Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
(SEASON II) Pria pemaksa


__ADS_3

Dea menutup pintu keras, lalu menelungkup di atas ranjang empuknya. Ia merasa sangat kesal, kehidupan nya terasa seperti di sabotase oleh Bastian.


"Dasar, pria gila!! pria gak punya perasaan!!!! aku membenci mu!!!!! " teriak Dea memukul mukul bantal ke sayangannya.


"Hati-hati, benci bisa jadi bucin"


Dea membalikkan tubuhnya, menatap Bastian yang entah sejak kapan masuk ke dalam kamarnya. Dea berdiri lalu mendekat pada pria yang baru saja ia maki maki.


"Kamu tidak akan bisa menguasai hidup ku!!! aku tak akan pernah mau di atur oleh pria seperti mu!! " ucap Dea penuh penekanan menatap Bastian.


"Huh" Bastian tersenyum miring.


"Sejak awal aku sudah bilang, kau pasti akan menyesali ucapan mu"


"Perlawanan yang kamu berikan hanya akan sia-sia " ucap Bastian.


"Tidak! Aku tidak akan menyesalinya!! " tentang Dea, ia tidak akan kalah. Pria ini lah yang akan kalah oleh dirinya.


"Kita lihat saja nanti, kamu akan mengemis cinta pada ku!! "


"Huh, sombong sekali anda!! aku tidak akan pernah menyukai mu" decak Dea percaya diri.

__ADS_1


Mendengar ucapan Dea barusan membuat hati Bastian memanas, Dea boleh mencaci dirinya asal tidak mengucapkan kata kata itu. Dea bergidik ngeri, aurah Bastian berubah secepat kilat. Ia memundurkan tubuhnya ketika Bastian dengan tatapan lekat mendekat padanya.


"Apa yang kau lakukan? " cicit Dea, jarak mereka tinggal beberapa senti lagi. Bastian menatap lekat wajah Dea, namja gadis itu memalingkan pandangan nya tak kuasa bertatap mata dengan Bastian.


"Aku tahu kamu mencintai ku" ucap Bastian sembari menjauhkan tubuhnya dari Dea.


"Apa? aku tidak menyukai mu" sangkal Dea.


"Lalu mengapa kau tidak berani menatap mata ku" ucap Bastian dan kembali mendekat secara tiba-tiba pada tubuh Dea, membuat gadis itu gugup seketika.


"Aku benar kan, kau sangat mencintai ku. Lihat lah jantung mu berdegup cepat" kekeh Bastian menyentuh kan telunjuknya tepat di atas dada Dea.


"Aku tidak menyentuh payudara kecil mu, aku hanya merasakan detak jantung mu" kekeh Bastian membuat pipi Dea bersemu merah.


"Bersiap lah, nanti aku akan menjemput mu jam 8 malam. " ucap Bastian, ia berjalan menuju pintu kamar Dea.


"Aku tak akan ikut dengan mu" teriak Dea.


"Coba saja menolak ku, kau akan menyesal"


"Coba saja!! " tantang Dea. Bastian berhenti di ambang pintu, lalu berbalik menatap Dea dengan smirk nya.

__ADS_1


"Aku akan menyeret mu, lalu menelanjangi mu ketika kita tiba di apartemen" ucap Bastian di akhiri dengan tawa nya.


Dea membulatkan matanya, yang benar saja pria itu akan melakukan hal itu. Secara reflek Dea menutup aset nya dengan kedua tangannya, membayangkan hal itu terjadi padanya.


"Astaga!!! kenapa hidup ku begitu soal bertemu dengan pria seperti Bastian!!! " emang Dea frustasi.


Sementara di ruang tamu Bastian kembali berbincang dengan Ali dan Nisa. Ia sedang membicarakan soal pernikahannya dengan gadis nakal itu.


"Bastian, aku salut dengan mu. Kamu terluka gentle melamar putri ku" puji Nisa menatap kagum pada calon menantunya.


"Terimakasih aunty, tapi sejak kecil aku sudah menandainya. Dea wanita yang cocok menjadi ibu dari anak anak ku" kekeh Bastian. Ketika waktu kecil, Bastian selalu mengganggu Dea, karena Dea lah satu satunya hadis yang tidak pernah memujinya, bahkan Dea terlihat tidak suka dengan nya. Oleh karena itu Bastian menjadi tertantang mengganggu Dea.


Hingga mereka dewasa, Bastian dulu memutuskan pergi ke London adalah agar membiarkan Dea hidup tanpa di ganggu oleh dirinya, lalu mereka akan bertemu di saat yang tepat.


"Baiklah, aku harus pulang dulu Aunty, uncle" pamit Bastian.


"Baiklah, hati hati bastian" jawab Ali dan Nisa.


Bastian keluar dari rumah Ali dan Nisa, kemudian melaju menuju rumah nya. Ia harus membicarakan pada kedua orang tuanya terlebih dahulu. Meskipun ini sudah terlambat, Bastian hanya memberitahu, bukan meminta persetujuan. Karena semua nya sudah di hrusnya sendiri.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2