Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
(SEASON II) Boss aneh


__ADS_3

Di dalam ruangannya Dea tampak serius, ia harus segera menyelesaikan apa yang Bastian perintahkan. Meskipun ijin terasa tidak masuk akal, tapi Dea tetap melakukannya.


Tuk!!! tuk!!!


Dea melirik ke arah pintu ruangannya, lalu menhayut santai.


"Masuk"


Kikan membuka pintu, kemudian menjulurkan kepalanya.


"Bos, tuan Boby mencari boss" ucap Kikan pelam, takut mengganggu Dea yang serius belajar.


"Astaga, aku lupa" gumam Dea mengingat janjinya dengan Boby, hari ini dia akan pergi menjumpai mama Boby.


Dea bangkit dari duduknya, lalu keluar dari ruangannya.


"Terimakasih Kikan" ucap Dea ketika berselih dengan Kikan di pintu.


"Sama sama bos" sahut Kikan tersenyum, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Dea menghampiri Boby yang duduk di meja paling sudut, meja itu selalu Boby yang menempatinya.


"Hai Bob" lirih Dea pelan.


Boby mengangkat pandangannya, menoleh ke arah suara Dea. Seketika bibir Boby melengkung membentuk sebuah senyuman yang sangat manis.


"Kamu sudah siap? " tanya Boby lembut, pria itu ikut berdiri di samping Dea.


"Aduh maaf Bob, aku lagi banyak pekerjaan, mentor ngasih aku banyak sekali tugas" ucap Dea dengan nada suara pelan, ia merasa tidak enak pada Boby. Tapi Dea tidak bisa meninggalkan tigas tugas itu, acaranya tidK lama lagi.


Boby menghela nafas, ia berusaha untuk tidK mempermasalahkan hal ini.


"Tidak apa apa Dea, mungkin besok" lirih Boby tersenyum terpaksa.


"Sekali lagi maaf yah Bob, aku janji deh. Setelah tugas ini selesai, besok kita akan menemui ibu mu" ucap Dea berjanji, seketika Senyum Boby semakin mengembang.


"Baiklah Dea, aku harap besok tidak ada hal lain lagi" Dea mengangguk cepat.


"Kalau begitu aku pergi dulu, semangat belajar nya" Boby mengusap rambut Dea lembut, lalu pergi keluar dari cafe itu.

__ADS_1


Dea menghembuskan nafas lega, ia kembali ke ruangan nya. Tinggal sedikit lagi, Dea akan menyelesaikan tugasnya.


Sementara di kamar nya, Bastian sedang duduk di balkon kamar nya. Teringat akan tujuannya pulang ke Indonesia dan menepat di sini.


Mommynya berusaha membujuk Bastian pulang, namun Bastian tidak mau. Ia beralasan sudah betah di negara luar itu. Lalu Bastian bertemu dengan Alisa, gadis yang selalu mengekorinya. Alisa mengingatkan Bastian pada seseorang yang sudah lama ia tinggalkan.


Malam itu juga, Bastian menyuruh anak buah nya untuk mengurus kepindahannya ke Indonesia. Bastian saat itu penasaran dengan sosok gadis yang selama ini menjadi pagar di hati nya.


"Huhh... seperti nya aku harus melupakan nya" lirih Bastian menghalau ingatan yang menyesakkan itu.


"Tian, kamu sedang apa? " Azlan masuk ke dalam kamar putranya. Azlan duduk di samping Azlan yang terlihat acuh dengan kehadiran dadynya.


"Mengganggu" cibir Bastian.


"Kau ini, dady datang membawa Damai, kenapa kamu malah menyambut ku dengan permusuhan" Dengus Azlan kesal pada putranya.


Terdengar hembusan nafas gusar dari Bastian, membuat Azlan mengerut kan keningnya, Azlan yakin ada sesuatu yang mengganggu Bastian.


"Apa ada masalah? katakanlah, aku akan mendengarkan mu" ucap Azlan pelan.


"Dady.. seperti nya aku harus kembali ke London"


"Huh? " spontan Azlan melebarkan matanya"belum juga sampai sebulan kamu di sini"


"Tapi, momy kamu pasti akan marah Bastian. Kamu kan tahu sendiri, momy ingin kamu menetap di sini" ucap Azlan berusaha menahan putranya agar tidak kembali ke negara orang.


"Aku rasa momy akan mengerti Dada.. " lirih Bastian, ia yakin Zoya akan mengerti apa yang ia inginkan.


"Dea, kamu sedang apa di sini? "


Dea terkesiap, kehadiran Zoya membuatnya kaget.


"Gak ngapa ngapain kok aunty" balas Dea berbohong.


Azlan dan Bastian ke luar dari kamar bastian, karena mendengar percakapan kedua wanita itu. Bastian kaget, melihat Dea ada di depan kamarnya.


"Ada apa ini sayang? " tanya Azlan.


"Gak papa kok uncle, Dea mau ngasih ini sama ti.. kak Tian" Dea memberikan buku sama flashdisk ke tangan tian.

__ADS_1


"Ini, semua tugas yang di perintahkan sudah ada di dalam flashdisk ini" ucap dea lalu pamit pulang.


"Kenapa dengan gadis itu? " Gumam Azlan menatap kepergian Dea.


"Entah, aku juga gak tahu" sahut Zoya. Bastian masih diam, menatap benda kecil itu dan buku yang ia berikan pada Dea tadi siang.


'Dia menyelesaikan nya'


Dea melajukan mobilnya kembali ke cafenya, hatinya merasa gunda gulana. Bastian akan kembali ke London, itu artinya ia tidak akan bertemu dengan Bastian lagi.


"Ah, kok aku yang gelisah sih. Terserah dialah mau kemana" gumam Dea mencoba menyadarkan dirinya, menepis pikiran yang terus menampilkan suara Bastian dan Azlan tadi.


"Boss, belum pulang? " Kikan mengikuti Dea yang duduk ke salah satu meja. Cafe sudah mulai sepi, karena jam sudah menunjukkan pukul 22.30.


"Boss, apa ada masalah? " tanya Kikan, Dea terlihat lebih sejak ia kembali ke cafe tadi, Dea hanya diam dan sesekali terdengar helaan nafas kasar dari nya.


"Huhh... Kikan, tutuplah cafe kita. Aku akan beristirahat pulang" lirih Dea menepuk pundak Kikan.


Kikan melongo, ada apa dengan boss nya malam ini?.


"Ada apa dengan nya? sejak tadi sikapnya terlihat aneh" gumam Kikan menggaruk garuk ujung keningnya. Kikan menutup dan membuka tokoh sendiri, karyawan satu lagi ijin karena demam.


Dea sudah pulang, terserah Kikan sendirian yang menutup tokoh. Sudah hampir tertutup semua, tinggal mematikan lampu dan mengunci pintu 1 lalu pintu 2.Pekerjaan Kikan akan selesai.


"Haaa, akhirnya selesai juga" lirih Kikan bernafas lega. Ia bergegas hendak mengambil motornya di parkiran. Tak sengaja mata Kikan menangkap sosok pria tengah berdiri di depan mobilnya.


"Tuan muda? " Gumam Kikan ragu ragu, namun pertanyaan nya terjawab ketika Bastian mengangkat kepalanya, lalu menoleh ke arahnya.


"Nahh bener, ini tuan muda" Kikan berjalan menghampiri Bastian. Menatap dari ujung kaki jingga kepala Bastian, gadis itu menatap Bastian dengan tatapan bertanya, sedang apa tuan muda berada di depan cafe selarut ini.


"Apa sudah tutup? " tanya Bastian dengan suara pelan.


"Udah tuan, baru saja saya menutupnya" jawab Kikan menunjuk cafe yang ada di belakangnya.


"Apa Dea sudah pulang? " tanya Bastian lagi.


"Sudah tuan, boss Dea sudah pulang sejak setengah jam yang lalu" jawab Kikan, ia semakin bingung.


"Huhhh... ya sudah aku pulang dulu. kamu hati hati di jalan" lirih Bastian tanpa semangat, kemudian masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Ada apa dengan mereka sih" Gumam Kikan menatap kepergian mobil Bastian. Tadi Dea bersikap aneh, dan sekarang Bastian juga melakukan hal yang sama. Mereka sungguh orang kaya aneh menurut Kikan. Gadis itu mengendarai motor matic nya, lali melaju pulang.


...----------------...


__ADS_2