Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Dia kah itu?


__ADS_3

"Dasar gadis bodoh"


"ya ampun, pria ini lagi" batin Zoya. Menatap pria dingin itu, seakan tidak memiliki pekerjaan lain saja pria itu menghampirinya sampai ke tepi pantai.


"Ada apa? "


"Apa aku harus menjawab pertanyaan konyol mu itu? " cibir Anggi ketus.


Zoya menghela nafas berat, melawan Anggi hanya membuang buang tenaga saja. Lebih baik menyerah dan mengikuti apa ke inginan pria angkuh dan posesif ini.


"Kau harus pulang, berhenti bersikap konyol seperti ini" kata Anggi menatap Zoya dingin, lalu menarik tangan gadis itu secara paksa.


Oh ayolah, Zoya hanya ingin menikmati waktu istirahat nya dengan tenang. tapi pria ini selalu saja mengganggu nya.


"Masuk" titah Anggi setelah membukakan untuk Zoya pintu mobil.


Dengan malas Zoya masuk ke dalam mobil, lalu membiarkan anggi memasangkan sabuk pengaman nya. Sebenarnya Zoya ingin memasangnya sendiri, tetapi Anggi merebutnya dengan paksa dan memasangnya untuk Zoya.


"Mau ke mana? " tanya Zoya menatap pria yang sudah duduk di samping nya.


Bukannya menjawab, Anggi malah langsung menginjak pedal gas mobilnya membuat Zoya terhempas ke jok mobil.


"Dasar pria gila! " dengus Zoya.


Tak ada yang memulai pembicaraan, perjalanan di lalui dengan keheningan. Zoya menatap keluar jendela, menatap keindahan kota Washington yang membentang luas.


"Besok, aku akan ke Paris" tutur Anggi nyaris tak terdengar olehnya.


"Paris? wah itu kabar yang sangat bagus" sahut Zoya. tentu saja itu kabar yang sangat bagus, dengan perginya Anggi ke Paris akan membuat waktu indah zoya menjadi Damai.


"Kau juga ikut dengan ku! "


"Huh? " cengoh Zoya, ia tidak salah dengar kan? Anggi akan membawanya ikut bersamanya ke Paris??.


"Kau harus ikut, kau sudah di pilih sebagai utusan perusahaan papa" jelas Anggi singkat.


"Aku kan sudah menolaknya"


"Tapi tidak ada yang menerima penolakan mu" sahut Anggi lagi.

__ADS_1


Zoya mendengus kesal, ia benar-benar merasa gila hidup di lingkungan keluarga gila ini. Anggi, si pria dingin dan angkuh ini tak pernah membuat dirinya merasa tenang.


Zoya memikirkan cara agar ia tidak menerima perintah dari paman Pram, ia benar-benar tidak ingin berurusan dengan bisnis yang melelahkan. Namun otak cerdasnya harus di gunakan untuk hal hal yang berguna, seperti bekerja di perusahaan paman.


"Apa aku harus melakukan nya? " cicit Zoya dengan nada memohon.


"Apa aku memberikan mu pilihan? " oke, cukup. Zoya sudah tahu jawaban nya. Sepertinya ia harus melakukannya. Sebagai pengabdian kepada pamanya yang sudah menampung nya selama ini.


Mobil sport hijau sudah terparkir di depan rumah mewah bak istana itu. Zoya berjalan malas memasukinya, beberapa pelayan menunduk memberi hormat kepada mereka.


"Zoe, kau sudah pulang? mari makan. " Pram langsung menarik tangan keponakannya menuju meja makan.


"ini untuk mu dan ini untuk putra ku" Pram si duda itu memiliki hoby memasak, sejak istrinya meninggal mau tidak mau Pram harus bersedia menjadi ayah sekaligus ibu untuk Anggi.


"Wahhh paman, ini makanan yang paling enak" puji Zoya pada sop ayam.


"Makan lah yang banyak, agar otak mu menjadi lebih rilex. Karena mulai besok kau akan menjadi utusan perusahan menggaet 5 perusahaan itu"


Zoya mencebik, ia sudah tahu apa maksud dari jamuan lezat ini.


"Aku tahu ini tujuan mu"


"Kau juga harus berhenti mengomel, si tuan dingin! " sahut Zoya mendelik pada Anggi.


Pria dingin itu tersenyum tipis, meskipun membantah Zoya tetap menuruti apa yang Anggi perintah kan. Adik sepupu yang patuh, bati Anggi.


"Wah kalian makan tanpa mengajak ku yah" cibir Calista dengan nada merajuk, gadis itu menafik satu kursi di samping Zoya, mau duduk di samping Anggi mana berani. Ia takut membeku jika berdekatan dengan nya.


"Kau ikutlah makan kekasih ku" goda Pram pada Calista, pria genit itu meraih piring, lalu memberikannya pada Calista.


"Tentu saja kekasih ku" sahut Calista membalas candaan Pram.


Calista adalah sekertaris Pram, usia nya yang muda mampu menggaet jabatan tinggi itu.


"Oh iya bos, ini berkas berkas yang akan Zoya butuhkan" Calista memberikan map coklat padanya, Pram langsung memeriksanya, kepalanya mengangguk ketika merasa isi dari map itu sudah lengkap. Map itu ia berikan kepada Zoya, gadis itu yang akan melakukan semuanya. Otak cerdas Zoya pasti bisa melakukan semua ini.


"Ambil jika kau tidak ingin aku ikat di pinggang ku" tutur Anggi setengah mengancam. Calista saja bergidik ngeri mendengar ucapan bos muda nya itu.


"Iya iya! aku akan melakukannya" dengus Zoya terpaksa mengambil map ciklyitu, lalu menyimpannya ke dalam tasnya.

__ADS_1


"apa kau puas? "


"Bagus" sahut Anggi.


Pram tersenyum melihat kepatuhan Zoya pada puteranya, Meskipun terlihat kejam, sebenarnya Anggi sangat menyayangi Zoya. Pria itu sangat marah ketika mendengar cerita Zoya di masa lalu. Sejak saat itulah Pram berubah posesif kepada adik sepupunya itu. Mereka berdua adalah pewaris tunggal yang tersisa.


...----------------...


Azlan tiba di Paris, tepatnya di bandara Charles de Gaulle. Mobil mewah terparkir menunggu kedatangannya.


"Bos, supir sudah menjemput kita" ucap Malik memberitahu Azlan, pria itu berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu mobil untuk Azlan.


Azlan masuk ke dalam mobil, duduk dengan angkuh tatapan tajamnya tertutupi oleh kaca mata hitam yang melekat di sana.


Mobil melaju cepat, membawa Azlan ke sebuah hotel tempat pertemuan nya dengan Ceo GV Group. Bukan tanpa alasan Azlan menerima undang mereka, pria itu berniat mencari tahu tentang sebuah perusahaan yang telah berani beraninya menghancurkan anak perusahaan nya yang berada di Paris.


"Silakan turun tuan! " ujar Malik lagi setelah membukakan pintu. Malik sekarang dalam mode anak buah Azlan, jadi pria itu harus bersikap formal dan profesional.


Ketika Malik sedang berbicara dengan resepsionis, Azlan mengedarkan matanya menatap sekeliling hotel.


Azlan tercekat, tubuhnya seketika menegang. Wanita yang selama ini ia rindukan, wanita yang selama ini ia cari tengah berdiri sembari menunggu lift.


Azlan menatap gadis itu lekat, kakinya bergerak tanpa ia perintahkan. Langkah kaki Azlan semakin cepat ketika gadis itu mulai masuk ke dalam lif.


"Zoya!! " panggil Azlan. Namun pintu lift sudah tertutup rapat seakan menyembunyikan gadis itu dari Azlan.


Azlan menekan tombol lift agar terbuka kembali dan membiarkan Azlan bertemu dengan wanita yang sangat ia rindukan itu.


Azlan merasa ini bukan mimpi, matanya benar-benar tidak salah bahwa wanita yang ia lihat tadi adalah zoya. Istri yang selama ini ia cari.


"Bos, kau mencari siapa? " tanya Malik bingung, Azlan tiba-tiba berlari mendekati lift yang sudah tertutup.


"Dia kah itu? " batin Azlan.


...----------------...


Menurut kalian itu zoya atau tidak?


Jangan lupa, Like, Vote, dan komen yah. kalian adalah semangat terbesar ku😘😘

__ADS_1


__ADS_2