Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
(SEASON II) BINGUNG


__ADS_3

Dea bangun dari tidur, terlihat muka bantalnya masih sangat jelas. Bukannya mandi, Dea bangun tidur malah langsung ke meja makan.


"Dea!!! mandi dulu sayang!! baru turun!! " teriak Nisa ketika mendapati putrinya sudah duduk di meja makan.


"Bunda, p


ayah juga" protes Dea menunjuk Ali yang malah kembali tidur di atas meja. Sekarang ketahuan siapa yang jorok, Dea meniru kebiasaan ayahnya.


Nisa meletakkan mangkok besar nasi ke atas meja, lalu mendekati Ali.


"Aduh... aduh.. sakit sayang" ringis Ali memegangi telinganya yang masih di jewer Nisa.


"Mandi atau aku tanggalkan telinga ini! " ancam Nisa. Ali melirik Dea, semua ini pasti ulah dea yang mengadu.


"Kemana gadis nakal itu" dengus Ali, dea sudah tidak ada di tempat.


"Cepat mandi!! "


Ali langsung bangkit berlari masuk ke kamarnya, di jewer saja sakit, apalagi di tanggalkan. Ali bergidik ngeri membayangkan kepalanya tanpa ada telinga.


Di dalam kamar, Dea bukannya mandi gadis itu malah kembali tidur. Hari ini Dea akan membuat sejarah baru, bolos di jam pak jidan.


Sudah pukul 11 pagi, Dea masih saja bergelung di atas ranjang empuknya. Matanya masih terlihat enggan untuk terbuka.


Drrrrtt.... Drrttttt...


"Aduh!! siapa sih yang mengganggu tidur aku!!! " teriak Dea malas mengambil ponselnya, gadis itu mencoba mengabaikan panggilan itu.


Drttttt. Drrttttttttt.....


Ponselnya kembali berdering, mau tak mau dea memaksa matanya untuk terbuka, lalu mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menelfon.

__ADS_1


"Hallo.. " Sapa Dea malas.


"Dea!!!!! kami dimana, kenapa gak masuk!!! kita lagi nungguin kamu!!! " teriak Lisa. Dea menjauhkan ponsel itu dari telinganya, teriakan Lisa mampu membuat gendang telinga nya terasa pecah.


"Iya, iya aku ke sana"


Dea memutuskan secara sepihak, lalu melempar ponselnya ke sembarang ranjang. Dengan malas Dea bangun dari tidurnya, lalu bergegas mandi.


Dalam waktu 1 jam, Dea akhir nya tiba di kampus. Menghampiri kedua temannya yang sudah menunggu nya di kantin kampus.


"Nah ini ni, yang sejak tadi kita tunggu" ujar Celsi menatap kedatangan Dea.


"Ada apa sih, kalian ganggu aku aja tahu" gerutunya Dea sembari duduk di samping Celsi.


"Kamu gak tahu, Boby nyariin kamu sejak tadi" ucap Lisa.


"Tau ih, Si Bastian juga cariin kamu" sambung Celsi.


"Siapa? " tanya Lisa,


"Si Bastian" jawab Dea cepat, ia menatap kedua temannya dengan tatapan kaget.


"Barusan, katanya kalo kamu udah datang suruh ke Perpustakaan. " jelas Celci.


Setelah mendengar ucapan Celsi, Dea langsung bangkit dan bergegas menuju perpustakaan.


"Kenapa sih tu anak"


"Gak tahu" balas Lisa angkat bahu tidak tahu.


Dea memasuki perpustakaan, ketika memasuki ruang baca, Dea menemukan sosok Bastian yang tengah duduk di meja biasa. Dea menarik nafasnya pelan, lalu melangkah santai menghampiri Bastian.

__ADS_1


"Tian... "


"Dea!! "


Secara bersamaan Dea di panggil oleh Boby, Dea menoleh pada Boby yang ternyata juga ada di dalam perpustakaan.


Bastian yang mendengar namanya di panggil menoleh ke belakang. Dea ada di sini, namun pria itu juga ada di sini.


"Kamu kok bisa ada di sini? " tanya Dea pada Bisa, Dea melirik Bastian sebening. Pria itu ternyata menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Dea, apa sekarang kamu ada banyak tugas?? mama ku sudah tidak sabar bertemu dengan mu" Ucap Boby berbinar.


"Hmm... aku. -aku tidak ada tugas kok" balas dea bingung, Dea benar-benar bingung sekarang. Di sini hati Dea tidak mau mengecewakan Boby, namun di sisi satunya lagi Dea ingin bersama Bastian, walaupun masih gengsi.


"Dea.. " panggil Bastian.


Boby dan Dea menatap Bastian yang kini berdiri di depan Bastian.


"Sebentar lagi progres itu akan di mulai, kau harus sering belajar" ucapan Bastian menatap Boby yang juga menatap ke arahnya. Dari tatapan kedua pria itu, terlihat pancaran api saling beradu. Boby memperlihatkan ketidak sukaan nya pada Bastian, begitu juga sebaliknya.


"Tapi De, mama ku sudah menunggu mu" bujuk Boby berusaha mengambil hati Dea.


"Dea.. " lirih Bastian.


Dea menatap keduanya, oa benar bingung.


"Maaf Bas, aku sudah berjanji dengan Boby. Nanti setelah selesai aku akan menemui mu" ucap Dea. Ia memutuskan ikut dengan Boby.


'Ini keputusan mu de'e batin Bastian.


Dea menarik Boby pergi dari sana, pria itu tersenyum lebar. Dea memilih nya, Boby menatap Bastian dengan tatapan mengejek.

__ADS_1


__ADS_2