Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Pemandangan itu


__ADS_3

"Zoya, Loe gak papa? "


Angga membantu Zoya berdiri, ia sengaja berdiri di depan Zoya mengira Zoya melihatnya.


"Gue gak papa kok" balas Zoya membersihkan rok nya. Lalu menatap Angga seperti biasa, tidak ada yang special. Namun bagi Angga Zoya selalu special.


"Gue ke kelas dulu yah" ujar Zoya berlalu pergi.


Angga mengangguk, lalu berbalik untuk melihat ke pergian Zoya. Pria itu mengulum senyumnya, entah apa yang ada di pikirannya saat ini.


Di kelas tampak riuh, kabar pak Johar tidak masuk sekolah membuat mereka sangat bahagia. Setiap hari berkutat dengan rumus rumus yang sangat anak ips benci, atau membuat mereka stress.


"Kita di jurusan IPA atau IPS sih? " dumel Zoya karena merasa terlalu sering jam pelajaran nya kosong, bahkan lebih full anak ips belajar ketimbang mereka.


"Idihhh sesekali gak papa kali Zoya, biar otak kita beristirahat" sahut Nisa.


"Bentar lagi ujian, emang kalian mau dapat nilai 50? "


"OMG baby Zoya, kan ada loe. Jadi kita aman aman aja" kekeh Mila sembari memeluk erat sahabatnya itu.


"Ogah, gue gak mau lagi nolongin loe pada. Kalau kalian mau nilai bagus belajar yang baik sono"ucap Zoya sembari melepas pelukan Mila.


" Zoya"panggil salah satu siswi kelas nya yang duduk di sudut bersama beberapa siswi lain.


Ketiga gadis itu menoleh menatap siswi yang memanggil Zoya tadi.


"Ada apa? " tanya Zoya dengan nada biasa.


"Loe beneran pacaran sama Azlan? " tanya siswi itu lagi, terlihat tatapan teman-temannya tampak menunggu jawaban dari Zoya.


"Emang kenapa kalo Zoya pacaran atau tidaknya sama Azlan? " tanya Nisa Sinis.


"Gue kan nanya doang, kok loe yang sewot sih! " balas siswi yang diketahui bernama Siska.


"Iya, Zoya pacar abang gue. " jawab Mila.


Zoya kaget mendengar jawaban Mila, ia melirik Mila sebentar lalu kembali menatap teman sekelasnya itu.


"Gak usah kepo sama hubungan gue, kalo loe suka sama Azlan coba aja deketin" ujar Zoya terkekeh, mana berani mereka mendekati Azlan. Cowo dingin seperti Azlan hanya Zoya yang bisa hadapin.


"Menciutttt" sorak Nisa memperagakan gerakan meleleh dari tubuhnya.


Keempat gadis itu menatap Zoya sinis, terutama Siska yang mengepalkan tangannya.


Kelas IPA 1 terdiri dari 20 Murid, 13 siswa dan 7 siswi. Kejuaraan kelas selalu di pegang oleh Zoya, Adit dan Mila mereka selalu saja memegang formasi 1,2,3. Nisa?? jangan di tanya, masuk ke dalam rangking 10 besar sudah membuat gadis itu bangga.


"Jam terakhir kita masuk gak yah? " tanya Nisa.


"Kenapa? "


Zoya dan Mila menatap Nisa penuh tanya.


"Gue mau ajak kalian nonton!!, udah lama kan kita gak bersenang senang" lirih Nisa lemes.


"Bener tu, udah lama kita gak habiskan waktu bersama" celetuk Mila.


"Gimana kalau kita hari ini nonton? " usul Nisa yang di setujui oleh Mila, mereka menatap Zoya penuh harap. Menunggu gadis yang tampak menimbang nimbang permintaan sahabatnya.


Zoya ingin pergi, namun ia sedang hamil. tidak mungkin Zoya pulang larut malam. Karena jika sudah bersama mereka Zoya akan lupa waktu.

__ADS_1


Yang paling Zoya pikirkan adalah bagaimana caranya meminta ijin pada Azlan agar ia memperbolehkan Zoya pergi.


"Lihat nanti deh" jawab Zoya.


"Alaaa Zoy, sesekali doang masa loe gak mau. " rengek Nisa.


"Ijin sama Azlan? " tebak Mila. Zoya mengangguk pelan.


"Pacaran berantem gitu juga, masih aja ijin ijin" gerutu Nisa.


"Yaudah deh mumpung lagi gak masuk gue cari tuh bocah dulu" ujar Zoya bangkit dari tempat duduknya.


"Loe kan ada ponsel, kenapa gak kirim pesan aja? " ucap Nisa.


Zoya menggaruk tengkuknya yang gak gatal, mau ngirim pesan kemana? orang Zoya tidak mempunyai nomor ponsel suami galak nya itu.


"Lebih baik jumpa langsung, biar muda nge bujuk nya" ucap Zoya beralasan.


Zoya keluar dari kelas, mencari cari keberadaan Azlan yang ia ketahui tidak berada di dalam kelas. Kelas IPS sedang berolahraga, terlihat oleh Zoya beberapa siswinya mengenakan baju olahraga yang berkeliaran di lapangan.


"Kemana pria bodoh itu" dumel Zoya, ia merasa lelah mengelilingi sekolah mencari keberadaan Azlan.


Cuma 1 tempat yang belum Zoya kunjungi, yaitu Atap sekolah. Tempat Azlan membawa Zoya ketika gadis itu kena Bully di kantin waktu itu.


Di lain tempat Azlan tengah melamun menatap langit biru, wajah Zoya berputar putar di benaknya saat ini. Entah bagaimana Azlan akan menghadapi Permasalahannya dengan Zoya, apa kontrak itu sudah tepat ia lakukan? atau salah?.


"Azlan! " panggil seseorang, membuat Azlan menoleh ke sumber suara.


"Ngapain loe kesini!! " ketus Azlan dingin, pria itu kembali mengalihkan tatapannya ke langit biru.


"Pak bobi nyariin loe tahu... " ucap Intan mengatur nafasnya yang terengah menaiki anak tangga menuju atap sekolah.


"Iiih Azlan, loe gak boleh gitu dong. kita lagi ambil nilai"


Intan melangkah mendekati tempat Azlan duduk, tepatnya di atas meja yang bila di ukur setinggi dada intan.


Gadis itu berusaha untuk menaiki meja itu agar bisa lebih dekat dengan Azlan, namun kakinya tiba-tiba terpeleset sehingga membuat gadis itu menggantung.


"Aduh aduhh Azlan!! tolongin gueeee" teriak Intan manja seperti anak kecil.


"Loe berisik banget sih! " gerutu Azlan kesal, lalu turun dari meja untuk membantu Intan.


Sless~ tubuh Intan hampir terjatuh karena terlalu kuat bergerak. Untung Azlan bisa menangkap tubuh ramping Intan. Posisi mereka seperti orang berdansa, Intan tersenyum menatap wajah Azlan yang begitu dekat dengan nya.


Ceklek~


Zoya mematung, pemandangan yang menjijikan tersaji di matanya. Ia merutuki dirinya mencari Azlan keseluruh penjuru sekolah hanya untuk melihat hal ini.


"Sorry" lirih Zoya berbalik pergi ketika Azlan melihat keberadaan nya.


"Zoya! " gumam Azlan melepaskan tubuh Intan.


"Aduhhh, sakit" rengek Intan mengusap bokongnya yang terhempas ke lantai.


"Azlannnnn" teriak Intan memanggil pria yang sudah melesat pergi.


"Udah romantis romantis nya, ehhh tu cewe malah ganggu" omel Intan.


Sementara Zoya berjalan cepat menuruni anak tangga, lalu melaju masuk ke kelasnya. Nisa dan Mila menatap Zoya menunggu jawaban apa yang Zoya bawa.

__ADS_1


"Gue ikut kalian" ucap Zoya cepat.


"Beneran???? "


"Yuhuuuu"


Nisa dan Mila bersorak senang, akhirnya mereka akan bersenang senang lagi.


"Adit!!! " panggil Nisa pada cowo yang menjabat sebagai ketua kelas itu. Adit menoleh, lalu menghampiri meja Zomian.


Di sudut sana, Siska tampak mengawasi pergerakan 3 cewe yang sok akrab dengan cowo cowo populer di sekolah nya. Siska merasa sangat iri dengan ketiga gadis itu.


"Loe gak akan bisa seperti mereka" celetuk salah satu siswi yang mendapati Siska menatap ke arah geng Zomian. Siska beralih menatap tajam siswi itu, lalu bangkit dari duduknya.


"Ada apa loe manggil gue? " tanya Adit berdiri di depan ketiga gadis cantik.


"Jam terakhir kita kosong gak? " tanya Nisa.


"Kenapa? " ucap Adit balik nanya.


"Udah deh, loe jawab aja. Kosong apa nggak? " desak Mila tak sabaran.


"Bentar gue lihat dulu" Adit mengotak atik ponselnya, menanyakan kepada bu mindi apakah jadi cuti hari ini atau tidak.


"Hmm seperti nya kosong, bu mindi masih di luar kota" jawab Adit memperlihatkan pesan dari bu mindi pada ketiga gadis itu.


"Bagus" ucap Zoya yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka.


Zoya berdiri dari tempat duduknya, lalu menggendong tas pinknya ke punggung.


"Aduhhhh perut gue sakit" teriak Zoya tiba-tiba sembari memeluk perutnya.


Mila mengernyit, lalu ikut mengambil tasnya dan menggendong nya.


"Eh loe kenapa Zoy? " tanya Mila panik.


Nisa tampak bingung, kelolaan nisa mulai kambuh. Adit menatap mereka datar, ia sudah hafal akal bulus Zoya.


"Aduhhh, awkk, sakit!! " rintih Zoya.


"Gue antar Zoya pulang dulu yah" ujar Mila memapah Zoya keluar kelas. Sementara nisa bengong dan masih duduk di bangkunya.


"Nisa!! buruan bantu nyetir" teriak Mila.


"Gue?? " tanya Nisa.


"Kagak, si Adit" imbuh Zoya geram.


"Loe tuh di panggil " sorot nisa menyikut Adit.


"Yang mau bolos kan loe dan Kedua sahabat loe. Mana mungkin gue yang ikut" bisik Adit geram pada Nisa takut di dengar oleh siswa lain. Adit memang ketua yang baik hati, mau aja tuh biarin rekannya bolos.


"Oh iya, makasih udah menyadarkan gue" ujar Nisa, lalu berlari mengejar Mila dan Zoya yang sudah keluar dari kelas.


Ketiga gadis itu girang, berhasil kabur dari kelas lalu masuk ke mobil Zoya. Zoya tidak ingin teman temannya tahu tempat tinggalnya jika ia tidak membawa mobil.


Bagaimana dengan Azlan?? yuk simak cerita selanjutnya 😘


...T E R I M A K A S I H...

__ADS_1


__ADS_2