
"Uwekk!!! Uwek!!! " Dea berlari ke kamar mandi, memuntahkan semua isi perut nya, bukan apa yang ia makan muntah Dea hanya berisi cairan bening.
"Aduh, pusing banget. Kenapa aku lemes banget yah" gumam dea mengusap keringat dingin yang mulai muncul di dahinya. Rambut yang tergerai panjang sudah di sanggul nya.
Dea berjalan ke ruang tengah, ia menghampakan tubuh lemahnya di sofa. Tulang belulang Dea terasa lunglai, seola tak bertenaga sedikit pun.
"Huh, lemesnya" Melirik jam dinding. "Apa kak Bastian masih lama? "
Sekarang pukul 3 sore, sekitar jam 5 sore Bastian akan pulang dari kantor. Seolah sudah lama tak jumpa, Dea merasa sangat merindukan suaminya sekarang.
"Ada apa dengan ku? kenapa aku merindukan kak Bastian. Padahal kan tadi siang baru saja bertemu" gumam dea menggeleng pelan. Ia merasa ada yang aneh pada dirinya.
Ceklek.
Pintu rumah Dea dan Bastian terbuka, lalu kembali tertutup ketika si pembuka tadi masuk ke dalam rumah dan menutupnya kembali.
"Loh, Dea. Kamu kenapa? " Zoya berjalan cepat mendekati menantunya. Ia sangat khawatir karena wajah Dea sangat pucat.
"Momy, Dea lemes banget" lirih Dea tak kuat berbicara.
"Kamu sakit?? " tanya Zoya panik, ia tidak terpikir apapun. Zoya panik sendiri.
"Bastian Momy,..... Dea.. pengen jumpa Bastian" lirih Dea terbata bata. Dea merasa nyawanya akan hilang jika ia tidak segera bertemu dengan suami nya.
"Iya.. Sayang, Momy akan mengubungi Bastian" ucap Zoya segera mengambil ponselnya dari dalam tas. Lalu menghubungi nomer Bastian.
"Nak, suami kamu dalam perjalanan, kamu yang sabar yah. " ucap Zoya sembari mengusap rambut Dea dan menghapus jejak keringat yang terus mengalir dari pelipis Dea.
__ADS_1
"Momy buatin teh hangat yah" tawar Zoya, dea pun mengangguk, teh hangat mungkin akan memberinya sedikit tenaga. Zoya pergi ke dapur membuatkan Dea teh hangat, kemudian kembali lagi ke ruang tengah dimana Zoya berbaring.
"Ini nah, minum dulu" ucap Zoya meletakkan segelas teh hangat di atas meja. Zoya merasa aneh, menantunya terlihat sangat lemah, namun tidak memiliki rasa sakit di bagian manapun tubuhnya.
'Ada apa dengan Dea? 'batin Zoya.
Setelah 45menit er lalu, akhirnya Bastian tiba di rumah. Pria itu tergesah gesah masuk ke dalam rumah. Bastian sangat khawatir terjadi sesuatu pada istrinya, tanpa pikir panjang Bastian ngebut pulang ke rumah.
"Momy, " lirih Bastian menghampiri Zoya dan Dea yang terbaring di sofa.
Dea mendongak, seketika wajahnya kembali normal, tubuhnya terasa pulih kembali.
"Kamu kenapa sayang?? Apa ada yang sakit? " tanya Bastian khawatir. Ia memeluk istri nya erat takut terjadi sesuatu pada Dea.
Zoya mengerut, menantunya terlihat biasa saja. Tidak ada tanda tanda lemes tadi di wajahnya.
"Ehm.. gak tahu momy. Tadi Dea merasa sangat mual, lemes, menggerakan tangan saja sangat sulit rasanya" jelas Dea.
"Hm.. lalu sekarang? " tanya Bastian menatap istri nya.
"Aku merasa biasa saja, tidak ada lemes, pusing, ataupun mual" sahut Dea.
"Aneh" gumam Zoya.
"Aku rasa Dea hamil" Dea dan Bastian menoleh, Azlan tengah berjalan mendekati mereka.
"Maksud Dady? " tanya Bastian.
__ADS_1
"Dady sudah sangat pengalaman tentang inu Bastian. Sebaik nya kamu bawa istri kamu ke rumah sakit. Untuk memastikan semuanya" tutur Azlan panjang lebar, ia teringat ketika Zoya hamil dan Azlan menanggung semuanya.
"Benar, seperti gejala yang Dea rasakan. Seperti nya Dea sedang hamil" ujar Zoya setelah berpikir sejenak.
"Apa?? Dea hamil? " sahut Dea. Zoya menganggu pelan, sembari tersenyum hangat.
"Kemungkinan besar sayang, itu juga belum pasti " jawab Zoya.
"Karena itu, pergilah ke rumah sakit" ucapan Zoya memberikan kunci mobilnya. Bastian menangkap kunci mobil yang Zoya lempar. Sekali gerakan, tubuh Dea sudah melayang di udara dan di larikan oleh Bastian tanpa permisi.
Bastian dan Dea melesat ke rumah sakit, mereka harus memastikan semua ini.
"Tuan muda" sapa suster yang biasa menangani keluar Bastian. Di rumah sakit ini pula Bastian lahir.
Dea langsung di bawa keruangan, seorang dokter keluarga Bastian memeriksa Dea. Spontan dokter itu tersenyum.
"Selamat yah tuan, sebentar lagi taun dan nyonya akan menyesal seorang ayah dan seorang ibu. "
"Benarkah dok?? " tanya Bastian tak percaya, baru menikah selama 1 bulan, Dea sudah bunting.
"Iya tuan, bu Dea sudah hamil 2 minggu" jawab dokter itu. Bastian menatap istrinya, mengecup pilih Dea penuh kasih sayang dan mengucapkan rasa syukur.
Akhirnya mereka akan memiliki anak, kebahagiaan Dea tak terkira. Ia tidak peduli, mau baru menikah dan mendapat anak atau lama dapat anak, yang terpenting bagi gadis itu adalah seorang yang lahir dari rahimnya adalah rezeki untuk dirinya.
Adakala banyak pasangan suami istri merancang program kehamilan istrinya setelah 1 atau 2 tahu pernikahan. Padahal itu sangat berbahaya untu seorang wanita. Janin bisa tertutup karena sudah di tutup sebelum pernah memiliki anak. Alhasil mereka akan sangat susah mendapatkan keturunan setelahnya.
...----------------...
__ADS_1