlan yang masih duduk di tepi ranjang.


"Kalau gue bilang ini rumah kita! maka ini rumah kita! tidak akan ada yang bisa membantahnya! " ucap Azlan dingin.


Pria itu berubah menjadi dingin, sorot kehangatan yang Zoya lihat tadi, hilang berganti aurah ke kejaman.


"Biarkan aku pergi!! Aku tidak mau di sini!! "


Zoya melangkah keluar dari kamar, setengah berlari ketika matanya melihat pintu apartemen.


Zoya menekan nekan pasword yang Azlan beritahu kepadanya 6 tahun lalu.


"Salah? " gumam Zoya kembali mencoba memasukan pasword yang mungkin Azlan gunakan.


"Mau kabur?? " ucap Azlan dengan nada mengejek, Zoya pikir Azlan akan semudah itu membiarkan dirinya pergi dengan mudah, setelah pencariannya dan penantiannya selama 6 tahun.


"Dasar bajingan!! kamu tidak bisa mengurung ku seperti ini!!! " sengit Zoya berbalik menatap Azlan.


"Kenapa gak boleh?, Mengurung istri sendiri? "


"Tidak! kita sudah bercerai. Aku bukan istri mu lagi!! " sangkal Zoya menggeleng kuat, mama Febi sudah memberikan pada Zoya surat perceraian yang harus Zoya tanda tangan.


"Tidak! Gue tidak pernah menanda tangan surat perceraian ini"


Mata Zoya membulat, menatap surat pengajuan cerai yang Azlan pegang saat inu. Zoya melangkah cepat, merebut surat itu, memastikan jika Azlan tidak berbohong.

__ADS_1


"Gue gak akan pernah menceraikan loe"


"Tidak mungkin, kita sudah bercerai!! " lirih Zoya melangkah mundur, mama Febi dulu sudah meyakinkan Zoya bahwa semuanya sudah selesai, sehingga Zoya bisa pergi dengan tenang.


"Huh, istri durhaka"


Zoya tidak menyahut ucapan Azlan lagi, matanya masih menatap kertas yang belum Azlan tanda tangan. Seulas senyum terukir di bibir Zoya.


"Kalau begitu, tanda tangan sekarang! aku tidak mau hidup bersama pria yang berselingkuh dengan wanita lain ketika istri nya drop! "


Rahang Azlan mengeras, ia tidak pernah melakukan semua itu. Siska yang sudah merencanakan semuanya.


Dengan cepat Azlan menarik tangan Zoya, lalu menyeretnya kembali ke dalam kamar.


"Lepas banjingan!! "


"Azlan lepas!!!! Keparat!! lepasin aku!!! "


Seakan tuli, Azlan terus menyeret Zoya yang mengeluarkan makian untuk dirinya.


Zoya terlempar ke atas ranjang, dengan cepat Azlan meninggalkan dirinya, lalu menguncinya dari luar.


Brak. Brak. Brak.


"Azlan!!!! Azlan!!! buka pintunya!!! "


"Azlan!!!! "


"Azlan!!! pria bajingan!!! keparat!!! Buka pintunya" teriak Zoya terus memaki maki Azlan.


Azlan masih berdiri di depan pintu kamar Zoya, rahang nya semakin mengeras mendengar makian yang terus Zoya lontarkan.


"Loe milik gue" tekan Azlan melirik pintu, seolah ia melirik Zoya di dalam sana. Lalu pria itu melangkah meninggalkan apartemen yang hanya dirinya yang bisa memasukinya.


Azlan tiba di rumah besar Albisyam. Terlihat meika, mila dan Raya sudah menunggu di depan rumah. Azlan berjanji akan membawa Zoya malam ini pulang ke rumah.


"Azlan, Mana Zoya? " tanya Mila melihat Azlan sendiri keluar dari mobil.


"Iya nak, mana Zoya. Kamu bilang akan membawa Zoya malam ini"


"Mana Lan? "


Pertanyaan demi pertanyaan yang mereka lontarkan membuat Azlan semakin terlihat mengerikan. Air muka Azlan berbeda, rahangnya semakin mengeras, sorot mata tajam seolah mampu menusuk bola mata siapa saja yang menatapnya.


Azlan tak menggubris mereka, langkah kakinya berjalan lurus masuk ke dalam rumah.


"Ada apa dengan nya? bukankah tadi sore dia sendiri yang bersemangat memberihu Kita? "


Raya mengangkat bahu tidak tahu.

__ADS_1


"Seperti nya suasana Azlan sedang tidak baik" ucap Meika, lalu melangkah masuk ke dalam rumah menyusul putranya.


"Yuk ikut masuk" Raya menarik tangan Mila.


Azlan duduk di ruang keluarga, seperti biasa Azlan hanya akan duduk di sofa setiap pulang kerumah. Lalu pulang ke apartemen jika sudah merasa mengantuk.


Meika duduk di sebelah Azlan, menatap lembut putra nya.


"Apa sebenarnya yang terjadi? "tanya Meika mengusap lengan Azlan lembut.


Azlan tak menjawab, ia hanya menghela nafas berat. Memikirkan pertengkaran nya dengan Zoya tadi. Azlan merasa bersalah karena telah membentak dan mengurung Zoya. Namun ia juga merasa marah karena Zoya tidak mau bersamanya.


" Coba cerita, mana tahu bunda bisa bantu"


Mila dan Raya yang juga ada di sana penasaran menunggu jawaban dari Azlan.


Azlan menatap bundanya, lalu beralih menatap kedua wanita itu. Matanya berubah tajam ketika mereka terlihat begitu menantikan cerita Azlan.


"Tidak ada apa apa bun" ucap Azlan datar, lalu bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan ruangan keluarga.


"Ihssss, lagi penasaran, malah di gantung" kesal Raya.


...----------------...


"Pah, Zoe sudah ke Indonesia? "


Anggi menghampiri papanya yang sedang memasak di dapur, baru saja pulang dari Turki Anggi langsung ke rumah untuk bertemu dengan Zoe. Namun Zoe tidak terlihat di mana mana, kabar yang Anggi dapat dari Calista Zoe sudah pergi ke Indonesia. Karena kurang percaya, akhirnya Anggi mengecek sendiri di rumah nya.


"Dia sudah pergi selama 3 hari. Namun belum memberikan kabar" sahut Pram.


"Huh? bagaimana mungkin"


Anggi mengambil ponsel nya, lalu mencoba menghubungi Zoe.


"Tidak di angkat" lirih Anggi kembali mencoba menghubungi nya. Hasilnya tetap sama, tidak bisa di hubungi.


"Kenapa papa membiarkan dia pergi sendiri "


Jika Zoya merasa tidak baik di sana, siapa yang akan bertanggung jawab. Anggi benar-benar khawatir sekarang.


"Tidak apa apa, papa yakin dia baik baik aja di sana" ucap Pram sembari menuangkan sop ke dalam mangkok.


"Pa!! Zoe itu masih trauma. Bagaimana jika si brengsek itu menyakitinya!! "


"Tidak sayang, pria itu tidak akan menyakiti nya. Kau tidak lupa kan kasus mereka seperti apa? dan bagaimana usaha pria itu mencari Zoe"


Anggi terdiam, ia tahu jika selama ini Azlan terus berusaha untuk mencari zoya yang sudah merubah identitas nya.


Namun tetap saja Anggi tidak merasa nyaman jika tidak melihat dengan mata kepalanya kondisi Zoya.

__ADS_1


"Aku akan memastikan Zoe baik baik saja" lirih Anggi, lalu melangkah pergi dari sana.


Maaf kepada semua nya karena author lama up. Ada sedikit kendala๐Ÿ˜ญ tetap suport yah. Gift. like dan koment. Votenya jangan lupa ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2