
Tiga hari sudah terlewat kan. Dea sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit. Sebenarnya, Sehari setelah selesai persalinan Dea sudah boleh pulang, tetapi Bastian tidak ingin terjadi apa apa kepada Dea, jadi ia meminta agar Dea di rawat sedikit lebih lama.
"Dea.Nak, kamu jangan banyak gerak yah, hati hati kalau berjalan. Selama 40 hari kamu harus benar-benar istirahat dan tidak boleh melakukan sesuatu pekerjaan yang berat, kecuali menggendong bayi mu sendiri"
"Baik Momy, terimakasih sudah mengingatkan Dea"
Zoya mengangguk pelan, ia menjadi teringat dengan dirinya pada masa masa melahirkan, ketika itu Mama nya tak henti henti nya mengoceh. Kini mama Zoya telah pergi, ia sudah tenang di syurga.
"Zoya" panggil Nisa membuyarkan lamunan Zoya. Ia menghapus kasar air mata yang entah sejak kapan mengalir begitu saja.
"lo nangis? "
Dea langsung menatap ibu momy mertuanya, ia tidak tahu jika mertuanya sedang menangis, padahal tadi mertuanya tersenyum hangat.
"Momy nangis? "
"Enggak sayang, momy hanya teringat sama nenek kamu. "
Nisa dan Dea mengangguk pelan, kemudian Zoya menggendong Aqila putri.
"Dia sangat cantik, hidung dan matanya persis seperti Bastian"
"Tidak momy, seluruh wajah Aqila mirip seperti wajah Dea" sungut Dea, ia tidak terima jika putri cantiknya di bilang mirip dengan suaminya. Padahal itu kenyataan nya. Dea tidak bisa memungkiri semua itu.
Zoya dan Nisa hanya terkekeh pelan, tingkah Dea masih saja seperti anak kecil. Memang sewajarnya Dea marah kepada Bastian, karena apa yang Dea alami sangat berat. Bastian tidak ada di sisiNya ketika ia melahirkan.
Nisa mengulum senyum, ia mendekati putri.
"Sayang" Dea menoleh. menatap bundanya yang juga menatap ke padanya.
"Kamu boleh marah sama suami mu, tapi lihat kejelasan nya sayang. Kamu harus pertimbangkan semuanya. Jangan hanya karena keegoisan membuat rumah tangga mu hancur"
"Tapi bun... "
"Iya sayang, tapi kami harus ingat. Keegoisan bisa menghancurkan segalanya"
Dea menunduk, ia juga merasa sudah keterlaluan pada suaminya. Dea tidak pernah mau mendengarkan Bastian ketika pria itu hendak menjelaskan padanya.
"Tapi dia pantas mendapatkan nya" batin Dea, sikap iblisnya mempengaruhi nya.
"Ya sudah bunda mau kedapur dulu, mau masak dulu. Sebentar lagi Ayah mu pulang"
Dea mengangguk pelan. Kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap putri kecilnya yang tengah berada di gendongan Zoya.
Apa gue salah? tapi...
"Dea!!!! "
__ADS_1
Dea yang sudah menutup matanya kembali membukanya lebar. Ia tersenyum lebar melihat celsi dan lisa berjalan cepat menghampiri nya.
"Gue pikir kalian gak bakalan datang"
"Enak saja, kita pasti datang lah" balas Lisa.
"Tau ih, cuma waktu nya aja yang agak lambat" jelas Celsi.
"Wahhhh cantik banget Dea, mirip gue yah" celetuk Celsi.
"Enak aja, gue yang koyak, kok lo yang dapat rapat" timpal Dea tidak Terima. Seketika gelak tawa terdengar di kamar Dea. Zoya yang ada di sana juga ikut tertawa.
Sementara di lain tempat. Bastian tengah marah besar!. Ia menyuruh Asisten nya untuk melihat seluruh CCTV yang ada di ruang rapat dan juga di ruangan nya. Bastian menaruh curiga pada sekertaris nya.
Sebenarnya Bastian cukup kaget, ketika ponselnya tiba-tiba ada di tangan sekertaris nya waktu itu. Jadi Bastian menyuruh bawahannya untuk menyelidiki nya.
"Pecat gadis itu sekarang juga!!!!! " teriak bastian.
"Baik boss! " jawab pria yang mengenakan baju serba hitam itu. Kemudian mereka bergegas keluar dari ruangan Bastian.
Kini Bastian tinggal sendiri di ruangannya, memikirkan bagaimana cara menjelaskan kepada istri nya Bastian tidak tenang jika terus terusan marahan sama Dea.
"Arrggg!!!! ini semua gadis sialan itu!! "
Cekelk!.
Azlan langsung berdiri dari duduknya, menghampiri Azlan yang berdiri di depan meja kerjanya.
"Kenapa? apa kamu butuh bantuan? " tanya Azlan menebak apa yang sedang Bastian pikirkan.
"Dady, bantuin Bastian dong. Gimana caranya Bastian dapatin kepercayaan Dea lagi"
"Hahahaha"
"Kok ketawa sih dady, Bastian serius dady!! " tegas Bastian menatap dady nya sebal. Dirinya dalam keadaan darurat, dady nya malah asik menertawakan dirinya.
"Kamu itu lucu Bastian, seharusnya kamu gak perlu nanya sama dady"
"Trus Bastian harus nanya sama siapa dady" erang Bastian frustasi.
"Kamu itu harusnya nanya ke istri kamu. Mau nya apa, Gimana. Bukannya ke dady. Tapi, kalo kamu nanya gimana bujuk Momy kamu. Dady pasti tahu"
Bastian mengangguk, benar juga apa yang Dady nga bilang. Mana mungkin Dady nya tahu soal Dea, apalagi yang Dea suka dan tidak. Ah, Bastian kembali merasa gelisah dan panik.
"Cibal deh, kamu samperin istri kamu. Bicara baik baik. Dady yakin, Dea pasti akan luluh. Dea itu orang nya lembut, dia hanya kesal karena kamu tidak menemaninya ketika dalam masa perjalanan"
"Dan kamu harus tahu, hal itu sangat fatal. Karena kamu tidak ada ketika istri kamu membutuhkan. "
__ADS_1
Bastian mengangguk mengerti sekarang, dady nya benar-benar bisa di andalkan. Bastian memeluk dady nya, senyum manis terukir di sana. Mereka terlihat mirip ketika mereka tersenyum bersama.
"Nanti Bastian akan coba bicara sama Dea" gumam Bastian lagi.
Setelah pulang dari kantor, Bastian langsung memasuki kamar nya. Ia menemukan Dea sedang menggendong bayi mereka di atas ranjang.
Perlahan Bastian mengambil posisi duduk di samping Dea. Tampaknya Dea masih terlihat enggan untuk berbicara dengan suaminya.
"Dea" lirih Bastian.
"Hem"
"Bayi kita cantik yah. Seperti mama nya"
Blusssss. Pipi Dea seketika memerah menahan malu. Bastian paling bisa membuat wajah Dea berubah menjadi merah.
"Gak usah gombal deh, gak mempan" ketus Dea berusaha menahan senyum yang akan tercetak di bibir tipisnya.
"Dea... Aku minta maaf yah. Bukan maksud aku ninggalin kamu melewati masa masa sulit dalam persalinan. Tapi semua ini terjadi karena aku kehilangan ponsel ku Dea. Maafin aku yah, jangan marah terus, aku tidak bisa kalau kamu diam terus Dea. Please maafin aku"
Bastian sudah bersimpuh di depan Dea, kedua tangannya menggenggam tangan sebelah kiri Zoya, karena tangan sebelahnya katanya menggendong Aqila.
Dea menghela nafas berat, ia juga tidak seharusnya menyalahkan Suaminya. Situasi darurat seperti ini siapa yang tahu. Entah suaminya dalam keadaan bekerja atau malah dalam keadaan yang tidak mereka inginkan.
"Aku juga mau minta maaf, karena sikap aku terlalu berlebihan sama kamu"
"Tidak sayang, kamu tidak salah, karena melahirkan bayi cantik seperti aqila adalah sesuatu yang luar bisa" Dea mengangguk pelan, kemudian memeluk suaminya dengan sebelah tangan. Bastian pun membalasnya dan mereka berpelukan dengan Aqila di antara keduanya.
"I love you"
"I love more" balas Bastian mengecup kening istrinya.
Selamat Bastian dan Dea, kalian sudah mendapatkan seorang putri yang cantik banget. Selamat waktu nya author berpamitan kepada para readers.
Mendadak hamil benar-benar udah tamat. Mau di lanjutin juga kasian Bastian sama ali. Mereka selalu jadi korban author.
Sekarang author mau kasih tahu. Novel terbaru author. Kisah nya tentang cinta ke benci, ke cinta lagi.
Mohon di suport yah. Author berharap banget kalian mampir. Judulnya I HATE YOU, BUT I LOVE.
ceritanya tantang Jihan gadis jutek yang kembali ke negaranya dan bertemu dengan Alviro, si cowo sialan yang selalu Jihan benci.
Di tunggu kehadirannya yah readers. Kali ini Author benar-benar akan membuat cerita yang di seleksi dulu, biar kalian gak bosen karena banyak Typo.
makasih semuanya 😘😘😘😘
__ADS_1