
Malik masuk ke dalam ruangan Azlan, membawa map berisi laporan penting yang Azlan minta.
" Bos" Malik meletakkan map coklat di atas meja Azlan, lalu di periksa oleh Azlan.
"Bagus, persiapkan semua nya. Kita akan pergi ke sana" titah Azlan.
"Baik Pak" sahut Malik.
Azlan menatap lurus, ia akan berusaha sekeras mungkin untuk membahagiakan istrinya.
Azlan pulang kerumah lebih awal, ia akan melakukan perjalanan bisnis.
"Sayang, kamu udah pulang? " Zoya sedikit kaget melihat Azlan pulang lebih awal.
"Aku rindu sama kamu sayang" Azlan memeluk Zoya erat, membuat wanita hamil itu bingung.
"Hei sayang, kamu kenapa? "
"Doakan aku yah, " lirih Azlan.
"Aku selalu doain kamu suami ku" Zoya membalas pelukan Azlan semakin erat.
Azlan merenggangkan pelukan mereka, menatap lekat pada mata Zoya.
"Aku akan ke Jepang, anak perusahaan aku ada masalah di sana"
Zoya terkesiap, ia kaget dengan kabar yang Azlan ucapkan.
"Aku ikut yah" mohon Zoya.
"Gak sayang, kamu gak boleh ikut. Kasian nanti kamu kecapean" tolak Azlan lembut.
"Gak papa sayang, aku kuat kok"
"Sayang, aku pergi cuma 2 atau 3 hari aja kok, "
"Tapi... "
"Sayang, percaya deh sama aku. "
Azlan kembali memeluk Zoya, berusaha meyakinkan Zoya agar tetap tenang dan percaya padanya.
"Baiklah, aku akan menunggu mu di rumah. " lirih Zoya.
Sebenarnya Azlan tidak tega meninggalkan Zoya seperti ini, tetapi ia harus pergi sendiri ke Jepang.
"Kapan berangkatnya? " tanya Zoya menatap Azlan sendu, ia merasa tidak ikhlas membiarkan Azlan pergi sendiri.
"Jam 3 sore ini aku berangkat"
Zoya mengangguk pelan, memeluk suaminya semakin erat.
...----------------...
Mila berjalan cepat memasuki cafe, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Senyumnya melebar ketika mata indahnya menemukan seseorang yang ia cari.
__ADS_1
"Sayang"
Agai menoleh, lalu tersenyum.
"akhirnya datang juga" lirih Agai.
"kenapa? apa aku terlambat? "
Mila duduk di depannya, menatap sang pujaan penuh dengan cinta.
"Tidak sayang, aku sangat merindukan mu" Agai bangkit, lalu mencondongkan tubuhnya kearah Mila. Mengecup Puncak kepala Mila penuh kasih sayang.
"Astaga, bagaimana jika mereka melihatnya" teriak Mila tertahan, memperhatikan sekeliling Berharap tidak ada yang melihatnya.
"Heheh, tidak ada yang melihatnya baby"kekeh Agai.
" Ihhh kamu tu gak lihat tempat" gerutunya Mila merengut. Bibirnya manyun menggemaskan.
"Apa kita harus mencari tempat sepi, apartemen? " goda Agai, membuat Mila langsung memukulnya.
"Makin lama makin gila aku di sini" cibir Mila menahan malu, wajahnya memerah karena ulah tunangan nya.
"Kapan Anggi dan Raya menikah? " tanya Agai setelah menyelesaikan tawanya.
"Hmm aku lupa, tapi dalam bulan ini"jawab Mila sembari menyeruput minuman yang sudah Agai pesan.
" Si Azlan sama Zoya juga ikut menikah"
Agai tersedak mendengarnya, ia menatap Mila tak percaya. "Nikah gimana? orang udah bunting gitu"
"Haaha, sayang. Mereka itu merayakan pernikahan aja sayang. Bukan nikah lagi" kekeh Mila melihat wajah terkejut Agai.
"Hmmm.... " Mila tampak berpikir.
"Aku tidak mau, pernikahan kita di gabung sama mereka"
"Huh? bukannya kemarin pengen nikah masal? " sela Agai.
"Yahhhh, aku berubah pikiran" lirih Mila serius.
"Aku mau acara itu kita berdua yang punya. Jadi aku mau membalas Azlan dan Ali" jelas Mila dengan sorot mata serius. Agai tidak mengerti.
"Ahh, udah deh kamu gak bakal ngerti sayang" dengus Mila.
"Terserah ajah deh" lirih Agai pasrah.
Di dalam rumah Zoya duduk lesuh, kepergian Azlan membuatnya tidak bersemangat.
"Sayang, Azlan cuma pergi sebentar kok" bujuk meika, mencoba menenangkan Zoya yang terlihat sedih.
"Iya zoy, besok juga balik lagi. Kamu bisa tidur sama kakak." sahut Raya.
Bukan itu yang Zoya inginkan, wanita hamil ini hanya ingin berada di sisi suaminya. Sudah jauh baru terasa mau deket, dasar Zoya.
Raya menghubungi semua teman teman azlan, termasuk teman teman zoya.
__ADS_1
Ali dan Nisa datang bersamaan, "Azlan kemana? " tanya nisa pada Ali.
"Gak tahu, pria itu selalu saja buat rusuh"
"Haaa, kalian akhir datang juga" Raya menarik tangan Ali dan Mila.
"Lihat tu, zoya murung terus" Ali dan Mila mengikuti arah tunjuk mata Raya.
Zoya duduk di sofa seperti orang tanpa semangat, tidak mau makan, di suruh tidur tidak mau.
"Memangnya Azlan kemana? " tanya Ali.
"Dinas ke Jepang" sahut Raya.
"Zoya!!!!! " itu suara melengking calista. Gadis yang bersuara cempreng itu berlari menghampiri Zoya.
"Kamu kenapa? kok murung"
"Gak papa, aku gak papa kok" lirih Zoya merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Kasian banget, sih zoya" lirih Nisa pelan.
"Buruann hubungi Azlan! " ujar Calista.
"Tapi nomor nya gak bisa di hubungi"balas Raya.
"Udah deh, gak usah ribut. "
Raya dan yang lainnya terdiam, meski bisik demi bisik masih di dengar oleh telinganya.
"Aku rindu banget, padahal baru 5 jam dia pergi" batin Zoya.
Mila memasuki rumah, ia sedikit kaget melihat mobil Ali, dan Calista terparkir di depan.
"Kira kira ada apa yah? " gumam Mila.
"Gak tau, masuk ajah" balas Agai.
Mila mengerut, teman temannya mengelilingi Zoya. "Ada apa ini? "
Nisa menghela nafas, melirik Mila sebentar lalu kembali melirik Zoya.
"Lihat tu, si bumil lagi murung"
"Kenapa? apa ada yang membuat Zoya kaya gini? " tanya Agai ikut penasaran.
"Azlan pergi ke Jepang, dan Zoya merindukan nya" jawab nisa.
"Lah, kan tinggal suruh Azlan pulang" balas Mila enteng.
" Tapi, si Zoya ngelarang! "
"Kok di larang? kan itu solusinya" sahut Agai menggeleng tak mengerti.
"Azlan tidak bisa di hubungi, perjalanannya cuma 2 sampai 3 hari saja" jelas Raya.
__ADS_1
Mereka semua mengangguk, memikirkan bagaimana caranya agar mood Zoya kembali ceria menjelang Azlan kembali.
...----------------...