Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
(SEASON II) Tidak masuk akal


__ADS_3

Bastian duduk di salah satu kursi di dalam perpustakaan. Bayangan Dea mengecup pria lain masih melekat di ingatannya.


"Sial! " umpat Bastian, ia benar-benar merasa kesal akan hal itu. Tangan bastian terangkat meraih kertas bekas dokumen yang sudah tak lagi ia butuhkan. Seketika kertas itu remuk dan berubah menjadi gumpalan kertas.


Bastian melempar gumpalan kertas itu ke sembarang arah, hingga deheman seseorang membuatnya kembali mengutip bola kertas ciptaan nya.


"Hem!!! "


Tuk!! tuk!!


Ibu penjaga perpustakaan dengan mata melotot mengutuk papan pengumuman yang menjelaskan dengan jelas bahwa dilarang membuang sampah sembarangan.


"Maaf Bu" lirih Bastian menatap takut pada ibu penjaga itu.


Sementara, di ruangan Kepala jurusan Management sekaligus penanggung jawab progres yang akan di langsung kan ini sedang menghadapi Dea yang terus saja memohon.


"Pak, tolong saya sekali ini... saja" Dea menyatukan kedua telapak tangannya memohon pada pak Jidan.


"Maaf nona, tapi ini sudah di tentukan. Anda memang yang akan menjadi toko utama dalam progres ini, namun tuan Bastian yang akan berdiri di belakang mu. " jelas Pak Jidan menolak permintaan Dea secara halus.


"Tapi pak... Saya bisa kok dengan senior lain, Dan Bastian sama mahasiswa lain pak... ya yah... " Dea berusaha membujuk Jidan dan menerima permohonannya. Berbagai alasan telah Dea gunakan, namun hasilnya tetap nihil. Jidan tetap menolaknya.


"Sebaiknya anda menerima saja Dea, Bastian sangat bagus menjadi mentor kamu. Progres tahun kemarin Universitas London yang menjuarai nya, kamu tahu siapa yang memenangkan nya? " tanya Jidan menatap Dea lekat. Gadis itu menggeleng, ia sedikit acuh doalah yang beginian.


"Lah, katanya mau jadi tokoh utama Eh malah itu aja gak tahu" bibir Jidan, Dea terkekeh pelan.


"Yah sudah, kamu harus menekan Egi kamu demi kampus kita. Demi jurusan kita lebih terkemuka dan di lihat dunia" Jidan berusaha memberikan pengertian pada Dea. Gadis itu terlihat diam sejenak, pikirannya mulai kacau.


"Ya sudah pak, saya pamit undur diri" Dea bangkit dari duduknya, lalu membukukan tubuhnya memberi hormat pada kepala jurusan.


"Baiklah, tetap semangat dan semoga berjaya Dea" ucap Jidan memberikan siswa terpintar itu semangat.


Dea berjalan keluar dari ruangan pak Jidan, wajahnya terlihat sangat lesu.


"Dea!!!! " teriak Lisa. Kedua gadis itu berlari mendekati Dea, mereka sudah lelah mencari Dea ke seluruh penjuru kampus.


"Ada apa? " tanya Dea datar.


"Kok muka kamu lemes gitu sih? apa kak rian membuat mu banyak masalah? " tanya Celsi khawatir. Celsi langsung memeriksa tubuh Dea, mencari apakah ada bagian tubuh Dea gang terluka.


Dea mulai jengah, ia menepis tangan Celsi dari tubuhnya.


"Aduhh udah deh Lisa, Celsi. Aku belum bertemu sama pria itu. Aku baru saja menemui pak Jidan" jelas Dea malas.


"Pak Jidan? ada apa? apa semuany baik baik saja? "


"Apa kamu kena marah? "

__ADS_1


Berbagai macam pertanyaan di lontarkan Lisa dan Celsi.


"Bukan Celsi, Lisa yang manis. Aku menemui pak Jidan untuk memohon agar Mentor ku di ganti" lirih Dea, wajahnya sedikit kecewa karena permintaan nya di tolak, usahanya menjadi sia sia. Padahal Dwa sudah menjatuhkan martabatnya sebagai mahasiswi angkuh di hadapan pak Jidan.


"What??? " Lisa dan Celsi melebarkan matanya. Setiap mahasiswi di kampus mereka sangat menginginkan berada di dekat Bastian, tapi Dea malah menolak nya.


"Dea kamu masih normal kan? " Tanya Lisa sembari menggoyang goyangkan tubuh Zoya pelan.


"Ihh Lisa, apaan sih" tepis Dea. Gadis itu malah melenggang pergi dari hadapan kedua sahabat nya.


Lisa dan Celsi langsung menyusul Dea, mengiringi langkah cepat Dea.


Cling~


Dea menghentikan langkah nya, lalu membuka pesan masuk di ponselnya.


"Ada apa Dea? " tanya Lisa, mereka ikut berhenti di samping Dea.


Pak Jidan.


Silakan temui mentor kamu segera, jika tidak kamu akan mengecewakan pihak kampus. Harapan mahasiswa management ada di tangan kamu.


Dea melebarkan matanya ketika membaca pesan panjang dari kepala jurusan nya.


"Wah.... kak Tian sangat tampan ya"


Dea melirik teman temannya yang sedang lewat di samping nya. Mereka sedang membicarakan Bastian yang sedang membaca di perpustakaan.


"Dia di perpus" batin Dea.


"Aku harus pergi" ucap Dea langsung berlari meninggalkan kedua sahabat nya yang masih bingung.


"Hei!! " teriak Celsi.


"Dasar, kebiasan Dea meninggalkan kita seperti ini" gerutu Lisa.


Dea terus berlari memasuki lift, menekan tombol lantai dimana letak perpustakaan.


ting~


Dea langsung melangkah keluar dari lift ketika pintu lift terbuka.


Dea masuk ke dalam perpustakaan, mencari sosok Bastian di sana. Dea masuk ke dalam ruang membaca, matanya menangkap sosok Bastian.


"Akhirnya.. " lirih Dea, ia sudah berdiri di hadapan Bastian.


Bastian tidak bergeming, bukan berarti dia tidak menyadari kehadiran Dea. Bastian sengaja mengacuhkan Dea karena masih sangat

__ADS_1


kesal.


Dea menatap Bastian kesal, pria itu masih saja fokus pada buku bacaannya.


"Hei!! " tegur Dea mencoba menarik perhatian Bastian dari buku itu.


Bastian masih tak bergeming, beruntung ia sedang memakai earphones, meskipun musik nya tidak menyala. Jadi Dea menganggap Bastian mengabaikannya karena sedang mendengar musik.


Dea mengeraskan rahangnya, bagaimana mungkin pria seperti Bastian yang akan menjadi mentornya. Bukannya makin pintar, Dea malah cepat mati karena struk berat dengan tingkah Bastian.


"Hei!!!! " bentak Dea dengan suara keras. Ia benar-benar tidak bisa menahan amarah nya lagi. Akibat dari perbuatan Dea, mereka menjadi pusat perhatian. Mahasiswa yang sedang belajar dan membaca merasa terganggu.


"Dea!! kalau ingin berisik! silakan keluar! " tegur penjaga Perpus. Dea nyengir, mengangguk pelan pada ibu perpustakaan. Dea menunduk pelan pada teman temannya yang terganggu karena nya.


Dea duduk di hadapan Bastian, pria itu sudah membuka earphones nya. Bukan Bastian yang membuka, tetapi Dea lah yang merebut earphones itu.


"Ada apa kau mengganggu waktu ku! " ucap Bastian dengan nada sinis, matanya menatap tajam pada Dea.


"Kau berpura-pura tidak tahu? atau kau memang sangat bodoh" maki Dea kesal. Bisa bisa nya Bastian pura-pura tidak tahu seperti ini, Dea yakin jika pak Jidan sudah membicayhal ini dengan Bastian.


"Oh jadi kamu yang menjadi mahasiswi bimbingan ku" ucap Bastian datar.


"Hmm" sahut Dea.


Bastian menatap Dea lekat, matanya menelusuri setiap lekuk wajah Dea. Mata Bastian terhenti pada bibir Dea, bibir ranum yang tadi ia lihat mengecup pria itu.


"Sial! " Bastian malah memiliki keinginan untuk menghapus jejak yang melekat di bibir Dea.


"Sekarang katakan, apa yang harus dilakukan. Kita mulai dari mana! " ujar Dea membuyarkan Bastian dari lamunannya.


Bastian tampak berpikir sejenak, ia berpikir untuk bermain main sebentar dengan Dea.


Bastian mengambil Flashdisk di dalam tas nya, lalu memberikan nya pada Dea.


"Print kan semua dokumen yang ada di dalamnya. Aku berikan waktu 30 menit untuk melakukannya" ujar Bastian dengan santai nya pada Dea.


"Apa!!, kau pikir ini zaman apa? kau hanya menjadi mentor ku. Buka bos ku!! " maki Dea tidak Terima. Suaranya kembali mengganggu seisi ruangan.


"Dea!! Bastian!! keluar!!!! " bentak bu perpus mengusir keduanya.


"Maaf Bu" lirih Dea merasa bersalah, lalu melangkah keluar dari perpustakaan. Bastian mengekor di belakang Dea.


Setelah berada di luar, Dea menatap sekeliling nya. Merasa situasi Aman, Dea menari Bastian ke tempat yang sepi.


"Aku tidak akan melakukan apapun yang kamu suruh, sungguh tidak masuk akal! " bentak Dea, tangannya meraih tangan Bastian, lalu meletakkan flashdisk itu ke tangan Bastian.


"Kau akan menyesalinya! " lirih Bastian mengambil flashdisk itu kembali.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2