Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Surat Kontrak


__ADS_3

Tuk!! Tuk!!


Ketukan di pintu kamar Zoya terdengar makin keras, dengan malas Zoya membuka matanya lalu bangkit dari tempat tidur berjalan menuju pintu.


Ceklek~


Zoya menatap Azlan yang berdiri di depan pintu kamarnya, gadis itu tampak malas, ucapan ucapan Azlan tadi masih mengiang di telinganya.


"Eh mau ngapain loe? " Zoya kaget ketika Azlan menyelonong masuk ke dalam kamarnya, lalu duduk di kursi meja belajar Zoya.


"Gak sopan banget sih! " gerutunya.


Zoya berdiri di depan Azlan sembari melipat tangan di depan dada.


Azlan mengangkat tangannya ke arah Zoya, memberikan selembar kertas.


"Tanda tangan ini" ucap Azlan.


Zoya pun mengambil selembar kertas itu, lalu membacanya.


"Kontrak pernikahan? " gumam Zoya menatap Azlan tak habis pikir, ia memang tidak menginginkan pernikahan ini tetapi setidaknya Azlan membicarakan dulu dengannya tentang ini. Zoya membaca seluruh isi dari kontrak yang Azlan buat. Terdapat beberapa poin penting yang menurut Zoya merugikan pihaknya.


*K*ontrak pernikahan!!


Azlan Albisyam selaku sebagai pihak pertama, dan Zoya Arkan asyid selalu pihak kedua menyetujui poin poin yang akan di jelaskan di bawah ini.


1. Tidak ikut campur dalam urusan satu sama lain selama pernikahan.


2. Akan bercerai setelah bayi lahir.


3. Hak asuh anak jatuh kepada pihak pertama.


4. Tidak boleh menjalin hubungan dengan orang lain, baik pihak pertama maupun pihak kedua selama pernikahan.


5. harus patuh ke pada pihak pertama.


Di setujui oleh,


(Zoya arkan Asyid) (Azlan Albisyam)


"Gue gak setuju dengan poin ke 3 dan ke 5"


protes Zoya, isi dari kontrak ini hanya akan menguntungkan pihak pertama saja.


"Gue gak nyuruh loe mengkritik kontrak ini, gue hanya menyuruh loe untuk menandatanganinya saja" balas Azlan dingin, aurah mematikan terpancar dari sorot matanya yang berwarna coklat.


"Kalau begitu, ambil surat ini!! gue gak perlu tanda tangan surat ini"


Zoya meremas kertas putih yang berisikan point poin yang Zoya sendiri tidak menyukainya, lalu melempar gumpalan kertas itu ke wajah Azlan.


Rahang Azlan mengeras, ia menatap Zoya tajam. Pria itu bangkit dari duduknya mencengkram tangan Zoya kuat, membuat sang gadis merintih.


"Gue udah bersabar selama ini!! gue udah ikutin apa mau loe!! " ucap Azlan datar penuh tekanan.


"Apa?? yang ada gue yang bersabar satu rumah dengan manusia es batu kaya loe!! " lawan Zoya sengit, cengkraman di pergelangan tangannya semakin kuat.


"Akan gue ambilkan surat kontrak yang baru, dan gue harap loe tak banyak omong! "


Azlan melepaskan cengkraman nya, lalu keluar dari kamar Zoya untuk mengambil cetakan surat kontrak yang baru. Tak lama kemudian Azlan kembali lagi masuk ke dalam kamar Zoya dengan secarik kertas HVs A4 yang sudah berisi tulisan tulisan yang sama dengan kertas tadi.


"Tanda tangan ini!! " bentak Azlan.


"Gue gak mau! " tolak Zoya.


Azlan kembali menggeram, Zoya benar-benar menguji ke sabarannya.


"Baiklah, loe boleh gak tanda tangan surat ini, tapi... " Azlan menggantung ucapannya. Senyum miring terukir di wajah tampannya. Matanya menatap lekat pada Zoya yang juga menatapnya sembari menunggu kelanjutan ucapan Azlan.

__ADS_1


Azlan maju satu langkah ke hadapan Zoya, lalu memajukan tubuhnya sedikit lebih dekat dengan Zoya yang secara reflek memundurkan tubuhnya.


"Jangan salahkan gue kalau seisi sekolah tahu loe hamil" bisik Azlan.


Mata Zoya membulat, Azlan benar-benar licik. Gadis itu tidak menyangka perkataan seperti itu keluar langsung dari mulut Azlan.


"Pengecut loe! " dengus Zoya mendorong tubuh Azlan, lalu gadis itu merampas surat kontrak dari tangan suaminya. Zoya membawa surat itu ke atas meja belajarnya, lalu mengambil pena untuk menandatangani surat yang bermaterai itu.


"Puas? " ucap Zoya memberikan kembali pada Azlan.


Senyum kemenangan tercetak di bibir Azlan, lalu menerima kembali surat kontrak itu untuk memeriksanya.


Kening Azlan mengerut, Zoya merubah beberapa poin yang Azlan buat.


Kontrak pernikahan!!


Azlan Albisyam selaku sebagai pihak pertama, dan Zoya Arkan asyid selalu pihak kedua menyetujui poin poin yang akan di jelaskan di bawah ini.


1. Tidak ikut campur dalam urusan satu sama lain selama pernikahan.


2. Akan bercerai setelah bayi lahir.


3. Hak asuh anak jatuh kepada Bunda Ketika, dan bisa di lihat kapanpun pihak pertama maupun pihak kedua inginkan.


4. Setelah Bayi besar nanti, anak tersebut bebas memilih ingin tinggal bersama siapa.


5. Ter serah ingin menjalin hubungan dengan siapa saja asal tidak merugikan hubungan selama pernikahan.


6. Bersikap selayaknya suami istri hanya di depan orang tua.


Di setujui oleh,


(Zoya arkan Asyid) (Azlan Albisyam)


"Loe merubah isinya! " komentar Azlan.


"Benar, dan yang tertulis di situ adalah usulan dari gue! gue juga berhak atas surat ini! " ujar Zoya sinis.


Azlan tak menjawab, ia ikut menandatangani surat itu lalu memasukkan nya ke dalam map coklat. Perubahan yang Zoya buat juga tidak merugikan nya. Setelah memasukkan surat itu ke dalam map Azlan melangkah keluar dari kamar Zoya.


Zoya ambruk di lantai setelah Azlan keluar dari kamarnya, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Zoya sudah pasrah, sudah tidak ingin memikirkan apapun lagi.


"Kamu yang kuat yah di sana, momy akan melindungi mu" lirih Zoya menunduk sembari mengusap perut yang semakin hari semakin membuncit.


Di tempat lain Mila menatap lurus ke langit malam, gadis itu sedang duduk di balkon kamarnya.


Sejujurnya Mila merasa tidak nyaman dengan kerenggangan hubungan nya dengan Zoya. Tapi Mila gengsi untuk meminta maaf terlebih dulu.


"Huhh... gue harus gimana? masa gue harus minta maaf duluan"gumam Mila pada dirinya sendiri.


" Mil..... ohh mil... "panggil Airaya memasuki kamar adik sepupunya yang tidak terkunci.


Keasikan melamun, Mila tidak mendengar panggilan Airaya.


" Lah di sini rupanya " ujar Raya menepuk bahu Mila.


"Eh kak Ai, kapan masuk? " sentak Mila kaget.


"Yeee lu nya ngelamun sih, makanya gak tahu gue masuk" cibir Saya.


"Hehehe.. maaf kak" keke Mila malu.


Ngelamunin apa sih? galau?? patah hati? atau.... "tebak Raya ngawur.


" Ihhh kak Ai, gue gak galau tahu, apalagi pata hati" protes Mila.


"Lalu?? apa yang membuat loe ge lamun di malam hari yang cerah ini" ucap Raya.

__ADS_1


Mila berpikir sejenak, gadis itu meragu, apakah ia harus memberi tahu kakak sepupunya ini atau tidak.


"Kak... " lirih Mila.


Raya yang tadinya memainkan ponselnya sembari menunggu Mila cerita menoleh pada nya.


"Ada apa? " tanya Raya.


"Kakak ingatkan teman yang Mila kenalin ke kakak waktu di bioskop? " tanya Mila.


Deg~ Raya menegang, Mila mendadak menanyakan soal Zoya.


"I.. iya kenapa? " tanya raya.


"gue berantem sama dia"


huhhhfff haaa, Raya bernafas lega. Mila tidak membahas soal dan Azlan.


"Berantem kenapa? " tanya Raya mulai santai.


"Dia tidak jujur sama gue, jelas jelas kesepakatan kita kita dalam persahabatan tidak boleh berpacaran dengan Azlan! " Mila kembali menggebu mengingat kesalahan Zoya yang menutupi semua ini darinya.


Raya mengangkat alisnya, ia penasaran dengan kisah Azlan dan Zoya di sekolah bagaimana.


"Azlan? " Beo Raya. Mila mengangguk, kemudian menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa.


"Loe tahukan gue cuma punya kalian sebagai saudara gue. Jika sahabat gue mengencani Azlan, gue tidak suka"


"Kenapa? "tanya Raya penasaran. Ia tahu Mila sangat manja pada mereka berdua, apalagi Azlan yang selalu melakukan semua permintaan Mila membuat gadis itu semakin manja.


" Gue takut iri pada sahabat gue sendiri, "


"Iri? " ulang Raya, Mila pun mengangguk.


"Bukan itu inti nya kak, gue hanya takut memilih. " lirih Mila.


Raya masih bingung, ucapan Mila sangat ngambang di telinganya.


"Duhhh kak Raya kok mendadak lola sih" dengus Mila kesal melihat ekspresi bingung Raya.


"Loe sih, ngomong gak jelas gitu. " protes Raya tak Terima di katain lola.


"Gue takut, jika suatu hari teman gue berantem sama Azlan hanya karena soal perasaan, gue takut!! memilih sahabat yang gue sayang atau saudara yang juga gue sayang"


Raya mengerti sekarang, apa yang Mila takutkan.


"Loe gak harus memikirkan hal itu, harusnya loe tetap berteman dengan Zoya" ujar Raya mengusap pipi tembem Mila.


"Hubungan persahabatan dan saudara tidak bisa di satukan. Loe dan Zoya adalah sahabat, sementara dengan Azlan adalah saudara. Jika Zoya bertengkar dengan Azlan, itu bukan urusan lo. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka, dan loe jaga hubungan loe dengan saudara loe dan juga sahabat loe. " jelas Raya panjang lebar.


Mila terdiam, ucapan kakak sepupunya memang benar. Mau Zoya sama Azlan atau Azlan sama wanita lain bukan urusan Mila harusnya.


"Huhhh, gue jadi bingung" lirih Mila.


"Loe kalut ajah tuh, terbawa emosi sesaat" tukas Raya terkekeh pelan.


"Eh ngomong ngomong, gimana ceritanya Azlan dan Zoya pacaran? " tanya Raya menggali informasi tentang Zoya dan Azlan.


"Sejujurnya gue juga bingung, karena di mata kami mereka selalu saja ribut"


Raya fokus mendengar kan Mila menceritakan semua kejadian yang pernah Azlan danZoya lakukan. Raya dan Mila terkekeh ketika mereka merasa lucu dengan tingkah Zoya dan Azlan.


"Benci jadi cinta dong" ujar Raya di iringi gelak tawa.


"Tapi gue masih merasakan kejanggalan di antara mereka" gumam Mila pelan. Meski mengakui Zoya sebagai pacar nya, sikap Azlan dan Zoya terlihat aneh.


Halo guyssssss up up up

__ADS_1


terus ikutin yah, jangan lupa suport ceritanya nya, dengan cara vote, like, komen yang membantu Author untuk lebih baik lagi. Yang pasti bantu share yah guysss.


I LOVE YOU ALL😘😘


__ADS_2