
Hari hari pun berjalan sesuai waktunya. Usia kandungan Dea tinggal menunggu hari saja. Ia sudah merasa sedikit mulas mulas di sekitar perut nya.
"Akh... Apa ini saat nya? " gumam Dea, ia pun bergegas keluar dari kamar. Tak lupa Dea menyambar ponselnya yang tergeletak di atas nakas.
Dea berjalan menuju ke ruang tengah, semakin lama, semakin terasa nyeri di bagian bawah perutnya. Seperti nya ini saatnya bayi akan keluar.
"Ahhh, Bastian" lirih Dea ketika kakinya tak kuat untuk berjalan lagi, ia bertumpu di daun pintu. Sedikit lagi Dea akan mencapai mobil, namun jarak mobil yang sebenarnya deket, terasa begitu jauh sekarang.
"Astaga Dea!!! " pekik Nisa berlari kearah Dea dan membantu putrinya untuk berjalan.
"Bunda... Dea udah gak tahan, perut Dea sakit sekali"
Nisa memasukkan Dea ke dalam mobilnya, ia semakin histeris ketika melihat dara segar mengalir di betis Dea.
"Ya ampun Sayang, seperti nya kamu akan lahiran" teriak Nisa. Ia mengitari mobilnya, kemudian melaju menuju rumah sakit.
Di dalam mobil, Nisa mencoba menghubungi Zoya, matanya terfokus pada dua titik, yaitu Dea dan jalanan.
"Halo Zoya, segeralah ke rumah sakit. Seperti nya cucu kita akan lahir" ucap Nisa cepat. Terdengar pekikan Zoya di seberang sana, mungkin ia merasa sangat senang. Nisa mematikan ponselnya, lalu kembali fokus ke jalanan. Satu tangan Nisa mengelus elus perut Dea, ia bergerak gelisah menahan sakit.
"Kamu yang sabar yah sayang, bunda akan membawa kamu ke rumah sakit" ucap Nisa menenangkan putrinya. Di dalam hatinya ia juga sempat mengutuk menantunya yang meninggalkan istri nya sedang sekarat seperti ini.
Tak berapa lama, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sakit anak. Dengan cepat Nisa memanggil para suster untuk membantunya membawa Dea ke ruang persalinan.
"Suster!!! suster!!! cepat bantu saya bawa putri saya ke dalam. Putri saya akan melahirkan!!! " teriak Nisa histeris. Membuat Suster yang ada di sana kaget dan langsung mendorong brankas menuju ke depan. Dua orang perawat laki-laki membantu mengangkat Dea ke atas brangkar.
"Bun,,, Dea takut!! " tangis Dea menatap Nisa, tangannya mencengkram erat tangan Nisa.
"Kamu tenang yah sayang, kamu tidak akan apa apa sayang, bunda di sini bersama mu" ucap Nisa berusaha menenangkan putrinya.
"Tapi bun.... Bunda!!! " teriak Dea ketika suster membawa Dea ke ruangan persalinan. Seorang dokter sudah berlari masuk ke dalam ruangan itu.
__ADS_1
Nisa bergerak gelisah, sejak tadi ia berusaha menghubungi Bastian. Namun, panggilannya sejak tadi tidak jawab.
"Kemana sih bocah sialan ini. Gak tau apah, istri nya sedang melahirkan! " gerutunya, ia kembali mencoba menghubungi Nisa.
Dari lorong rumah sakit, terdengar langkah kaki cepat menggema menghiasi sepinya lorong itu. Zoya menggunakan langkah seribu, sehingga dalam sekejab ia berdiri di depan Nisa.
"Di mana menantu ku Nisa? bagaimana keadaan nya? " tanya Zoya sengan nafas tersengal. Zoya terlihat sangat khawatir. Bagaimana tidak, Nisa menghubunginya dengan suara yang panik, apalagi Zoya dapat mendengar ringisan Dea dari dalam telfon itu.
"Dea sedang dalam penanganan " jawab Nisa menunjuk ruangan persalinan dengan matanya.
"Bagaimana dengan Bastian? apa lo sudah menghubunginya? "
Nisa menghela nafas berat, menahan emosi dan juga kekhawatiran.
"Bastian tidak menjawab panggilan gue, gue gak tahu apa yang menyibukkan pria itu" jawab Nisa ketus.
Ceklek.
Seorang suster keluar dari ruangan tempat Dea di tangani. Nisa dan Zoya langsung mendekati suster tersebut.
"Maaf suster, suaminya lagi menuju ke sini. Apa saya bisa menggantikannya? "
"iya Sus, biarkan kami yang menggantikan suami Dea untuk menemaninya. " sahut Zoya.
"Tapi... " suster itu tampak ragu. Namun Zoya dan Nisa sudah masuk lebih dulu sebelum ia menjawab permintaan mereka.
"Ha, sudah lah" ucap Suster itu pasrah. Mau bagaimana lagi, namanya juga orang kaya.
Setibanya di dalam ruangan persalinan, Nisa dan Zoya melihat Dea terbaring lemah di atas brankar. Kakinya menekuk ala ala orang akan melahirkan.
"Dokter, bagaimana putri saya. Apa akan melahirkan hari ini? " tanya Nisa tidak sabaran, di hatinya terselubung kekalutan yang mendalam.
__ADS_1
"Hanya tinggal menunggu satu pintu lagi ibu, hm... " dokter wanita itu tampak bingung melihat Zoya dan Nisa.
"Suaminya sedang dalam perjalanan dok, kami sangat khawatir dengan keadaan pitri kamu. Jadi kami putuskan untuk menemaninya selama suaminya belum datang" jelas Nisa. Dokter itu hanya mengangguk paham, ia juga seorang wanita, jadi ia bisa memaklumi kekhawatiran seorang ibu. Bahkan lebih parah lagi jika seorang yang akan melahirkan tidak ada yang menemani dan memberinya kekuatan.
Sementara di lain tempat, Azlan dan Ali tengah kalut mencari cari rumah sakit mana Dea di tangani. Zoya memberikan mereka informasi yang kurang jelas, sehingga mereka harus meraba raba seperti orang buta mencari rumah sakit tempat Dea bersalin.
"Ya ampun!!! kenapa istri lo oon nya kambuh sih. Ngasih informasi malah setengah setengah!! " gerutu Ali kesal.
"Eh kok lo malah nyalahin istri cantik gue sih. Istri lo tuh yang bego" balas Azlan tak Terima jika istrinya di katai.
"Ahhh... Lihat ni, rumah sakit mana yang akan kita kunjungi terlebih dulu? " ucap Ali.
"Itu aja" ucap Azlan menunjuk salah satu Rumah sakit anak yang terbilang dekat dengan rumah Dea dan Bastian.
Ali melajukan mobilnya memasuki perkarangan rumah sakit. Mereka sudah mencoba menghubungi zoya maupun Nisa untuk menanyakan kejelasan alamat. Namun ponsel Zoya maupun Nisa tidak bisa di hubungi. Mereka juga mencoba menghubungi Bastian. Ia pikir Bastian pasti tahu, eh malah ponsel Bastian berdering tetapi tidak di jawab.
Azlan dan Ali berlari menghampiri meja resepsionis rumah sakit.
"Permisi bak, apa di rumah sakit ini ada pasien yang bersalin bernama Dea? " tanya Azlan sopan.
"sebentar yah pak, saya cek dulu"ucap suster yang berdiri di meja resepsionis ketika Azlan dan Ali menghampirinya.
Tak lama kemudian Suster itu kembali berdiri dan menghadap kepada Azlan dan Ali yang sedang menunggu informasi dari suster itu.
" Maaf Pak, pasien atas nama yang bapak sebutkan tapi tidak ada" jawab Suster itu, membuat Azlan dan Ali mendengus lelah.
"Tapi, tadi ada pasien yang baru datang. pasien itu belum mendaftarkan diri " jelas suster itu lagi.
"Dimana ruangan nya Sus? " tanya Azlan cepat.
"Bapak tinggal lurus, trus belok kiri. Nah disana ada ruang persalinan. " jelas suster itu sembari menunjuk dengan tangannya.
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih Sus" ucap Ali. Kemudian mereka berlari ke arah yang Suster itu arahkan. Azlan dan Ali yakin jika itu adalah Dea.
...----------------...