Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
(SEASON II) Membangunkan Bastian


__ADS_3

Pagi menjelang, sinar matahari tampak terik. Para bule banyak yang sudah banyak berjemur di pinggir pantai.


Namun, di dalam sebuah kamar masih bergelung manja pria tampan, namun masih berusia 7 tahun.


Zoya sudah mencoba membangunkan Bastian, tapi bocah imut itu masih saja setia menutup kedua matanya.


"Apa masih belum bangun? " tanya Meika yang menyadari kehadiran Zoya.


"Belum bun, seperti nya bastian terlalu lelah, makanya masih tidur" sahut Raya.


"Apa yang membuatnya lelah, kerja anak bodoh itu hanya duduk dan duduk" cibir Dea.


"Dea, kamu tidak boleh seperti itu" tegur Nisa, Dea pun menutup mulutnya rapat.


"Biarkan saja dia tidur dulu" ujar azlan, pria ini baru saja selesai mandi. Azlan duduk di samping bundanya.


"Mau minum teh? " tawar Zoya, lalu menuangkan teh ke gelas ketika melihat Azlan mengangguk.


"Caca tahu gimana caranya membuat Ka Tian bangun" ujar Caca.


"Gimana caranya? " semua orang menatap ke arah Caca penasaran, termasuk Dea.


"Suruh aja Dea yang membangunkan. Caca yakin, kak Tian akan bangun"


"Jangan asal ngomong deh kak Caca" Dea menatap Caca kesal.


"Coba aja kalo gak percaya, mendengar suara Dea saja, Kak Tian pasti akan bangun" kekeh Caca.


"Tidak! " tolak Dea, semua orang menatap kearah nya, Seola mengatakan 'Ayolah Dea, bangunkan kebo itu'.


"Jika dia tidak bangun, bagaimana mungkin kita akan bermain ke pantai" desak Ali.


Dea mendengus pasrah, semua orang menyuruhnya melakukan hal ini.


"Baiklah aku akan membangunkan nya"


"Yeeee, " Sorak Caca dan Alisa.


Dea berjalan menuju kamar Bastian, dengan langkah berat Dea membuka pintu, lalu masuk ke dalam. Mata bulat itu menatap Bastian tidak suka.


"He! kebo!! bangun!! " bentak Dea.


Bastian mulai menggeliat, namun tidak berniat untuk membuka mata.


"Jika kau tidak ingin bangun aku akan menyiram mu! " ancam Dea. Langkah kakinya bergerak cepat menuju kamar mandi, membawa gayung berisi air ke tempat tidur Bastian.


"1"

__ADS_1


"2"


"3"


Byur!


Dea menyiram tepat di wajah Bastian, bocah itu menggapai gapai tangannya keatas.


"Akkhh tolong!! banjir!! banjir!!! " Bastian melompat dari tempat tidurnya, lalu berlari ke luar kamar memanggil mommynya.


"Momy!!! momy!! "


"Hahahah... rasain" cibir Dea tertawa puas.


"Lah Bastian, kamu kok basa? " Zoya menatap putra nya yang terengah menghampiri nya.


"Basah? " ulang Bastian menatap tubuhnya. Ia baru sadar jika dia baru saja di kerjai.


"Bahahaha" Azlan tertawa keras.


"Papa!!! apa papa yang lakukan ini!! " marah Bastian menatap Azlan.


"Eh bukan!! papa sedari tadi duduk bersama mereka" Bastian menatap semuanya, ia merasa sangat malu sekarang.


'Dea' Bastian mencari keberadaan gadis kecil itu diantara mereka, namun tidak ia temukan.


"Pasti dia yang melakukan nya" geram Bastian dalam hati.


"Aku yakin kau pelakunya! "


Dea menatap Bastian datar, lalu berjalan mendekati Bastian.


"Kerbau yang tidak bisa di bangunkan, pantas mendapat kan guyuran! " lirih Dea tepat di telinga Bastian. Lalu gadis itu berjalan mendekati mama nya yang menatap takut pada Bastian. Sikap anaknya terlalu berani.


"Sayang, kamu gak boleh gitu" tegur Nisa.


"Gak papa Nis, Bastian pantas kok mendapat kan nya" imbuh Azlan.


"Bastian! sekarang mandi! " titah Zoya. Bastian pun mengangguk, matanya melirik Dea tajam, bukannya tidak takut, Dea hanya tidak ingin memperlihatkan kelemahan nya pada Bastian.


...----------------...


Halo guys, aku udah buat cerita baru nih. judulnya AKU HANYA SEBUAH PERISAI.


seperti biasa aku akan membuat dari masa SmA dulu. Masa masa SmA ini hanya sebentar kok. Karena akan dilanjutkan ke masa sudah dewasa😁😁


Bantu dukung cerita nya, biar author semangat nulisnya😘

__ADS_1



Sedikit cuplikan Episode 1.


"Kau anak baru? " tanya siswa yang mendekati Raisa.


"I-iya, apa kau mau memberitahu ku dimana Ruangan kepala sekolah? " ulang Raisa.


"Boleh aku mengetahui nama mu? " Raisa mundur sedikit, ia hendak pergi, mereka tampak ingin mengerjai nya.


"Akh!! lepas!! " pekik Raisa kaget ketika siswa itu menahan tangannya.


"Hei, bermain sebentar, nanti aku akan memberitahu mu di mana ruangan kepala sekolah"


"Tidak jadi, aku akan mencarinya sendiri" ucap Raisa berusaha melepaskan cekalan itu.


Bruk~


Seseorang datang, menghantam siswa yang mencekal tangan Raisa tadi. Siswa yang datang itu menarik Raisa dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan? " marah laki-laki itu pada siswa pengganggu.


"Tidak ada, aku hanya ingin mengajak anak baru itu bermain" jawab nya.


"Kau jangan ikut campur" seru siswa pengganggu itu lagi, menatap laki-laki yang sok jadi pahlawan itu.


"Jangan ganggu dia lagi jika kau tidak ingin mendapat masalah" ancam Laki-laki itu.


Raisa menatap takjub laki-laki yang menolong nya, senyum nya tak pudar pudar dari bibirnya. Bahkan Raisa tidak peduli lagi dengan pria yang mengganggunya.


"Ayo pergi, dia bisa melakukannya hanya karena dia ketua OSIS" dengus siswa pengganggu mengajak teman temannya pergi.


"Mau kemana kau tadi? " tanya laki-laki itu.


"Ke ruang Kepala sekolah" sahut Raisa gugup.


Tanpa menjawab lagi, laki-laki yang mengenakan baju yang sama dengan nya membawanya menuju ruangan kepala sekolah.


Setelah sampai di depan ruangan Kepala sekolah, laki-laki itu melepaskan tangan Raisa dan pergi begitu saja tanpa menoleh.


"Ini ruangannya"


Raisa mengangguk, senyum nya masih mereka. "Terimakasih" teriak Raisa menatap punggung laki-laki yang sudah menyelamatkan nya. Lalu mengetuk dan masuk ke dalam ruangan kepala sekolah setelah ada sahutan dari dalam.


Setelah selesai mengurus dokumen dokumen kepindahannya, Raisa langsung ke kelasnya. Waktu istirahat juga sudah selesai, karena itu ia menemui Jessie di kelas saja.


"Bagaimana, apa sudah selesai? " tanya Jessie menyambut Raisa ketika masuk ke dalam kelas. Raisa mengangguk pelan.

__ADS_1


"Maaf tidak menemui mu di kantin" sesal Raisa.


"Tidak masalah, yuk sekarang kita harus ke ruang musik" Jessie menarik tangan Raisa sebelum mereka telat masuk kelas pak Toto yang sangat galak.


__ADS_2