Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Jarak 2 meter


__ADS_3

Azlan memasuki kamar, hidung zoya mulai mengendus endus, perutnya terasa seperti di aduk aduk.


"Uuwwp, Azlannnnn jauh jauh!!!! "


"Aduh sayang, gue gak pake parfum loh" rengek Azlan melangkah sedikit lebih jauh dari ranjang.


"Masih kecium! "


Azlan melangkah 2 langkah sedikit menjauh.


"Udah?? " Zoya menggeleng sembari menjepit hidungnya.


"Udah??? " tanya Azlan lagi. Zoya mencoba mengendus endus, dan aromanya sedikit memudar.


"Nah udah, segitu aja jarak nya" ucap Zoya sembari membaringkan tubuhnya.


"Lah trus gue tidur dimana? "


"Yah terserah, yang penting jaraknya segitu tuh" sahut Zoya acuh.


Astaga, Azlan menatap sekeliling nya, mau tidur di sofa, tapi sofa nya bersarang 1 meter dari ranjang, mana bisa.


"Gue tidur di mana? " pikir Azlan.


"Zoya,, Zoya... " panggil Azlan pelan.


"Ihhh malah udah tidur dia"


Aslan berjalan cepat mendekati ranjang, mengambil bantal dan juga selimut. Ketika Azlan menatap istrinya yang terlihat sudah tertidur lelap, ia tersenyum.


Zoya terbangun dari tidurnya, berlari cepat ke kamar mandi.


"Uwekkkk, uwekkkk" Zoya kembali memuntahkan cairan bening, kepalanya terasa sangat pusing setelah memuntahkannya.

__ADS_1


"Maafin gue" lirih Azlan menyesal.


"Tida papa, kamu juga gak salah kok" sahut Zoya lemes.


Azlan kembali ke posisi jarak 2 meter nya. Ia sungguh menyesali perbuatannya tadi.


"Aku tidur dulu yah suami ku" lirih Zoya kembali berbaring di ranjang.


Azlan menghela nafas berat, ia juga tidak bisa menyalahkan istrinya. Semua ini keinginan bayinya. "Awas saja nanti kalau sudah lahir" kekeh Azlan membayangkan bayi mereka lahir dan keluarga mereka akan terasa ramai dan pasti akan bahagia.


Azlan meletakkan bantal di lantai, untuk sementara ia akan tidur di bawah. Demi ke nyamanan anak dan istrinya. Baru juga Azlan memejamkan mata, terdengar suara desisan seseorang dari luar.


"Ssttt... "


"Ssttt... "


Azlan menoleh ke arah pintu, di mana sumber desisan itu berasal.


"Sini... keluar... " bisik Mila menggerakkan tangan memanggil Azlan.


"Ada apa? " tanya Azlan menutup pintu kamar.


"Ayok ikut gue" Mila menarik tangan Azlan mengikutinya ke kamar Raya.


"Nah datang juga akhir nya" ujar Raya ,ia sudah menunggu kedatangan Azlan dan Mila sejak tadi.


"Ada apa? ngapain manggil gue kesini? "


"Ihh Jangan ngamuk dulu, gue ada cara supaya loe bisa deketin Zoya" jelas Raya tersenyum.


Azlan mengangkat alisnya, "Gimana caranya? "


"Sabar brother, jangan terburu-buru" kekeh Mila memukul bahu Azlan pelan.

__ADS_1


Mila dan Raya saling melirik dengan senyum misterius. Lalu Raya meronggoh saku switer nya, mengeluarkan sebotol parfum beraroma Lavender, parfum yang tidak terlalu di sukai Zoya.


"Loe gila!!! Zoya gak menyukai aroma ini! " ujar Azlan garang.


"Ihhhh loe diem dulu, dengerin penjelasan kak Raya dulu!! " tegur Mila kesal.


"Azlan adek gue tersayang, ini loh parfum yang kurang di sukai Zoya. Kenapa gue memberikan ini sama loe. Karena setelah kita berdua analisa. " ucap Raya terjeda.


"Zoya menyukai sesuatu yang sebelumnya tidak ia sukai" sahut Mila cepat.


"Ha betul"


Azlan berpikir sejenak, benar apa yang di katakan Raya dan Mila. Zoya tidak menyukai aroma tubuhnya, padahal parfum yang Azlan pakai adalah parfum pilihan Zoya.


"Baiklah, gue akan mencobanya" putus Azlan menerima parfum itu. Lalu menyemprotkan nya ke seluruh tubuhnya.


"Tidak buruk" gumam Azlan menghirup aroma baru yang sudah melekat pada tubuhnya sekarang.


"Ya sudah, sekarang loe bisa tidur bareng istri loe" ujar Raya.


"Terimakasih"


Azlan kembali ke kamarnya, menarik nafas sebelum melangkah maju mendekati ranjang. Selangkah demi selangkah Azlan memastikan Zoya tidak terbangun. Satu meter sudah terhapuskan, kini Azlan berdiri dengan jarak yang tersisa satu meter saja. Selangkah lagi, selangkah lagi.


Tab!


Azlan berhasil naik ke atas ranjang tanpa mengganggu tidur Zoya. "Berhasil" sorak Azlan dalam hati.


"Sayang, kamu belum tidur? " lirih Zoya pelan sembari melayangkan tangannya dan memeluk Azlan.


"Ini juga mau tidur" sahut Azlan pelan sembari membalas pelukan istrinya. Ia merasa lega, dan mengucapkan beribu kata syukur di dalam hatinya. "Kalian akan mendapatkan hadiah besok" gumam Azlan dalam hati.


Akhirnya mereka tahu bagaimana solusi tentang masalah Azlan, tidak ada lagi Zoya yang muntah ketika berdekatan dengan Azlan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2