Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Aku tak kan membunuhnya!!


__ADS_3

"Gue mau ngomong sama loe! " ucap Zoya sambil menatap Azlan.


Azlan tak bergeming, laki-laki itu masih diam menatap makanannya yang berserakan. Zoya tidak berniat ingin menumpahkan makanan Azlan, tetapi Azlan lah yang tidak melihat Zoya berdiri di depannya.


"Azlan!! " Zoya meninggikan suaranya karena Azlan tak kunjung meresponnya.


"Loe gak liat makanan gue jatuh!! mubazir!! " bentak Azlan membuat Zoya sedikit tersurut, namun tidak membuat niat Zoya goyah. Gadis itu menarik Azlan ke tempat sepi dekat tangga.


Azlan menepis tangan Zoya,


"Ngapain sih ngomong harus ke sini segala"


Zoya masih saja menatap Azlan, gadis itu tidak tahu harus memberitahu Azlan bagaimana.


"Heh, loe mau ngomong atau mau liatin gue? " bentak Azlan membuat Zoya tersentak.


"Gue Hamil" gumam Zoya pelan.


"Huh?? Hamil? " ulang Azlan, lalu tertawa terpingkal pingkal.


"Loe kalau mau becanda, jangan yang beginian deh" ucap Azlan mencoba menetralkan tawanya.


"Gue gak becanda! gue serius! gue hamil" ucap Zoya lagi tanpa merubah ekspresi nya.


Azlan seketika terdiam, menatap lekat waja Zoya yang memang tidak terlihat bercanda.


"L.. loe serius hamil? " tanya Azlan pelan takut di dengar oleh orang lain. Zoya mengangguk pelan.


Azlan melangkah semakin dekat pada Zoya, menggaruk hidungnya mencoba untuk mencerna ucapan Zoya.


"Begini Zoya, loe tahu kan kita masih SmA? Masih banyak mimpi yang harus di gapai" jelas Azlan. Zoya tak menjawab, ia memalingkan wajahnya yang merasa malu dan hina. Zoya juga tidak mau putus sekolah, predikat dirinya sebagai siswi berprestasi tentu saja Zoya tak ingin melepaskannya.


"Gugurkan Bayi itu"


Seketika Zoya menggeleng kuat, ia tidak mungkin membunuh bayinya.


"Loe harus gugurin bayi itu Zoya, demi kita"


"Gak, gue gak mau"tolak Zoya.


" Demi kita"bujuk Azlan lagi memegang kedua bahu Zoya menatap lekat mata gadis itu.


Zoya menepis tangan Azlan. tersenyum miring menatap Azlan yang juga menatap ke arahnya dengan ekspresi tegang.


"Setelah gue berbuat dosa besar ini, dan sekarang loe nyuruh gue bunuh janin ini?? gue gak mau " ucap Zoya tetap menolak permintaan Azlan.


Azlan mulai kesal, tangannya terkepal menahan emosi yang kian memuncak. Namun ada yang aneh, Azlan merasa nyaman berada di dekat Zoya, aroma parfum Zoya terasa pas di indra penciuman Azlan.


"Terus mau loe apa? gue harus nikahin loe gitu? dan kita putus sekolah? " ucap Azlan mulai terpancing emosi, ia tidak tahu jalan pikiran Zoya seperti apa.


Zoya terdiam, dia tidak mau putus sekolah, dia juga tidak mau menggugurkan janin yang tumbuh di dalam rahimnya.


"Kenapa? gak mau kan putus sekolah? "

__ADS_1


Azlan menatap Zoya lekat, namun gadis itu memalingkan wajahnya.


"Ini satu satunya cara Zoya, untuk masa depan kita" ucap Azlan berusaha meyakinkan Zoya.


"Gak, gue gak mau gugurin janin ini" kekeh Zoya tetap pada pendiriannya.


"Percaya sama gue, lambat laun perut loe akan membesar dan semuanya kebongkar Zoya, loe dan gue bakalan di keluarin dari sekolah ini" ucap Azlan, Zoya tetap menggeleng tak berani menatap wajah Azlan.


"Arrkkkk" erang Azlan menarik rambutnya sendiri.


"Serah loe! " ucap Azlan dingin, lalu pergi begitu saja meninggalkan Zoya yang tersenyum miring, tangan Zoya terangkat untuk mengelus perutnya yang masih rata.


"Aku tidak akan membunuh mu yang tidak bersalah"


Zoya melangkah menaiki anak tangga menuju atap, gadis itu tak berniat kembali ke kelas.


*


*


Jam istirahat pun telah tiba, Nisa dan Mila bingung mencari Zoya. Sejak ijin ke toilet tadi Zoya tidak kembali lagi ke kelas.


"Kemana sih tu anak, suka banget ngilang ngilang" ucap Nisa.


"Aneh banget, Zoya gak pernah rela meninggalkan pelajar seperti ini sebelumnya" timpal Mila ikutan bingung.


Kedua gadis itu berjalan menuju kantin, perut yang sudah lapar harus di isi terlebih dahulu.


Ali dan Agai menutup kedua kupingnya yang terasa sakit. Menatap sinis pada gadis yang kegatelan menempel pada Azlan yang terlihat risih.


"Eh gendang pecah! bisa gak sih suara loe di kecilin. " ucap Ali.


Intan menatap Ali tajam, "Sirik aja loe! "


"Loe apaan sih nempel nempel! " ucap Azlan mendorong Intan menjauh darinya.


"Ihh Azlan, kok kamu gitu sih babe... " rengek Intan manja membuat Ali membuat ekspresi muntah. Sementara Agai hanya menggeleng melihat tingkah Ali yang selalu saja tak suka dengan kehadiran Intan, si gadis bule.


Tiba-tiba Azlan berdiri dari tempat duduknya, membuat ketiga siswa itu menoleh.


"Mau kemana? " tanya Agai tak di jawab oleh Azlan.


"Beb...... " Intan ikut bangkit, lalu menyusul Azlan.


"Dasar cabe" cibir Ali.


"Hati hati loe.. ntar jadi cinta" goda Agai.


Ali melirik tajam pada nya bersiap ingin menyerang Agai hingga kedatangan kedua gadis ini menghentikan serangan nya.


"Kok muka kalian murung gitu sih? " tanya Agai.


Nisa dan mila tak menjawab, mereka malah merebahkan kepalanya ke atas meja secara bersamaan.

__ADS_1


Ali dan Agai saling menatap, ada apa dengan kedua gadis ini?.


"Kalian kenapa sih? ketularan Zoya? " celetuk Ali asal membuat Mila dan Nisa mengangkat kepala nya, lalu menatap tajam Ali.


Pria itu bergidik ngeri, wajah yang murung mendadak berubah menjadi galak.


"Ehh sorry sorry" kekeh Ali nyengir.


"Memangnya ada apa sih, kok lemes gitu? " tanya Agai.


"Zoya berubah drastis, baru saja tadi sikapnya mulai kembali. Eh malah ngilang lagi. " kata Mila.


"Bahkan Zoya meninggalkan pelajaran pertama" sambung Nisa.


Agai sedikit kaget, siswi berprestasi dan sangat peduli dengan nilai seperti Zoya sangat mengejutkan melakukan hal itu.


"Ada apa sebenarnya antara mereka? " gumam Agai.


"Huh? antara mereka? " ulang Mila.


"Si Azlan juga berubah tuh" sahut Ali.


"Masa? " Mila tampak berpikir, memang sih kak Airaya kemarin menelponnya dan mengatakan jika Azlan sedikit berbeda dari yang biasanya.


"Misi baru nih" ucap Nisa.


"gue rasa ada hubungan nya dengan tour ke Bali" ujar Ali.


"Benar, perubahan jnji terjadi ketika tour di sana" sambung Mila.


Mereka akhirnya mendiskusikan sesuatu yang masih berstatus dugaan, sementara Zoya duduk menyender pada tembok atap sekolah yang sering di jadikan tempat tongkrongan bagi anak anak bolos. Matanya menatap lurus pada langit biru yang seolah olah menertawakan hidupnya.


Zoya mulai memikirkan apa yang akan terjadi jika kedua orang tuanya mengetahui semua ini. Mereka pasti sangat kecewa mengetahui anak yang selama ini ia percayakan untuk menjaga diri telah hina.


"Maafin Zoya ma.... pa.. " lirih Zoya menitikan air mata yang tanpa di perintah mengalir dengan sendirinya.


Mengingat papanya, Zoya masih belum mengunjungi Brian di penjara. Entah bagaimana kondisi papanya saat ini.


tring~


Di tatapnya ponsel yang menyala pertanda ada pesan masuk. Zoya meraih ponsel yang tergeletak di samping nya.


Sebuah pesan dari sang mama, de gan malas Zoya membuka pesan itu.


mama😘


Besok mama pulang, kita jenguk papa sama sama.


begitulah isi pesan singkat yang febi kirimkan, tidak ada kata kata yang menanyakan kabar putrinya. Bahkan pesan ini terlihat seperti spam notifikasi yang membuat hati Zoya tertusuk tusuk beribu jarum. Zoya merasa tak ada yang peduli dengan nya di dunia ini.


Bagai mana?? yuk komen!!! aku mau tahu pendapat kalian tentang kisah Zoya dan Azlan😢 yuk komen yang banyak!!!


...T E R I M A K A S I H...

__ADS_1


__ADS_2