Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
(SEASON II) Permintaan Boby


__ADS_3

Dea bangun pagi pagi sekali, ia ingin menghindari Bastian yang pasti akan menjemput nya nanti. Dea masih belum siap bertemu dengan Bastian yang semalam melamar dirinya.


Dea turun dari tangga,dirinya langsung melewati ruang tamu.


"Huh? " Bastian sudah nongkrong di sifa. Apa pria ini tidak pulang?.


Bastian mengalihkan pandangan nya dari ponsel ke arah Dea. "Kamu sudah mau berangkat? "


"Kamu kok cepat banget ke sini? " tanyaDea kaget, ia melangkah mendekati Bastian. Rencananya menghindari Bastian sudah pupus.


"Huh, cepat?. De lihat jam nya, sekarang udah jam 9.Aku rasa tidak terlalu cepat" Bastian menunjukkan arloji nya.


Mata Dea membulat, bagaimana mungkin ia salah melihat jam. Gadis itu berlari kembali ke kamarnya memastikan apa yang salah. Bastian tersenyum miring melihat Dea kembali berlari masuk ke kamarnya, dapat Bastian pastikan sebentar lagi Dea akan berteriak.


"Satu"


"Dua"


"Tiga"


"Bastian!!!!!!!! "suara Dea menggelegar. Bastian hanya bisa tertawa, ia sengaja merubah alarm Dea sebelum ia keluar dari kamar Dea. Bastian tanpa sengaja mendengar rencana Dea tadi malam. Makanya, sebelum pulang Bastian kembali masuk ke dalam kamar Dea dan merubah pengaturan alarmnya.


Tiba di kampus.


Dea akhirnya berangkat bareng Bastian, seluruh mata menatap ke arah mobil hitam Bastian. Siapa yang tidak tahu mobil mahal itu milik pria tampan.


Ada yang lebih mengagetkan mereka semua, Dea keluar dari mobil Bastian dengan pria itu yang membukakan pintunya. Mereka semua menganga, mereka terlihat sangat serasi ketika berjalan beriringan.


" Astaga, Quin & King. "


"Mereka sangat serasi"


"Dea terlihat sangat cantik!!! "


Semua gumaman mahasiswi maupun mahasiswa membuat telinga Zia memanas. Hadis itu juga hadir di antara para kerumunan mahasiswa itu. Zia menatap sinis kearah Dea. Kedua tangannya mengepal, dengan rahangnya mengeras.


"Kamu tidak boleh merebutnya dari ku!!! " lirih Zia.


Sementara Dea di gandeng oleh Bastian menuju kelas, gadis itu merasa sangat risih dengan tatapan mereka.


"Kenapa jadi ramai begini sih" gerutu Dea, ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan.


"Sudahlah, nanti mereka juga akan bosan" sahut Bastian acuh, ia sudah terbiasa dengan suasana seperti ini.

__ADS_1


"Dea!! "


Langkah kaki Dea dan Bastian secara serentak berhenti melangkah, menatap Boby yang menghampiri keduanya.


"Ada apa Boby? " tanya Dea lembut, dan hal itu membuat Bastian tidak suka mendengar nya.


"Sorry kak, aku hanya perlu bicara dengan Dea" ucap Boby sopan.


"Bicara saja di sini" ucap Bastian dingin.


Boby melirik Bastian dingin, lalu dengan terpaksa ia harus berbicara dengan Dea di depan Bastian.


"Dea, tolong bantu aku. Mama ku sedang bakit, tadi malam penyakit nya kambuh. Dia mau bertemu dengan kami" ucap Boby dengan nada memelas.


"Tapi Boby... aku tidak bisa berpura-pura lagi"


"Tidak Dea, untuk kali ini saja. Jika mama ku sudah sembuh aku akan menjelaskan secara perlahan padanya" mohon Boby, ia benar-benar panik sekarang. Mamanya terus menanyakan Dea.


Dea melirik Bastian, meminta ijin apakah Bastian akan memberikan dirinya ijin untuk menemui mama nya Boby.


"Pergilah" lirih Bastian, walaupun sebenarnya ia tidak rela.


"Terimakasih kak"ucap Boby menunduk, lalu membawa Dea pergi dari sana.


" Huh... dasar, menyebalkan" gumam Bastian menghela nafas.


"Tante... " lirih Dea. Ia mendekat pada mama Boby. Wanita paruh baya itu terlihat sangat lemah, menatap Dea sembari berusaha tersenyum.


"Dea.... calon menantu ku" lirih mama Boby lema, lalu terkekeh pelan. Dea dan Boby saling melirik.


"Iya tante, ini Dea"


"Maaf yah sayang, tante membuat mu terbebani karena meminta menjaga Boby"


Mama Boby terlihat kesusahan untuk berbicara, namun ia terus memaksa agar bisa bicara.


"Seharusnya Boby yang menjaga mu"


"Udah tante, tante jangan banyak bicara dulu. Tante harus kuat dan cepat sembuh yah" ucap Dea menggenggam tangan mama Boby. wanita paruh baya itu menggeleng pelan.


"Tidak sayang, waktu tante udah gak lama lagi"


"Mama... jangan ngomong seperti itu! "

__ADS_1


"Ia tante... Tante pasti kuat!! "


"Dea... tante tahu kamu menyayangi Boby, Tante... juga tahu kamu tidak mencintai Boby sebagai seorang pria.. maaf... Tante.. udah buat kamu terbebani... Tante.. sangat bersalah sayang"


"Tante.. ud.. dah bila.. ng sama Boby... cinta tidak harus... memiliki"


"Tolong tetap... menjadi.. sahabat Boby.. jangan sampai berantakan... seperti saudara... "


Mama Boby semakin tersengal sengal, nafasnya mulai putus putus. Ia menatap Boby dengan aliran air mata.


"Ma.. ma gak bisa.. Terus bersama mu"


Tenn----------------


"Mama.... "


"Mama... " Bobby tertegun, matanya mengerjap tak percaya. Ia menggoyang goyangkan tubuh mamanya.


"Mama... jangan bercanda dong"


"Mama,, bangun mah!!! "


Dea menutup mulutnya tak percaya, mama Boby pergi di depan matanya.


"Boby kamu yang sabar yahhh" menenangkan Boby.


"Gak, De.. mama aku gak mungkin pergi"


Boby menepis tangan Dea, lalu berlari keluar ruangan mamanya mencari dokter.


"Tolong dok periksa mama saya, selamat kan mama saya dok"


Dokter pun mulai memeriksa mama Boby, wanita paru baya yang sudah kembali ke sisi-Nya.


Dokter menghela nafas, mama Boby sudah tidak ada lagi.


"Maaf tuan, nyonya sudah meninggal dunia" ucap sang dokter dengan berat hati. Bobby menggeleng kuat, ia memeluk sang mama yang sudah tak bernyawa lagi.


"Mama..... "


"Mama... maafin Boby... "


"Boby... " lirih Dea menahan isak tangisnya, menatap Boby dengan tatapan sedih, Dea dapat merasakan kepedihan yang Boby rasakan.

__ADS_1


"Mama.... " panggil Boby pelan, air matanya mengalir deras.Ia tidak peduli, mau di bilang pria cengeng atau apapun Boby tidak peduli.


...----------------...


__ADS_2