
Di taman depan rumah Zoya, terdapat bangku tempat biasa mereka santai di pagi atau sore hari. Apalagi ketika Azlan kerja dan Bastian sekolah, Zoya menghabiskan waktu duduk di taman sembari membaca novel.
"Wah novel ini persis seperti kehidupan ku" gumam Zoya. Ibu satu anak itu sedang membaca novel yang berjudul 'Mendadak Hamil'🙈
Intan melangkah memasuki perkarangan rumah Zoya, sengaja ia meminta anak buahnya untuk mencari tahu dimana Zoya dan Azlan tinggal.
"Zoya! "
Intan melangkah mendekati Zoya yang duduk santai di taman, wanita itu seperti nya tidak mendengar panggilan dari nya.
"Zoya... " lirih Intan lagi.
"Loh, Intan. Sejak kapan kamu di sini? "
"Baru saja, tadi aku memanggil mu di ujung sana"
Zoya mengikuti arah tunjuk tangan Intan, lalu mengangguk paham. Pantes dirinya tidak mendengar panggilan Intan, wanita itu memanggilnya dari ujung pagar.
"Sini duduk" menepuk bangku di sebelahnya.
Intan mengangguk, lalu duduk di samping Zoya. Intan melihat sekeliling rumah Zoya, terlihat sepi dan damai.
"Aku hanya sendiri di rumah, suami dan Anak ku sedang bekerja dan sekolah" jawab Zoya mengerti arti dari tatapan Intan.
"Ah, begitu"
"Apa yang membawa mu kemari? kenapa tidak mengabari ku terlebih dahulu"
"Aku tidak sengaja lewat di depan rumah mu, dan sekalian saja mampir "
Zoya tersenyum, ia bergerak menuangkan teh hangat ke gelas, lalu memberikan nya pada Intan. Terlihat sekali Intan sedang berbohong.
"Mari di minum"
"Terimakasih"
Zoya selalu tersenyum, Intan menjadi tidak enak, apa dia harus berkata jujur atau tetap melakukan nya.
"Katakan saja, aku tidak marah kok"
Lagi lagi Zoya mampu membaca pemikiran Intan, wajahnya sedikit terkejut mendengar penuturan Zoya.
"Kau tidak lupa kan? aku siswi terpintar" kekeh Zoya.
"Tentu saja aku tidak lupa, yah walaupun hampir lupa"
Untuk beberapa menit merek terdiam, yang terdengar hanya helaan nafas berat Intan.
"Apa kau bahagia Zoya? " tanya Intan membuka suara.
"Tentu aku sangat bahagia, tidak ada lagi kebahagiaan yang melanda ku selain bersama keluarga ku"
__ADS_1
Deg. Jantung Intan berdetak kencang, apakah dia harus merusak semua ini?.
"Aku tahu tujuan mu ke sini" lirih Zoya menatap lekat wajah Intan yang terkejut.
"Maksud mu? "
"Kau ingin membicarakan soal Angga kan? "
Deg.
"Jujur saja padaku, aku bisa membantu mu" ucap Zoya lagi.
"Maksud mu? "
"Haduuhh kau memang bodoh ternyata" kekeh Zoya noel pipi Intan gemas. Intan masih belum bisa memahami ucapan Zoya.
"Aku akan membantu mu menaklukkan suami mu"
"Benarkah? apa bisa? Angga hanya mencintai mu Zoya"
"Tidak Intan, Angga sudah mencintai mu. Tapi.. " Zoya menjeda ucapan nya.
"Tapi apa? "
"Dia hanya tidak sadar saja" kekeh Zoya lagi.
Intan mengerut, menarik tangannya yang di genggam Zoya. Namun Zoya kembali menariknya.
"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan"
Zoya tersenyum, sepertinya Intan sudah benar-benar mencintai Angga, dan melupakan Azlan. Hal ini sangat bagus bagi Zoya, jadi dirinya semakin bersemangat membantu Intan.
...----------------...
BugggG~
"Ahw"
"Hahahahahaha.... "
Dea mengusap bokongnya, seseorang dengan sengaja meletakkan ember pel di tengah jalan ketika Dea akan lewat. Mata Dea mengkilap, melihat ada Bastian di antara teman temanya yang sedang menertawakan nya.
Bukannya melawan, Dea malah berdiri dan pergi begitu saja. Bastian sempat bingung, ada apa dengan gadis itu.
"Dea, kok kamu basa gini sih? "
"Ini semua gara gara si tiang nyebelin itu! "
"Maksud kamu Bastian? "
"Siapa lagi kalau bukan dia"
__ADS_1
Lesti hanya bisa mengangguk pelan, ia membantu Dea membersihkan rok seragam Dea yang kotor.
Dea terlihat sangat marah, Kedua pipinya terlihat menggembung.
Setelah selesai membersihkan roknya dan sudah berganti dengan celana olahraga, Dea dan Lesti kembali ke kelas.
Bastian melirik Dea yang baru saja memasuki kelas, ia bergidik ngeri melihat mata Dea seperti berapi api menatapnya.
"Habis lah kamu Tian... "
"Habislah... "
Prok~
Bug~
Kedua teman Bastian terdiam seketika, Bastian sudah memukul satu persatu agar berhenti mengganggunya.
Pelajaran pun di mulai, kelas tampak senyap. Sekolah Bastian adalah sekolah elit, didalamnya hanya terdapat anak anak konglomerat, sama seperti sekolah kedua orang tuanya dulu.
Meskipun masih sekolah dasar, tapi mereka tidak terlihat rusuh ketika belajar, fokus dan sangat tertib dalam menaati peraturan.
KringgG!!!!
Seluruh murid berjalan bergantian keluar dari kelas, Dea keluar lebih dulu dibanding kan Bastian. Ia sengaja tidak langsung ke mobil, ia malah berdiri di depan pintu.
Bug~
Tubuh Bastian tersungkur ke lantai, lutut dan sikut nya berdarah.
Setelah melihat Bastian tersungkur, dengan angkuh Dea melangkah pergi.
"Dasar gadis gila! " sungut Bastian.
"Bastian kamu gak papa? "
"Gak papa kok bu, hanya lecet sedikit"
Bastian berjalan terseok seok menuju mobil, di sana sudah ada pak supir menunggu dirinya.
"Loh den, kaki sama tangannya kenapa? "
Pak supir langsung menghampiri tuan mudanya dan menggendongnya masuk ke dalam mobil.
"Makasih mang"
"Ini sudah tugas mamang den"
Bastian tersenyum, mang dadang emang sangat baik, bukan hanya menjadi supir doang, ia juga seperti kakek bagi Bastian.
Mobil Bastian melaju meninggalkan sekolah, Bastian tidak sabar ingin cepat cepat sampai ke rumah. Perutnya sudah sangat lapar dan masakan mommynya pasti sudah menunggu nya.
__ADS_1