Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
(SEASON II) Menguji ke sabaran Dea


__ADS_3

Di depan kampus, Dea turun dari mobil Boby. Dengan berat hati ia harus menerima tawaran Boby untuk mengantarnya ke kampus.


"Aku pergi dulu" pamit Dea tersenyum simpul.


Boby mengangguk, ia melambaikan tangannya pada Dea melalui kaca mobil yang sengaja ia buka untuk melihat Dea.


"Ingat nanti yah, aku jemput jam 2 siang" peringat Boby sebelum melaju pergi.


Dea menghela nafas, ia tidak tahu harus berbuat apa. Boby terlihat sangat mengharapkannya. Apalagi nanti siang Boby memaksa Dea bertemu dengan mamanya yang sedang sakit.


"Apa yang harus ku lakukan? " gumam Dea. Gadis itu melangkah menuju perpustakaan, disana Bastian sudah menunggu nya.


Dea melangkah dengan santay, lalu duduk di depan Bastian.


tuk!! Tuk!!


Dea mengetuk meja di depan Bastian, agar pria itu menyadari ke hadirannya.


Bastian melirik sekilas, kemudian kembali melanjutkan membaca buku nya.


"Pelajari ini, lalu simpulkan" titah Bastian dingin memberikan sebuah dokumen lama dari perusahaan nya. Dea mencebik, ada apa dengan pria ini, kemarin manis, sekarang malah kembali cuek.


"Baiklah" lirih Dea pelan.


Kini malah Bastian yang gelisah, Dea malah menerima apa yang ia perintahkan.


"Laporkan dalam waktu 30 menit" tambah Tian.


"Huh? " Mata Dea membulat, menatap dokumen yang sangat tebal itu, lalu menatap Bastian dengan rasa tak percaya.


"Kamu menyuruh aku menyimpulkan semua dokumen ini? dalam waktu 30 menit? "


"Aku rasa kamu tidak tuli" ketus Bastian tanpa menoleh. Hal itu sangat membuat Dea mulai terbakar api emosi. Bayangkan saja, dokumen tebal ini harus di simpulkan dalam waktu 30 menit, sedangkan membacanya saja tidak cukup waktunya segitu.


"Aku gak mau! " tolak Dea.


"Ya sudah, silakan pergi, dan Jangan bermimpi akan memenangkan progres ini" balas Bastian acuh.


Dea mendengus kesal, kenapa dia harus di hadapkan dengan pria yang menyebalkan seperti Bastian. Dea beringsut lebih rapat ke meja, menatap Bastian dengan tatapan memohon.


"Tambah waktunya sedikit lagi yah" mohon Dwa dengan suara di buat selembut mungkin.


"Tidak bisa, dalam dunia bisnis memahami segala hal harus cepat. jika kamu lambat, maka orang akan lebih dulu mendahului mu! "


"Tapi.. kau pikir saja, dalam waktu 3o menit menyimpulkan semua ini mana cukup, membacanya saja tidakkah cukup Bastian" balas Dea menjelaskannya dan berharap Bastian memberinya sedikit kelonggaran.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu 35 menit Ya atau tidak terserah kamu" ucap Bastian tegas, lalu membereskan tas nya dan melenggang pergi keluar perpustakaan.


Dea menatap kepergian Bastian dengan mulut terbuka. bagaimana mungkin ada manusia sedingin Bastian di muka bumi ini.


"Dea.. " panggil seseorang.


Dea pun menoleh ke sumber suara. Dahinya mengerut, segerombolan pria yang Dea yakin bahwa mereka adalah junior nya.


"Ada apa? " sahut Dea.


Kelima mahasiswa itu berjalan mendekati Dea, lalu memberikan berbagai macam hadiah.


"Ehh sorry, tapi aku gak bisa menerima nya" tolak Dea secara halus.


"Tolong lah Dea, kami hanya ingin kamu menerima hadiah dari kami, kami sangat mengidolakan mu" lirih salah satu dari mereka.


Dea menatap wajah mereka satu persatu, seperti nya mereka terlihat tidak jahat, hanya sekelompok penggemar gadis cantik seperti Dea.


"Baiklah" Dea mengambil satu persatu hadiah dari mereka, lalu menyunggingkan senyumannya.


"Dea, kamu sangat pintar. Dokumen sebanyak ini kau pelajari sendiri? " kagum pria yang berbaju Kuning. Wajah nya tampan dan manis. Mereka semua tidak ada yang jelek, Dea sampai kasian melihat mereka yang mengagumi wanita seperti nya, padahal mereka bisa melihat wanita yang lebih dari Dea.


"Iya, aku harus menyimpulkan Semua ini dalam waktu 35 menit. " Lirih Dea kembali teringat dengan tugas yang Bastian berikan padanya.


"Yasudah, kalau begitu kami akan membantu mu" ujar si pria berbaju biru.


"Benarkah? apa kalian bisa? "


"Tentu saja Dea, kami satu jurusan dengan mu. Kamu adalah senior kami" kekeh Si baju biru lagi.


"Baiklah kalau begitu, kita akan bagi tugas" sorak Dwa senang, berdamai dengan penggemar sangat lah menyenangkan.


"Wahh, ternyata Dea gak sedingin yang kita kira yah. Wajahnya saja yang tampak dingin, ternyata sangat seru" gumam si baju coklat pada temannya, Dea yang mendengarnya hanya terkekeh pelan.


"Oh iya siapa nama kalian? " tanya Dea menatap mereka satu persatu sembari membagi dokumen itu sama rata.


"Jane, di Hen, Ray, Jian, Dan yang itu.. Ari" ucap pria berbaju biru memperkenalkan diri sembari memperkenalkan teman temannya.


Dea mengangguk kemudian tersenyum lebar. Mereka duduk bergabung dengan Dea, menatap serius lembaran lembaran dokumen itu sembari menuliskan kesimpulannya.


Waktu tersisa 15 menit lagi. Dokumen masih tersisa sekitar 5 lembar lagi. Setelah menyelesaikan semuanya, mereka mengumpulkan hasil pemahaman mereka, lalu mengumpulkannya pada Dea.


"Nah De, sekarang kamu tinggal menggabungkan semua kesimpulan ini tanpa harus membaca semua dokumen ini" sahut Raya. Dea mengambil 5 lembar kertas itu, lalu mulai menuliskan kesimpulan secara keseluruhan nya.


"Haaaa, akhirnya selesai juga" sorak Dea tersenyum lega.

__ADS_1


"Makasih yah semua, aku sudah merepotkan kalian" sesal Dea, ia sedikit tidak enak pada kelima pria itu.


"Tidak masalah De, kami senang membantu mu. Melihat mu tersenyum adalah Semangat bagi kami" ujar Ari yang di angguk oleh ke empat temannya. Dea menjadi kikuk, kelima pria tampan ini sejak tadi memujinya.


"Baiklah kalau begitu kami pergi dulu, kami ada janji dengan pacar pacar kami" keke Jane.


"oh iya, terimakasih banyak yah. Kalian sungguh baik" puji Dea.


Dea menatap ke pergi anak kelima pria itu, mereka pengagum yang baik, biasanya penggemar seperti itu bersikap egois, tidak seperti mereka. Mereka mengagumi Dea, dan mereka juga memiliki pacar. Suka mereka kepada Dea hanya sekedar kekaguman, bukan untuk memiliki. Dea sekarang adalah pengagum kelima pria itu.


"Terimakasih banyak Tuhan" syukur Dea, lalu merapikan kembali dokumen dokumen itu, lalu beranjak mencari Bastian.


Setelah berjalan sekitar 10 menit, akhirnya Dea menemukan Bastian yang tengah duduk di taman belakang kampus.


"Huh, ternyata kamu di sini" lenguh Dea terengah berjalan jauh.


"Kau terlambat" ucap Tian dingin.


"Huh? apa ini salah ku?? " decak Dea. sudah jelas dia yang sengaja menghilang, lalu Dea yang di salahkan. Kali ini Dea sudah cukup bersabar menghadapi Bastian.


"Sekarang itu tidak berguna lagi, " ketus Bastian menepis lembaran kesimpulan yang Dea buat, lalu mengambil sebuah buku dari dalam tas nya.


"Sekarang, pahami buku ini" ucap Bastian dingin, ia menatap Dea sebentar, kemudian berlalu dari sana.


"Akkhhhhhh..... Bastian!!!!!!!!!!!! " teriak Dea keras, kesabaran nya telah habis, pria itu bersikap seenaknya padanya. Dea berbalik mengejar Bastian yang sudah cukup jauh dari nya.


"Heh!!! pria bodoh!!! "


Brak!! "


Semua kembaran kertas melayang ke kepala Bastian, membuat pria itu menghentikan langkahnya.


Bastian memutar kepalanya sembari memegangi bagian kepala yang terkena tumpukan kertas. Mata Bastian melebar, mulutnya menganga. Dea berani melakukan ini padanya, sungguh luar biasa.


"Kau melempar ku??? " tanya Bastian masih dengan ekspresi yang sama.


"Apa yang membuat ku sampai tidak berani melakukan nya! " balas Dea, nafasnya terlihat tersengal. Dada Dea terlihat turun naik.


"Kau.-" tunjuk Bastian terhenti, ia menormalkan kembali ekspresi nya lalu melangkah mendekati Dea.


"Kau akan menyesali perbuatan mu" bisik Bastian tepat di telinga Dea. Pria itu menatap Dea lekat, bibirnya membentuk sebuah garis yang sudut kanannya terangkat sedikit lebih tinggi.


"Aku tidak takut! " balas Dea menantang Bastian.


"Kita lihat saja nanti, cepat pahami buku itu dan berikan padaku malam ini" tegas Bastian dengan suara tertahan, lalu pria itu berbalik dan meningkatkan Dea dengan Rmraut wajah merah, Dea menahan emosinya agar tidak meledak dan membuatnya malu di kampus. Bahkan karena ulahnya tadi mampu mengundang perhatian mereka yang mengagumi Bastian. Beberapa kelompok mahasiswi menatap tajam ke arah Dea.

__ADS_1


__ADS_2