Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Ketulusan hati Azlan.


__ADS_3

Sudah 2 hari Azlan bolak balik mendatangi rumah Zoya yang masih saja terkunci. Sedikit pun Zoya tak melirik Azlan yang berdiri hingga tengah malam di depan rumah nya. Berteriak memanggil manggil nama Zoya, hingga satpam perumahan datang mengusir Azlan, baru lah pria itu beranjak pergi.


"Kasihan Azlan" lirih Nisa menatap Azlan yang tengah duduk termenung di depan rumah. Sejak Zoya dan Azlan bertengkar, sejak saat itu pula Nisa, ali, agai dan Mila nginap di rumah Azlan.


"Gimana dengan angga? " tanya mila menatap ali penuh tanya.


"Bocah itu udah gue beresin, dan udah gue buat dia keluar dari sekolah" jawab ali santai. Mila mengangguk mendengarnya.


"Kita harus bantu Azlan" ujar Agai.


"Bantu gimana? Zoya saja tidak mau bertemu dengan kita" sahut Nisa bingit, mereka benar benar ini membantu Azlan.


Ayah Azlan sudah mencoba memberikan pengertian pada Azlan agar tetap tenang dan memberikan Zoya waktu. Namun Azlan tidak akan bisa tenang jika dirinya belum bertemu dengan Zoya dan meyakinkan gadis itu bahwa dirinya benar-benar mencintainya.


"Azlan! makan lah walau sedikit!! " titah Ayah Azlan penuh penekanan agar Azlan mendengarkannya.


"Azlan!!! Azlan!! " teriak nya lagi memanggil Azlan yang tiba-tiba bangkit dan meninggalkan ruang makan. Meika dan dan Raya hanya mampu menghela nafas, Azlan sudah seperti manusia tanpa jiwa.


Mila mondar mandir berusaha menghubungi Zoya, namun hasilnya tetap nihil. Ponsel Zoya masih nonaktif, sehingga panggilan mereka tidak masuk ke sana. Mereka tengah berkumpul di kamar Mila.


"Bun, gimana kalo kita menghubungi tante Febi? " usul Raya.


"Gak bisa sayang, tante febi tidak bisa di hubungi" jawab Meika, ia sudah mencoba untuk menghubungi temannya itu.


Azlan kembali mendatangi rumah Zoya, meskipun gadis itu tidak mau menemuinya.


"Non, den Azlan datang lagi" ucap bi Iyun memberitahu pada Zoya yang sedang duduk di tepi ranjangnya. Tak jauh berbeda, Zoya juga terkena dampak dari semua ini Terakhir kali Zoya makan ketika pertama kali pulang dan memakan rendang bi Iyun.


"Zoya!!!! gue minta maaf!!!!! " teriak Azlan, lagi lagi pria itu berteriak di depan pagar rumah Zoya.


"Zoya!!! gue tahu gue salah!!! tolong beri gue kesempatan untuk menjelaskan sama loe"


"Loe memang bahan taruhan gue!! tapi bukan itu alasan gue menrima semua ini!!! "


Azlan terus berteriak, hingga saat ini hujan deras tak mematahkan keteguhan hati Azlan.


"Non, hujan deras" lirih bi Iyun melihat Azlan dari jendela. Zoya tampak tak peduli, meskipun hatinya berkata lain.


"Biarkan saja bi, jika dia sudah lelah maka dia akan berhenti sendiri" balas Zoya datar, lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Bahunya bergetar menandakan Zoya kembali menangis, sesekali tangannya mengusap perutnya yang sudah terlihat membulat.

__ADS_1


"Zoya!!!! " teriak Azlan mulai bergetar, di bgun nya hujan mulai merasuk ke dalam tubuhnya.


Bi Iyun tidak tega melihatnya, segera bi Iyun berlari keluar dari rumah membawa payung untuk Azlan.


"Den, sebaiknya Aden pulang saja" suruh bi Iyun.


"Bi, tolong bi katakan pada Zoya, aku sangat menyayangi nya bi!! " mohon Azlan mengabaikan perminyakan bi Iyun.


"Nona,,, nona Zoya tidak ada di sini den" bohong bi Iyun.


"Gak, bibi pasti bohong, aku tahu Zoya ada di dalam" sangkal Azlan.


"Zoya!!!! gue tetap akan berada di sini sampai loe mau keluar menemui gue" teriak Azlan pasti.


Zoya mengintip Azlan dari tirai jendela kamarnya, ia tidak ingin terlihat lemah dengan mudah percaya omongan Azlan. Gadis itu masih kekuh tidak ingin bertemu dengan Azlan.


"Zoya!!! Zoya!! " teriak Azlan mulai melemah, langkah kaki yang hendak meninggalkan jendela terhenti, Zoya berbalik melihat Azlan yang ambruk di tepi pagar.


"Den!! Den Azlan!! " bi Iyun menepuk nepuk pipi Azlan agar tersadar dari pingsan nya, namun Azlan tetap tak bergerak.


"Azlan" lirih Zoya, gadis itu berlari keluar dari kamarnya, lalu keluar dari rumah menuju pagar di mana Azlan tak sadarkan diri.


Slep~ tubuh basa Azlan langsung memeluk Zoya yang panik melihat Azlan yang tak sadar kan diri.


Zoya yang kaget mendapat pelukan dari Azlan menegang, ia di tipu Azlan, pria itu pura-pura pingsan agar dirinya terpancing keluar.


"Gue tahu, gue tahu loe peduli sama gue" lirih Azlan memeluk Zoya erat, ia tak akan membiarkan Zoya pergi lagi.


"Lepasin gue bajingan!!! " bentak Zoya berusaha melepaskan diri dari Azlan.


"Gak, gue gak akan melepaskan loe lagi. loe harus dengerin gue Zoya. Gue sayang sama loe. Gue memang ikut taruhan itu, tapi bukan karena itu gue mencintai loe. gue sayat sama loe. gue suka sama loe sejak kita bertemu. " ungkap Azlan memegang kedua wajah Zoya agar menatap matanya dan memperlihatkan pada Zoya kejujuran dan keseriusan ucapannya.


"Gak! gue gak akan percaya dengan ucapan loe" tolak Zoya kembali berusaha melepaskan diri dari Azlan.


"Please Zoya, percaya sama gue!! semua yang gue beri sama loe itu adalah bentuk ketulusan gue Zoya!! " ucap Azlan terus berusaha meyakinkan Zoya.


"Gue sayang sama loe Zoya, gue memang bersalah karena taruhan itu. maafin gue" bisik Azlan mendekap Zoya erat.


"Non, sebaiknya kita bicara di dalam saja. hujan semakin lebat, gak baik untuk kesehatan nona dan janin nona" ucap bi Iyun khawatir, jika Zoya terlalu lama kena hujan bi Iyun takut Zoya sakit.

__ADS_1


Tanpa aba aba Azlan langsung mengangkat tubuh Zoya, lalu membawanya masuk ke dalam rumah besar Zoya.


"Siapa yang nyuruh loe bawa gue masuk!! turunin gue!!! loe harus pergi dari rumah gue!! " Zoya terus meronta ronta di dalam pelukan Azlan yang mengangkat tubuhnya.


"Loe mau berdosa besar karena melawan sama suami? " tekan Azlan membuat Zoya bungkam.


Jika sudah seperti ini Azlan sudah bisa mengendalikan Zoya, melihat Zoya yang berlari di bawah hujan sudah membuktikan jika Zoya juga mencintai Azlan.


Azlan menurunkan tubuh Zoya di atas sofa, baju keduanya sudah basa kuyup.


"Ini den handuknya" ucap bi Iyun memberikan 2 helai handuk besar. Bukannya mengeringkan tubuhnya, Azlan malah mengeringkan tubuh Zoya terlebih dahulu.


Zoya tak bergeming, ia pasrah ketika Azlan mengerikan rambut nya, lalu mengelap lehernya yang jenjang.


Azlan tampak kaku ketika mengelap leher jenjang Zoya yang menggoda imannya, mata mereka bertemu. Azlan terpanah, tangannya yang mengelap tubuh Zoya mendadak berhenti.


Dekat semakin dekat, jarak wajah mereka sudah berjarak beberapa centi lagi... nanaaaaaa.


"Gue harus mengganti pakaian " ucap Zoya memutuskan tatapan mata mereka lalu beranjak dari sana.


Azlan gak dapat berkata apa apa, pria itu hanya mengangguk lalu mengeringkan tubuhnya.


Jantung Zoya berdebar, ia hampir saja terlena karena tatapan mata Azlan. Gadis itu tidak mau terlihat begitu lemah di depan suami yang sudah membuat hatinya hancur.


Zoya mengganti bajunya dengan baju sm tidur lengan panjang. Perutnya yang membuat gee lihat sangat imut jika Zoya berdiri sembari berkacak pinggang.


Gadis itu kembali turun ke ruang tamu, terlihat Azlan sudah berganti pakaian yang entah mana ia dapatkan.


"Ini non, teh hangat bibi campur dengan jahe merah agar tubuh nona Zoya dan Den Azlan tetap anget dan tidak masuk angin" jelas bi Iyun, Zoya mengangguk sembari mengambil 2 gelas teh hangat itu.


"Minum kah" suruh Zoya dengan nada ketus.


Azlan dengan patuh mengambil meraih gelas teh anget yang di simpan Zoya di atas meja, lalu meminumnya secara perlahan.


Sepi, tak ada pembicaraan di antara mereka. Yang terdengar hanyalah suara dentingan atap yang tertimpa butiran butiran air hujan.


...----------------...


Langsung satuin atau kita lanjut ke konflik selanjutnya?? biar gak di bilang turun naik turun naik bahagia nya😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2