
Bastian masih melancarkan aksinya, hingga permainan singkat itu terhenti karena sebuah ketukan pada pintu ruangan Dea.
Tuk!! Tuk!!
Dea tersadar, gadis itu membuka mata nya dan langsung mendorong dada Bastian. Nafas nya terengah, Dea langsung memberikan jarak dari tubuh Bastian.
"Bajingan!!! " maki Dea, lalu melangkah menuju pintu.
"Lagi ngapain sih, kok lama banget. " gerutu caca kesal, Dea membuatnya harus menunggu lama di depan pintu Dea.
"Aku... aku... "
Dea mulai panik, ia tidak tahu harus mengatakan apa.
Dea melotot, kepala nya celingak celinguk mencari keberadaan Bastian yang sudah tidak ada di sana.
"Cari apa? " tanya Caca bingung.
"hooaamm..... aku tadi tertidur kak" kila Dea pura-pura menguap.
"Benarkah? " Caca menyipit, ia mencium sesuatu yang tidak beres.
"Ah kakak ke sini ngapain? " tanya Dea mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya, aku kesini mau ngasih tahu kamu. Besok malam akan ada acara di rumah grandma" jelas Caca.
"Lah, kakak kan bisa menelpon aku, kenapa harus susah susah datang ke sini. " celetuk Dea.
"Apa salah jika aku ke sini? " dengus Caca.
"Bukan begitu....yah tapi kan ada teknologi, kenapa gak di pake gitu"
"Ah sudah lah, tadi aku sudah menghubungi mu, tapi kamu tidak mengangkatnya. "
"Benarkah? " Dea mengambil ponselnya, benar. Ada banyak panggilan dari Caca di sana.
"Maaf" lirih Dea. Matanya mencari cari dimana Bastian bersembunyi.
"Baiklah kalau begitu, aku ada janji sama pacar ku. " Caca beranjak keluar dari ruang Dea.
"Hati-hati" sahut Dea, lalu menutup pintu nya kembali.
"Kemana pria itu? " Dea memeriksa seluruh ruangannya, di balik meja, di balik tembok.
"Ahhh lega nya" Bastian muncul dari kamar mandi.
"Kamu dari tadi di dalam situ? " tunjuk ada pada bilik kecil itu. Bastian mengangguk bingung.
__ADS_1
"Ada apa? ... Caca mana? " Bastian mencari cari keberadaan Caca. ia sempat melihat Caca masuk ke dalam ruang Dea, namun perut Bastian tiba-tiba sembelit dan tidak bisa di tahan lagi. Tanpa pikir panjang Bastian langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Haa, aku pikir kamu bersembunyi tadi" lirih Dea menghembuskan nafas lega.
"Buat apa aku bersembunyi? " ucap Bastian acuh, sikapnya kembali dingin. Bastian berjalan mendekati meja Dea, mengambil ranselnya yang ia jatuhkan sembarangan ketika melakukan aksi nekat nya.
"Mau kemana kamu? " tanya Dea, Bastian sudah berada di ambang pintu.
"Aku mau pulang, kenapa? apa kamu mau melanjutkan yang tadi? " goda Bastian sembari mengedipkan sebelah matanya.
Seketika wajah Dea memerah. "Pergi lah sekarang! " Dea mendorong tubuh Bastian hingga keluar dari ruangannya, lalu menutup pintu cepat.
"Hah, tahu takut" cibir Bastian.
Dea duduk di meja kerjanya, ciuman yang sedikit panas tadi menggiang ngiang di benaknya.
Dea menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Jantung nya berdetak kencang, dwa benar-benar syok. Bastian sungai sudah gila.
"Ada apa dengan pria itu? " tanya Dea pada dirinya sendiri.
Dea menjadi ingat ketika Bastian lulus SD. Bastian memaksa Dea ikut ke sebuah tempat.
Dan tempat itu kini menjadi tempat pavorit Dea.
Flashback on
"Indah bukan? " ujar Bastian menatap danau itu. Airnya jernih, terdapat pepohonan rimbun di tepinya. Bastian menarik tangan Dea ke tepi danau, terlihat sebuah dermaga kecil yang seperti nya di sengaja di buat. Bentuknya sangan unik.
Dea menurut saja, ia mengikuti arah Bastian membawanya. Dea tetap dalam perasaan was was, tidak biasanya Bastian seperti ini, ia yakin Bastian merencanakan sesuatu.
"Dea.. " lirih Bastian pela.
"Apa? " ketus Dea, Bastian terkekeh mendengar jawaban yang selalu Bastian suka.
"Aku akan ke London" ucap Bastian pelan. Berharap Dea terkejut dan melarang nya.
"Apa urusannya dengan ku? kau pergi ke neraka pun aku gak peduli" balas Dea melepaskan tangan Bastian yang masih memegang tangannya.
"Aku tak akan pulang dalam waktu yang lama! " ucap Bastian keras. Membuat Dea menghentikan langkahnya namun tetap tidak menoleh padanya.
"Ketika aku pulang, pastikan dirimu tidak memiliki siapapun di hati mu! jika kau memiliki nya,aku tetap akan merebut mu dari mereka! " ucap Bastian dengan nada yang tegas.
"Aku tidak peduli" Dea tetap melanjutkan langkahnya, meninggalkan Bastian yang masih menatap punggung Dea yang semakin jauh.
"Awas saja jika kau tidak mendengarkan ku! " gumam Bastian tersenyum kecil, lalu menatap ke tengah danau.
Flashback off.
__ADS_1
Bastian masuk ke dalam rumah nya, mendapati mommynya sedang bermesraan dengan Dady.
Bastian menatap masam Azlan, bisa bisanya pria tua itu merayu mommynya di depan umum seperti ini. Ya meskipun tidak ada siapapun di sini.
"Momy... " Lirih Bastian.
Zoya mendorong tubuh Azlan yang memeluk dan mencumbu lehernya. Zoya merapikan kembali pakaiannya yang sempat kusut.
"Tian, kamu sudah pulang. "
"Aku sudah pulang sejak tadi momy" jawab Bastian malas.
"Ini gara gara kamu. aku jadi tidak sadar Putra ku pulang" ucap Zoya memukul pelan suaminya.
"Seharus nya aku yang marah, bocah tengil ini selalu saja mengganggu ku" gerutu Azlan kesal, ia melempar bantal sofa pada Bastian. Untung Bastian dengan sigap menangkapnya.
Bastian duduk di antara Azlan dan Zoya, dengan manja Bastian berbaring di paha Zoya, dan meletakkan kakinya di atas paha Azlan.
"Dasar manja! " dengus Azlan, namun tetap membiarkan kaki Bastian di situ.
"Dady... apa hubungan percintaan dady dan momy berjalan sangat lancar? " tanya Bastian tiba-tiba penasaran dengan kisah cinta orang tuanya yang terlihat sangat awet.
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? apa kamu sedang jatuh cinta? " tanah Zoya penasaran.
"Mana mungkin, pria dingin seperti nya, mana mungkin ada yang suka" cibir Azlan.
Pletak!
Zoya mendaratkan jitakannya pada kepala Azlan. Pria itu melotot tak percaya.
"Kamu ini, anak sendiri masih juga di katain" omel zoya.
"Momy, Dady. Kenapa kalian malah berantem sih. Tinggal jawab saja apa susahnya? " gerutu Bastian, ia menjadi kesal pada kedua orang tua ini.
"Maaf maaf " kekeh azlan dan Zoya pelan.
"Hmmm.... hubungan momy dan dady yah? " gumam Zoya sembari melirik Azlan, mereka saling melempar senyum.
"Iya momy, Tian jadi penasaran, kalian terlihat sangat awet sekali" sahut Bastian mengangguk.
...----------------...
Ada yang bisa menjelaskan pada Bastian, bagaimana kisah Zoya dan Azlan?
Silakan di jelaskan pada kolom komentar. Wajib yah!!! author mau tahu kesimpulan kalian semua tentang kisah suami istri itu.
Jangan lupa Like, vote, dan share. kalian adalah bagian dari author. Tanpa kalian author bukan lah apa apa.
__ADS_1