Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Melihat mu aku sakit


__ADS_3

Mobil Azlan terparkir indah di depan rumah besar Albysyam. Pria itu keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk istri nya.


"Ayo masuk, mereka menunggu mu"


Zoya mengangguk pelan, jantung nya berdegup kencang. Zoya tidak pernah membayangkan hari ini akan terjadi.


"Kami datang" ucap Azlan ketika mereka memasuki rumah besar.


Sepi, tidak terlihat siapapun di sana.


"Kok sepi?"


Zoya mengerut, langkah kakinya mengikuti Azlan menuju ruang tamu yang terlihat sangat gelap.


Keributan kecil terjadi,


"Aduhh, geser sana Ali. "


"Apa, gue udah di ujung ini"


"Duhhhh kalian ngapain sih" terdengar seseorang memarahi keduanya.


"Ihhh sakit!!! "


Brak. Bruk.


Agai dan Ali terjatuh tepat di depan Zoya dan Azlan. Zoya terkesiap kaget.


Teg. lampu menyala.


Prok prok~


Duar~


"Selamat kembali Zoya arkan Asyid" teriak mereka bersama.


"He he he, Hai Zoya Azlan" sapa Ali dan Agai tercengir. Mereka berdua ter telungkup karena tak sengaja menginjak kaki mila, hingga keduanya berakhir seperti ini.


"Bundaaaa"


Meika merentangkan tangannya menyambut kedatangan Zoya, memeluknya erat menuangkan rasa rindu.


"Bunda senang kamu kembali"


"Terimakasih Bunda" balas Zoya masih dalam dekapan Meika.


"Bundaaaa, lepasin Zoya kami juga mau meluk Zoya" rengek Mila.


Meika terkekeh pelan, ia tidak sadar karena terlalu lama memeluk Zoya.


"Maaf yah"


"Gadis nakal" omel Mila, namun ia tetap memeluk Zoya.


"Maaf" lirih Zoya.


"Ihhh gue juga mau di peluk. " Nisa yang sejak tadi diam ikut memeluk keduanya.


Raya tersenyum senang, akhirnya kebahagiaan keluarga nya sudah kembali"


"Apa ayah ketinggalan sesuatu? " ujar seseorang.


"Telat yah, orang kejutannya udah selesai" sungut Bunda.

__ADS_1


"Lahhhh ayah baru aja mau ikutan beri kejutan"


"Ga papa ayah, Zoya seneng kok, ayah ada di sini" Zoya beranjak memeluk ayah mertuanya, mungkin?


"Terimakasih sayang, sudah kembali lagi"


Zoya mengangguk pelan.


"Ingat! jika Azlan mengganggu kamu lagi. Bilang sama ayah. Biar ayah hukum dia"peringat ayah sembari melirik Azlan tajam.


" Emang ayah gak takut, perusahaan ayah bisa bangkrut lo" sela Raya mengundang tawa.


"Benar juga, gak jadi deh" canda Ayah


"Hahahaha, gitu aja takut" sorak Ali dan Agai berjalan mendekati Zoya. Namun di tahan oleh Azlan.


"Mau ngapain kalian? "


"Yah mau meluk Zoya lah, kan rindu " balas Ali menepis tangan Azlan.


"Gue seneng banget loe kembali"


"Gue juga, bisa nikah deh" timpal Agai.


Keduanya sudah merentangkan tangan bersiap memeluk Zoya, ehhh malah Zoya nya kabur di tarik paksa Azlan ke dekapannya.


"Jangan harap kalian bisa memeluk istri gue"


"Istri? " ulang Zoya.


"Iya, loe kan istri gue"


"Mimpi aja kamu, aku gak mau! " tolak Zoya mendorong dada Azlan, lalu berjalan mendekati Bunda Meika.


Mereka semua kaget, Zoya masih belum menerima Azlan. Semburat sedih terlihat di wajah Azlan.


"Sayang, kamu kenapa? " tanya Bunda Meika.


Zoya tak menjawab, ia hanya tersenyum membalas ucapan Bunda.


"Bunda, maaf Zoya gak bisa kembali sama Azlan"


"Loh kenapa sayang, kalian belum bercerai"


Ayah dan mereka semua kaget mendengar penuturan Zoya.


Azlan berjalan cepat, memegang kedua bahu Zoya agar mata indah itu menatapnya. Namun Zoya malah mengalihkan pandangannya.


"Gue gak akan melepaskan loe! sampai kapan pun! "


"Tetap aku gak bisa balik lagi. "


"Tatap gue! apa alsan loe gak bisa balik lagi sama gue! "


"Iya sayang, kenapa? apa karena kejadian masa lalu? Azlan di jebak sayang, semua itu gak benar" sahut Bunda menjelaskan.


"Ia Zoya, Siska sengaja memanfaatkan kerapuhan loe dan mendatangi Azlan yang sedang mabuk" sambung Mila.


Zoya menggeleng pelan, bukan itu yang menjadi alasan Zoya tidak ingin kembali lagi pada Azlan.


"Aku gak bisa balik lagi sama kamu" ucap Zoya terjeda, menatap Azlan sejenak lalu kembali memalingkan wajahnya.


"Setiap kali aku melihat wajah kamu, hati ku menjadi sakit. Kamu sangat mirip sama dia"

__ADS_1


Azlan memeluk Zoya erat, namun wanita itu menepis nya dan menjauh dari Azlan.


"Aku gak bisa terus terusan bersama mu, hatiku semakin sakit setiap kali aku mengingatnya" lirih Zoya. Air matanya kembali lagi mengaliri pipi yang kini semakin tirus.


Tak ada yang mampu berkata lagi, mereka menatap iba pada Zoya.


"Bunda, Zoya gak benci sama azlan. Zoya bukan sengaja untuk pergi, tapi. " jeda Zoya menenangkan isak tangisnya.


"Tapi Zoya gak bisa terus terusan menatapnya"


tunjuk Zoya pada Azlan.


Azlan menghelah nafas berat, mungkin menjauh terlebih dulu akan lebih baik.


"Mau kemana? " tanya Ali.


Azlan tidak menjawab,


"Ikuti saja dia" titah Nisa.


Agai dan Ali menyusul Azlan. Kini tinggal Zoya yang sedang di tenangkan Bunda.


"Maaf Bunda, tapi Zoya benar-benar tidak bisa"


"Tidak apa sayang, kamu tidak perlu memaksakan nya. Perlahan saja" ujar Bunda Meika mengusap lembut pipi Zoya.


Nisa dan mila saling melirik, lalu mengangguk.


"Sekarang kamu bisa tinggal di sini, Bunda akan siapkan kamar untuk mu" tawar Meika.


"Tidak usah Bunda, Zoya bisa tinggal di hotel. " tolak Zoya tak enak. Jika ia berada di rumah ini, maka ia akan sering bertemu dengan Azlan.


"Loe di sini ajah, gue yakin Azlan tak akan membiarkan loe sendiri di hotel"


Benar juga, dari pada Azlan mengurungnya lagi di apartemen, lebih baik Zoya menerima tawaran Meika. Zoya mengangguk pasrah.


Meika beranjak untuk menyiapkan kamar tidur Zoya, di bantu oleh asisten rumah tangganya.


Di ruang tamu, Zoya masih terdiam membisu. Suasana Canggung menyelimuti hatinya. Lama tak bertemu dan tidak memberi kabar pada nisa dan mila membuat Zoya merasa bersalah.


"Aku minta maaf" lirih Zoya mulai bersuara.


"Huhhhh, kita gak marah kok sama loe zoy, tapi lain kali loe gak boleh ngilang gitu lagi"


"Kita khawatir loe ngilang gitu ajah. Meski tahu loe ikut nyokap loe. Tapi tetap aja kita khawatir"


"Kita kangen!! " teriak Mila dan nisa tak tahan lagi, keduanya berhamburan memeluk Zoya.


"Maaf, semuanya gak akan terulang lagi" sahut Zoya membalas pelukan kedua sahabat nya.


"Ekhem"


Zoya dan kedua sahabat nya merenggangkan pelukan itu, menatap bingung pada raya yang berdehem.


"Boleh gabung gak? " cicit Raya pelan ketika mereka menatap padanya.


"Tentu saja kak, kakak juga bagian dari kami" sahut Zoya, di angguki oleh Mila dan Nisa.


"Terimakasih"


Mereka akhirnya saling berpelukan, Zoya susah mampu menerima semuanya kembali. Namun, hanya satu yang Zoya belum bisa Terima. Azlan. Melihat wajah pria itu hatinya kembali sakit.


Alasan Zoya pergi adalah untuk menghilangkan semua kenangan pahit. Meninggalkan sakit di hati dan menuai kebahagiaan.

__ADS_1


Bukan bahagia, Zoya malah makin terpuruk dalam kenangan masa lalu. Hatinya merindukan pria yang sebenarnya sudah masuk ke dalam hatinya.


...----------------...


__ADS_2