
"Dea, kamu gak papa? " Lisa dan Celsi membantu Dea berdiri.
"Aku gak papa"
Bastian melenggang pergi, seolah olah tanpa dosa.
"Hei!! kau!! laki-laki yang tidak punya tata krama" teriak Dea.
"De... " lirih Celsi dan Lisa menarik lengan Dea agar tidak mencari masalah dengan pria tampan itu.
"Kenapa? apa yang salah! " dengus Dea menatap kedua temannya.
Basti berbalik, berdiri di hadapan Dea.
"Hai, Kak Tian" cengir Lisa melambaikan tangannya. Dea melotot pada Lisa yang malah menyapa pria menyebalkan itu.
"Kamu memanggil ku? " tanya Bastian santai.
"Memanggil? kau harusnya meminta maaf pada ku!! setelah menabrak orang, lalu membiarkannya seperti itu! " Dea menatap tajam Bastian. Nafasnya mulai tidak teratur karena emosi nya mulai memuncak.
Bastian berbalik, berdiri tepat di hadapan Dea.
"What?? aku rasa kamu terlalu lebai, jika kita melihat CCTV, kamu akan malu nanti! " balas Bastian. Sudah jelas Dea yang menubruk nya lebih dulu, gadis itu malah menuduhnya.
Depan kelas Dea sudah terlihat ramai, banyak mahasiswa yang berhenti menonton perdebatan meraka .Apalagi yang menjadi bintangnya adalah bunga kampus dan mahasiswa pindahan yang sedati trending di sosial media kampus.
__ADS_1
"Aku tak akan malu, karena aku tidak bersalah!! " sangkal Dea.
Lisa dan Celsi merapatkan diri pada Dea, membisikkan sesuatu yang membuat De sedikit tertegun.
"De, memang kamu yang tidak melihat kak Tian tadi" bisik Lisa, lalu nyengir pada Bastian.
"Ahh.. membuang buang waktu ku saja" Bastian pun berlalu pergi dari sana. Melayani gadis ini hanya akan menghabiskan waktunya yang berharga.
Dea tak lagi mencegat,merasa bersalah mungkin. Gadis itu malah melenggang pergi dari sana, kearah yang berbeda dengan Bastian.
"Wahh bakalan seruh ni" celetuk salah satu tema seangkatan Dea.
"Seru apa? " Lisa menatap tajam pada mereka.
Celsi dan Lisa menyusul Dea yang sudah berlalu jauh.
Dea melangkah pergi kantin, emosinya banyak terkuras. Perut nya mulai keroncongan.
"Eh Dea, tumben sekali kamu ada di sini" ibu kantin menatap bingung pada Mahasiswi pintar dan rajin ini. Suatu hal yang aneh jika mendapati Dea ada di kantin sepagi ini.
"Aduhh bu, aku lagi kesel ni. Kasih yang pedas pedas ya"
Ibu Ratna hanya mengangguk pelan, seperti nya Dea dalam mood yang tidak baik. Biasanya Dea akan sangat senang jika Bu Ratna mengajaknya ngobrol atau bercanda.
Bastian pergi ke ruang dosen, salah satu dosen memanggilnya untuk menemui nya.
__ADS_1
tuk!! tuk!!
"Masuk!! " sahut dari dalam ruangan. Mendengar hal itu, Bastian langsung membuka pintu yang tidak terkunci.
"Ada apa bapak memanggil saya? " tanya Bastian to the poin.
"Begini Nak Bastian, saya sudah melihat profil dan juga perjalanan karir anda. Jadi saya ingin meminta sedikit bantuan anda"
Pak jidan memberikan map yang berisi daftar progres yang akan kampus jalankan.
"Maksud bapak, apa? "
"Saya ingin mengajak anda untuk menjadi salah satu mentor bagi adik adik kelas anda"
Bastian melihat nama nama yang harus ia mentori, Mata nya terpaku pada satu nama.
"Apa saya harus mementori semua mahasiswa ini? "
"Tidak Bastian, anda hanya mementori mahasiswi terpintar ini. Dia yang akan menjadi bintang di progres ini" pak jidan menunjuk satu nama yang sejak tadi menarik perhatian nya.
Sebuah kebetulan, Bastian langsung menerima tawaran pak jidan.
"Dengan senang hati saya menrima nya pak"
...----------------...
__ADS_1