Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
(SEASON II) Lain di mulut, Lain di hati (Baca)


__ADS_3

"Bastian!!!, hei sayang" Azlan mengejar putra kecil nya yang sudah melaju masuk ke dalam rumah. Zoya yang sedang duduk di ruang tamu merengut bingung.


"Loh Sayang, bastian kenapa? " Zoya ikut mengejar bastian ke kamarnya.


"Aku telat jemput dia, "


"Astaga, kok bisa sih. Pasti Bastian nunggu lama" Zoya duduk di samping putra kecil nya, wajah Bastian cemberut dengan bibir yang di manyun kan. Zoya memeluk nya dari samping.


"Sayang, jangan merajuk lah. Kan papa gak sengaja "


"Momy, papa itu sudah 3 x telat jemput Aku. " Bastian menepis tangan Azlan yang ingin memeluknya juga. Zoya langsung melotot Azlan, acara membiarkan Bastian tenang dulu.


"Trus, Bastian mau apa ni. Biar gak marah sama papa? " ucap Zoya berusaha membujuk.


Bastian tampak berpikir, smirk tercipta di bibirnya. Azlan meneguk susah payah, pasti ada hal yang aneh akan terjadi selanjutnya.


"Aku mau papa tidur di luar malam ni. No momy, no selimut" tegas Bastian menatap sengit papa nya.


Azlan melotot tak percaya, sebegitu menyebalkan Putra nya ini. Sejak dalam kandungan Putranya selalu saja ingin dirinya menderita.


"Lah sayang, gak kasian sama papa? "


"Gak momy, papa aja gak kasian liat aku panas panasan menunggu nya di sekolah" balas Bastian mencurahkan isi hati.


"Gak papa sayang, aku akan bertanggung jawab atas kesalahan ku. " Azlan menyanggupi permintaan putranya, apapun itu. Demi kesenangan putranya.


"Bastian, papa akan tidur di sofa malam ini. Bastian jangan marah lagi yah sama papa" Bastian mengangguk pelan, lalu memalingkan wajahnya dari Azlan.


Azlan bernafas lega, setidaknya Bastian hanya memintanya untuk tidur semalam saja tanpa istri nya.


"Gak papa, hanya semalam doang" batin Azlan bersyukur.


Malam pun tiba, Azlan sudah siap tidur di sofa. Ia menghubungi Anggi terlebih dulu. Apa yang Anggi alami malam jumat ini.

__ADS_1


"Halo kakak ipar" sahut Azlan ketika panggilan sudah terhubung.


"Ada apa? " balas Anggi di seberang sana. Pria itu sedang berbaring di sofa.


"Apa kau tidur nyenyak malam ini? " tanya Azlan berbasa-basi.


"Yeah, aku tidur sangat nyenyak. Tidur dengan semilir angin, nyanyian nyamuk yang indah. Dan satu lagi, aku bisa tidur sambil liat dapat"


Seketika tawa Azlan pecah, ia sudah bisa menebak apa yang sedang ia alami sama dengan yang Anggi alami.


"Apa kau tidur di sofa luar? " tebak Azlan.


"yeah seperti yang kau tahu" lirih Anggi.


"Hahahahha....... "


"Kau tertawa seperti kau bahagia saja" decak Anggi kesal mendengar Azlan seolah meledaknya.


"Kalau menertawakan orang karena bernasib sama tidak apa apa kan? "


"Anak mu memang persis seperti anak ku" kekeh Anggi.


"Mau bagaimana lagi, kita satu rumpun. " balas Azlan.


"Yasudah, aku mau menikmati malam ku bersama nyamuk dulu" pamit Anggi.


"Yeah, aku mau mojok sama cicak" kekeh Azlan. Mereka kembali tertawa atas penderitaan yang mereka alami.


"Huuuu, entah nasib apakah ini. Kami berdua mendapat kan anak yang memiliki sifat yang sama. " lirih Azlan merapikan bantalnya, lalu bergelung tanpa selimut.


"Sudah tidur kah? " Zoya berjongkok didepan suaminya, menatap wajah suaminya penuh dengan senyuman.


"Malam ini harus nya aku dapat jatah" rengek Azlan manja.

__ADS_1


"Salah siapa? main game bersama teman hingga lupa menjemput anak" omel Zoya.


"Yah, setidaknya aku tidak mengalami nya sendiri. "


"Maksud kamu? " Azlan terkikik pelan, mengingat, bukan cuma dirinya yang mendapat hukuman seperti ini.


"Caca juga melakukan hal yang sama"


Zoya membulat, ternyata Anggi juga terlambat menjemput putrinya. "Kalian benar-benar gila, Terima saja hukumannya"


Zoya beranjak menuju kamarnya, di sana sudah ada Bastian. "Momy sudah ngantuk? "


"Yups.. mari kita tidur sayang"


"Muach!! " Zoya mengecup kening Bastian yang sudah berbariidi samping nya.


"Selamat tidur sayang"


"Selamat tidur momy" balas Bastian.


Bocah 7 tahun itu bergerak gelisah, sebenarnya ia tidak tega membiarkan papahnya tidur di luar tanpa selimut. Namun rasa kesalnya membuat Bastian harus melakukan itu.


Bastian turun dari ranjang setelah memastikan momy nya sudah tertidur pulas. Mengambil selimut tebak yang terlipat di dalam lemari.


Bastian menatap papanya yang sudah terlelap, seperti orang kedinginan, Azlan memeluk tubuhnya sendiri.


"Sorry papa, muahhhh" Bastian mengecup pipi papanya setelah menyelimuti tubuh Azlan dengan selimut tebal.


Azlan yang sebenarnya belum tidur, tersenyum bahagia. Putranya selalu mencari masalah dengan nya ketika mereka berhadapan, namun hati Bastian sangat lah menyayangi Azlan.


"papa tahu kamu sangat menyayangi papa" batin Azlan.


Di tempat yang berbeda, Caca melakukan hal yang sama. Menyelimuti Anggi dengan selimut tebal, lalu mengecup sang dady. Bedanya, Caca memilih untuk tidur bersama Anggi. Memeluk erat Dadanya yang sebenarnya masih terbangun, namun enggan membuka mata.

__ADS_1


Caca ikut tersenyum ketika Dady nya mempererat pelukannya pada tubuh mungil nya.


__ADS_2