
"Pagi bunda,"
"Pagi ayah"
Zoya menarik kursi di samping Zoya. Mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Loh, Mila mana? "
"Mila baru aja pergi di jemput Agai" sahut Raya di sela sela makannya.
Zoya mengangguk mengerti, lalu menatap makanan yang terhidang.
"Makanlah sayang, kenapa di lihat aja? " tanya Meika bingung.
Zoya menggeleng pelan, ia tidak nafsu dengan menu sarapan kali ini.
"Pagi semua" sapa Azlan, mengecup puncak kepala Zoya, lalu duduk di samping nya.
"Uwekkkk... uwuekkkkk" Zoya menutup hidungnya, aroma tidak enak masuk ke dalam indra penciuamnnya.
"Kamu kenapa sayang? " Azlan mendekati istri nya khawatir, namun zoya bergerak menjauh darinya.
"Jangan mendekat!! Kamu bauk!! " teriak Zoya.
Azlan menghirup aroma tubuhnya, bahkan ia menyuruh Raya ikut mengendus nya.
"Gak bau"
"Ihhh Azlan bau kak, masa kakak gak nyium sih" dumel Zoya masih menutup hidungnya.
"Kamu belum mandi yah, sana mandi dulu! "titah Zoya.
Azlan membulat, masa dirinya yang sudah tampan seperti ini di kira belum mandi.
" Kamu katarak yah? aku udah ganteng kaya gini malah di kira belum mandi"
"Iya loh, parfum kamu bauk" ucap zoya lagi.
"Sudahlah azlan, kamu ganti baju aja lagi" lerai bunda meka yang kasian melihat Zoya terus mual.
Azlan mendengus kesal, lalu beranjak kembali ke kamar untuk berganti pakaian dan mengganti parfum.
"Ada apa dengan istri cantik gue"
"masa sih parfum ini bau, padahal parfum ini pilihan dia" azka ngedumel sendiri sembari mengganti pakaian nya.
Azlan kembali ke ruang makan, di sana sudah tidak ada Zoya.
"Bunda, mana istri Azlan? "
Meika mengangkat bahu, sibuk menyuapi makanan ke mulutnya dan sesekali menuangkan air minum untuk sang suami. Merasa seperti di acuhkan, Azlan melewatkan sarapannya.
Kesal di rumah, Azlan malah mengamuk di kantor. Lihat lah sekarang semua pekerjaan pegawainya salah di matanya.
"Pak bos kenapa sih? " komentar pegawai yang baru saja di marahi oleh Azlan.
"Tidak tahu, sejak datang tadi wajahnya sudah cemberut seperti itu"
"Huh.. mungkin masalah menghampiri dirinya" sahut yang lain.
__ADS_1
Malik yang mendengar obrolan para pegawai melangkah cepat menuju ruangan bos yang baru saja di gosipkan.
Betapa kagetnya Malik melihat ruangan Azlan yang sudah berantakan.
"Astaga bos, bencana apa yang sudah terjadi di sini? "
"Sudah!! diam!! jangan banyak komentar"
Malik menutup rapat mulutnya, Azlan benar-benar terlihat berbeda sekarang. Perlahan Malik mulai membereskan ruangan Azlan.
"Malik" panggil Azlan.
"Siap bos! "
"Gue mau makan " ujar Azlan membuat Malik terkesiap bingung.
"Apa loe tuli? gue mau makan! " teriak Azlan lagi.
"Bos, kalau mau makan yah makan ajah" balas Malik, Azlan aneh.
"Gue mau loe yang beliin gue makanan pedas. "
Malik menunduk hormat, lalu bergegas keluar dari ruangan Azlan, namun belum sempat menutup pintu Azlan sudah kembali memanggilnya.
"Malik! "
Malik berjalan mendekati meja Azlan lagi.
"Iya bos"
"Gue mau Ali yang bawakan ke sini"
"Apanya bos? " tanya Malik lagi, ia bingung dengan perintah Azlan yang tidak jelas sejak tadi.
"Bosnya yang gak jelas sejak tadi" gerutu Malik, Azlan melotot tak percaya, sejak kapan Malik berani membantahnya.
"Loe udah berani membantah gue? "
"Enggak bos, sekarang aku akan mencari makanan dan meminta Ali memberikannya pada bos" Malik berlari keluar sebelum Azlan mengamuk padanya.
Malik memesan beberapa makanan yang mungkin Azlan suka, lalu menghubungi Ali agar ia segera datang ke perusahaan nya.
30 menit menunggu akhir nya Ali datang dan menghampiri Malik.
"Ada apa? ngapain manggil gue ke sini? "
Malik tidak menjawab, ia memberikan makanan yang sudah ia pesan tadi ke tangan Ali.
"Apaan ini? "
"Bos menyuruh mu memberikan makanan ini untuk nya" jelas Malik.
Ali melongo, sejak kapan Azlan mendadak seperti ini.
"Loe gila, Azlan meminta gue mengantar ini untuk nya? " decak Ali tak percaya.
"huh... " Malik menghembuskan nafas gusar.
"Loe bingung? aku lebih bingung. "
__ADS_1
"Sudah cepat antar padanya sebelum bos semakin marah"ujar Malik mendorong Ali menuju ruangan Azlan.
Ceklek.
Ali berjalan santai memasuki ruangan Azlan, pria yang sedang duduk santai di sofa. Ali meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja. Menatap Azlan datar.
" Ini makanan loe"
"Gue gak pesan" ketus Azlan.
"Apa?? " Ali melirik Malik tajam, ia merasa di bohongi sekarang.
"Bos, tadi anda meminta saya untuk mencari semua ini dan meminta Ali yang mengantarnya" protes Malik tidak mau di salahkan Ali.
"Aku tidak melakukannya" sangkal Azlan santai.
Mata Malik membulat, bisa bisanya Azlan melakukan hal ini.
"Hmm Ali, karena loe ada di sini tolong carikan aku rambutan hijau" titah Azlan.
Ali melirik Malik, "Lihat " ucap Malik melalui sorot matanya.
"Loe pengen makan rambutan muda? "
"Loe ngidam? " selidik Ali, terakhir Azlan bertingkah konyol seperti ini 6 tahun lalu ketika Zoya hamil.
"Ada apa ini? " Agai memasuki ruangan Azlan, matanya terkesiapmelihat Ali dan Malik berkumpul di sini.
"Tak ada yang mau menjawab? "ulang Agai.
Ali memberi kode, agar Agai mendekat padanya.
" suttt, sini... "
"Ada apa? " bisik Agai bingung.
"Gue rasa Azlan sedang ngidam" ujar Ali.
"Huh?? " Malik melirik Azlan yang sibuk dengan ponselnya. Lalu menatap kembali pada Ali dan Agai.
"Masa sih Azlan ngidam? kan dia gak hamil" Malik merasa Ali dan Agai konyol.
Pletak~
"Otak cerdas tapi gak tahu tentang hal ini! " omel Ali.
"Menurut dokter, yang mengalami ngidam tu bukan cuma Istri doang! " jelas Agai.
"Makanya cepat nikah biar tahu"
"Kaya loe udah aja" balas Malik kesal.
"Heh, mau sampai kapan kalian di sana? cepat cariin gue rambutan itu! " titah Azlan.
"Ii, iya bos" Malik menarik Ali dan Agai keluar dari sana. Mereka bertiga berkeliling mencari rambutan muda permintaan Azlan.
"Bos aneh aneh aja sih ngidamnya"gerutu Malik, sejak tadi mereka berkeliling mencari tokoh buah yang menjual rambutan mudah.
" Dasar Azlan, ada ada ajah permintaan loe"
__ADS_1
Mereka mencoba mencari ke perkebunan rambutan, siapa tahu ada rambutan yang baru berbuah.
...----------------...