
Sebelum mulai membaca, author minta maaf yah sama kalian semua. Karena author gak bisa banyak banyak up😖😖. Pekerjaan author lagi berlipat, jadi author bisa up 1 atau 2 episode. Tapi Author berusaha up setiap hari, dan up Sebanyak-banyaknya yang author bisa.
Selamat membaca.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kamar hotel berbintang, Zoya merasa pusing karena melihat Anggi terus mondar mandir di depannya.
"Kak... bisakah kamu duduk diam? "
Anggi berhenti, matanya melirik Zoya yang masih menatap bingung padanya.
"Coba pikirkan, pria yang membuat mu tersakiti adalah adik dari kekasih ku. " ujar Anggi terjeda, pria itu memejamkan matanya sejenak lalu membukanya kembali.
"Bagaimana, bisa aku tenang? "
"Aku, mengerti, tetapi kakak bisa berpikir sembari duduk. Aku pusing melihat nya"
"Benarkah? " tanya Anggi cengoh. Zoya mengangguk pelan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan duduk"
dengan polosnya pria itu duduk di sofa di depan ranjang.
"Hilang deh wibawah kakak kejam nya" pikir Zoya memutar bola matanya, Anggi benar-benar konyol.
Zoya bangkit dari duduk nya, menyambar tas yang tadi ia letakkan di atas nakas samping ranjang.
Anggi bangkit dan mencekal tangan Zoya.
"Mau kemana? "
"Aku mau pulang kak" jawab Zoya lirih.
"Pulang? ke rumah pria itu? "
Zoya mengangguk pelan.
"Tidak! kamu tidak boleh pergi ke sana! aku tidak mau kamu bertemu dengan nya lagi! "
"Tapi kak, bunda pasti mencari ku"
"Tidak ada bantahan Zoya, aku tidak memberi mu ijin untuk kembali lagi ke sana"
Anggi menarik tangan Zoya, lalu mendudukan kembali Zoya di atas ranjang. Kemudian pria itu kembali duduk di sofa.
"Apa yang harus aku lakukan? aku merindukan nya kak. Meski aku terluka melihat nya" batin Zoya.
Gadis itu menuruti ucapan Anggi, ia tidak pergi kemana mana sesuai perintah Anggi.
Setelah beberapa lama berdiam diri di dalam kamar hotel, akhirnya Anggi bangkit dari duduknya setelah mendapat sebuah pesan.
"Aku akan keluar sebentar"
"Iya, hati hati" sahut Zoya bisa saja.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengunci pintunya" ucap Anggi lagi, lalu pria itu melangkah keluar dari kamar.
Zoya tersentak, ucapan Anggi terakhir kali mengiang di telinganya.
"Tidak di kunci? " ulang Zoya meniru suara Anggi. Zoya dengan semangat turun dari ranjang, lalu menyambar tas nya dan keluar dari kamar hotel tersebut.
"Selamat sore nona, kami adalah pengawal anda"
Zoya menatap 3 pengawal yang mengenakan pakaian serba hitam berbaris di depan kamar hotelnya.
"Pantes gak di kunci" gerutu Zoya menekuk wajahnya. Anggi benar-benar menyebalkan.
Zoya tidak putus akal, ia tersenyum pada ketiga pria tegap itu. Memikirkan apa yang harus Zoya lakukan agar mereka tidak mengikutinya.
"Nona, jangan pikir kan apa pun, karena kami tidak akan membiarkan mu tanpa pengawasan kami" ucap salah satu pengawal yang Zoya tebak adalah ketua dari mereka.
"Apa terlalu jelas di wajah ku? " cicit Zoya pada pria itu.
"Pekerjaan kami memaksa kami agar bisa membaca mimik wajah, dan anda salah satu manusia yang ekspresip" jelas pria itu lagi, sejak tadi hanya dia yang bersuara.
"Baiklah, baiklah terserah kalian" Zoya melangkah keluar dari hotel, ia tidak peduli dengan ketiga pengawal itu yang terus mengikuti nya.
"Nona" panggil pengawal yang berjarak 2 merter
Zoya menghentikan langkah Zoya.
"Apa ke toilet kalian juga akan mengawasi ku? " dengus Zoya.
"Ti... tidak Nona, kami akan menunggu anda di sini"
"Bagaimana aku bisa kabur dari mereka"
"Mana di jaga terus lagi"
Zoya mengintip para pengawal yang masih setia berdiri di depan toilet, meski wajah mereka sedikit kaku karena banyak wanita yang menatap sinis kearah mereka.
"Dasar Anggi!!! " geram Zoya.
...----------------...
Anggi terkekeh pelan membayangkan wajah kesal Zoya ketika melihat pengawal di luar, kamar.
"Hahaha dia pasti kesal" gumam Anggi pelan, namun di dengar, oleh Raya.
"Siapa yang kesal beb? "
"Huh? tidak ada aku hanya asal bicara" kila Anggi tersenyum pada kekasihnya. Raya mengangguk pelan.
"Aku ingin bicara"
"Ngomong saja" lirih Anggi.
Raya sedikit gugup, masih melekat di ingatannya wajah dingin Anggi yang sebelumnya tidak pernah ia lihat.
"Zoya.... "
__ADS_1
"Urusan Zoe dan hubungan kita tidak ada hubungan nya" potong Anggi.
"Huh? " cengoh Raya pelan.
"Iya, kita akan tetap menikah akhir tahun ini. Namun Zoya tidak akan aku biarkan di sakiti lagi oleh adik mu"
"Hmm sayang, sebenarnya" Raya berusaha menjelaskan jika sebenarnya tidak seperti yang Anggi pikirkan. Namun Raya tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya.
"Sayang, udah. Aku gak mau bahas ini dulu" Anggi menggenggam tangan Raya erat.
"Tidak semudah itu!! "
Raya dan Anggi terkesiap, tangan yang tadi di genggam Anggi terlepas ketika Azlan memisahkan keduanya.
"Gue gak akan biarin loe deketin kakak gue! " tegas Azlan.
"Enak ajah! gak bisa gitu"
"Kenapa gak bisa, dia kakak gue! gue berhak menentukan siapa yang lebih cocok dengan nya"
Adu mulut itu terus terjadi membuat Raya menjadi pusing.
"Aduh udah deh gak usah debat mulu"
"Loe ikut gue pulang" Azlan menarik tangan Raya pergi dari sana, namun di cegat Anggi.
"kamu gak bisa ikut campur urusan aku dan Raya" tegas Anggi menarik tangan Raya dan membawanya ke belakang tubuhnya.
"Huh" Azlan berdecak, tangannya menyapu kasar wajahnya.
"Gak boleh ikut campur? " ulang Azlan tertawa mengejek.
"Tentu saja, ini urusan ku dan Raya"
"Lalu apa urusan loe ikut campur dengan urusan gue dan Zoya. "
"Tentu saja, dia adik ku"
"Wahhhh bagus sekali"
"Tapi Zoya istri gue!! dan loe gak pantes ikut campur!! dan loe bilang gue gak boleh ikut campur urusan loe dengan kakak gue, jika loe gak lupa! Seharusnya loe gak boleh ikut campur urusan gue dan Zoya!" ucap Azlan panjang lebar menahan emosinya.
"aku gak akan membiarkan Zoe menangis lagi" tekan Anggi menunjuk Azlan, tatapannya menajam mendengar klarifikasi Azlan tentang Zoya adalah istri nya.Kilasan kerapuhan Zoe mengiang di benak Anggi.
"Loe gak bisa ikut campur urusan rumah tangga gue! "
"Aku gak akan membiarkan kamu menyakiti Zoe, gak akan pernah! "
Anggi menarik Raya pergi dari sana, meninggalkan Azlan yang menggeram melihat nya.
"Eh, Azlan gue kencan dulu " cicit Raya melambay.
"Dasar gila!!! jika loe bukan kakak Zoya dan Pacar Raya. Sudah gue pastikan kepala loe hilang di tempat" Maki Azlan. Meski ia merasa sangat marah tetapi Azlan juga berpikir jernih, jika ia menyakiti Anggi maka kakak dan Istri nya akan marah dan sedih.
"Entah siapa adik nya di sini, pria itu lebih penting baginya dari pada gue! " lirih Azlan kesal pada Raya.
__ADS_1