
"Selamat siang Pak, saya Zoe utusan dari NC group. " wanita ini terlihat berbeda, dimana ekspresi terkejut yang ia perlihatkan tadi.
Azlan bangkit dari duduknya, lalu berjalan mengitari meja kerja nya. Azlan duduk di ujung sudut meja. Menatap Zoya yang tampak terus mengalihkan pandangannya ketika mata mereka bertemu.
"Baiklah Zo.... Zoe" Azlan sengaja mempermainkan ujung nama Zoya, seolah olah mengolok akting Zoya.
"Kami mengalami sedikit permasalahan, dan CEO kami, Pak Pram. Mengutus saya kesini untuk menjalin... "
"Jalin hubungan suami istri" potong Azlan.
Zoya menatapnya tajam, dirinya sedang serius tapi Azlan malah terus bercanda.
"Tolong profesional pak" tegur Zoya yang di tanggapi dengan kekehan oleh Azlan.
"Gue akan melakukan semua yang loe inginkan, tapi ada 1 syarat"
"Apa? " hati Zoya mulai ber firasat buruk.
"Kembalilah sama gue, semua ini akan menjadi milik loe" Azlan menatap Zoya serius, ia benar-benar akan memberikan semuanya untuk Zoya.
Zoya mencebik, jika bukan karena paman Pram Zoya tak akan melakukan semua ini.
"Oke, kembali ke topik pembicaraan" ujar Zoya, wanita itu mulai membuka map yang sejak tadi ia bawa masuk ke dalam ruangan Azlan.
"Ini adalah keterangan tentang perusahaan kami, dan projek yang sedang kami gaet. Anda bisa mempertimbangkan kinerja perusahaan kami sebelum melakukan kerja sama ini" ucap Zoya sembari menyerahkan berkas itu ke tangan Azlan agar pria itu bisa membacanya. Sekuat tenaga Zoya berusaha menenangkan dirinya, menyelesaikan semua urusan ini dengan baik dan kembali ke Amerika.
Bukannya meraih map itu, Azlan malah menarik tangan Zoya hingga wanita itu terlonjak dan menempel pada dirinya. Azlan menatap lekat wajah yang berjarak 5 cm dari wajahnya.
"Apa yang anda lakukan pak! " Zoya mendorong dada Azlan, namun pria itu malah semakin mempererat Cengkramannya. Sehingga Zoya tidak bisa bergerak sedikit pun. Dengan gerakan cepat, bibir mereka sudah saling menempel.
Cup.
__ADS_1
Azlan membekap mulut Zoya menggunakan mulutnya. Awalnya Mereka sama sama terdiam, lalu secara perlahan Azlan menggerakan bibirnya hingga menimbulkan bunyi.
Zoya tak bergerak, ia sudah pasrah membiarkan Azlan melakukan apa yang ia inginkan. Gadis itu berusaha menahan birahi yang mulai bergejolak di dalam dirinya.
Azlan sungguh pintar memainkan nafsu Ziya, secara perlahan tangan Azlan yang tadinya meng cengkraman tangan Zoya kini mulai melemah, bahkan tangan satunya lagi beralih meng cengkraman dua gundukan bukit kembar Zoya.
Nafsu yang sudah lama terkubur kini bangkit kembali, Zoya terlena,gadis itu mulai terbuai oleh permainan Azlan. Pria itu pun tersenyum di sela sela aktifitas nya memainkan bibir dan Gunung kembar Zoya.
Zoya pun mulai membalas setiap pangutan azlan dan membiarkan pria itu menjelajahi setiap rongga yang ada di mulutnya. Lenguhan kecil terdengar samar di telinga Azlan. membuat Nafsu Azlan semakin memuncak. di tariknya paksa blazer yang Zoya pakai hingga butiran kancing berjatuhan di lantai.
"Akh" Zoya tersentak, tubuh bagian atasnya sudah tidak tertutup apa apalagi, Bra merah mudanya juga sudah di tanggalkan Azlan.
"Apa yang kau lakukan!! " bentak Zoya mendorong Azlan, lalu memungut blazer nya yang sudah tergeletak di lantai.
Azlan tidak akan membiarkan Zoya begitu saja. Di dekapnya Zoya dari belakang, menghujani leher Zoya dengan kecupan, kecupan yang meninggalkan bercak merah kebiruan.
"Ahhh" lenguh Zoya.
"Nikmati lah sayang" bisik Azlan, ia terus melancarkan aksinya.
"Loe milik gue!! dan akan terus menjadi milik gue!! " tekan Azlan dingin. Di baliknya tubuh Zoya, lalu di tariknya pengait rok span Zoya hingga terjatuh ke lantai. Secepat kilat ****** ***** Zoya pun ikut melorot.
Mata bulat itu melotot kuat, Azlan benar-benar hilang kendali. Zoya berusaha menghindari Azlan yang sedang membuka seluruh bajunya sambat menatap ke arah Zoya.
Kejadian 6 tahun yang lalu tidak boleh terjadi lagi, Zoya terus meyakinkan dirinya agar bisa terlepas dari Azlan.
"Loe gak akan bisa kabur dari gue! takdir loe adalah menjadi istri gue! "
Azlan menarik Zoya, lalu menghempaskan tubuh yang bergetar ketakutan ke atas sofa. Tidak menyia nyiakan waktu, Azlan langsung menghimpit tubuh Zoya.
"Azlan!! tolong jangan lakukan ini" mohon Zoya. Namun semuanya sudah terlambat, Azlan sudah di pengaruhi oleh nafsu. Matanya berkabut, di rentang kan ya kaki Zoya, sekali sentakan adik kecil Azlan masuk ke dalam sarangnya.
__ADS_1
"Ahh" lenguh Azlan, kenikmatan yang selama ini ia rindukan dapat ia rasakan kembali.
"Loe milik gue" bisik Azlan. Zoya tak lagi bergerak, ia pasrah, semua nya sudah terlambat. Kejadian itu terulang lagi, sudut mata Zoya mengeluarkan air mata.
Perlahan Azlan mulai menggerakan adik nya keluar masuk sarang, membuat Zoya melenguh tertahan. Entah apa yang selanjutnya terjadi Zoya tidak peduli lagi. Zoya mulai merespon gerakan Azlan di bawah sana, ia ikut berpacu mencari kenikmatan yang sejak tadi Azlan suguhkan.
"Yeah begitu sayang, akhirnya loe merasakannya" lenguh Azlan, ia kembali membungkam bibir Zoya yang langsung di respon oleh wanita itu.
Pergulatan mereka semakin panas, terdengar jerit menjerit sofa yang terus bergoyang tertekan oleh gerakan mereka.
Zoya menggigit bibirnya ketika merasakan gerakan Azlan semakin cepat, seperti nya pria itu akan mencapai puncaknya. Zoya pun berusaha mengimbangi gerakan Azlan, ia juga akan mencapai puncak.
"Yea baby, loe sangat pintar"
"Sedikit lagi, yea Zoya!! love you" bisik Azlan terus bergerak cepat.
Mendengar ungkapan itu, entah mengapa hati Zoya kembali luluh. Entah karena efek percintaan mereka, Zoya malah semakin mempercepat gerakannya.
"Ahhhhh~~" lenguhan panjang Azlan menandakan dirinya sudah mencapai puncak, begitu juga dengan Zoya yang terkulai lemas di bawahnya. Zoya mampu merasakan benih benih itu meluncur ke dalam dirinya, mungkin masuk ke dalam rahim yang dulunya sudah pernah hidup seorang bayi laki-laki.
Azlan ambruk diatas Zoya, keringat mereka bercucuran bercampur menjadi satu. Azlan memberikan kecupan kecupan kecil di seluruh pipi Zoya, sebelum memejamkan matanya. Membiarkan adik kecil nya masih tertanam didalam, ALan tidak berniat untuk mencabutnya.
Seulas senyum terukir di bibir Azlan, kenyataan yang ia ketahui Zoya masih mencintai nya. Gadis itu sangat mencintainya, hanya ego Zoya yang harus Azlan hancurkan agar mereka kembali bersama.
Setelah beberapa menit istirahat, Azlan mencabut adik kecilnya yang sudah menyusut, memakai kembali pakaiannya dan kembali tampil rapi. Azlan menatap Zoya yang masih terbaring lemas di atas sofa, wanita itu pasti sangat lemas, karena permainan Azlan tadi tidak lah lembut. berbagai emosi bercampur di dalam sana.
Azlan memakaikan pakaian Zoya lagi, meski blazer nya tak terpasant dengan rapi karena sudah kehilangan kancingnya.
Zoya duduk di sofa, terasa beberapa aliran benih mengalir keluar dari kewanitaannya. Wajat saja, Azlan sudah menabung benih itu selama 6 tahun. Tidak heran jika benihnya sangat banyak.
"Bersiap lah, loe akan menjalani hidup yang berat bersama gue! " bisik Azlan yang di akhiri kecupan nakal di daun telinga Zoya.
__ADS_1
"Bajingan" maki Zoya pelan, ia tidak sanggup melawan lagi, tubuhnya benar benar lemas sekarang.
...----------------...