
"Bastian!! ngapain kamu di sini!! " tegas Dea berjalan mendekati pria yang tengah berbaring di tepi ranjang nya sembari memainkan ponselnya.
"Oh kamu sudah pulang? " Bastian mendudukkan tubuhnya, matanya menatap datar Dea.
"Kenapa kamu bisa ada di kamar aku Tian! " ucap Dea dengan mata menatap tajam pada tian.
"Aku hanya berkunjung, lalu tubuh ku lelah. Apa tidak boleh beristirahat sebentar di sini? " cibir Bastian menjelaskan. Dea menggeram, Bastian kembali terlihat menyebalkan. Dea menyesal telah memiliki perasaan menyesal sudah meninggalkan Bastian di perpus.
"Keluar sekarang!! " titah Dea menarik lengan Bastian. Namun Bastian tampak tidak bergerak, kekuatan Dea tak sebanding dengan kekuatan pria kekar itu.
"Bastian!! keluar!!! " teriak Dea lagi, ia terus mencoba menarik lengan Bastian.
"Aku merasa nyaman di kamar ini, apa boleh aku menginap? "
Mata Dea membulat. Pria ini seperti nya sudah gila, apa obatnya sudah habis? pikir Dea. Mana mungkin mereka bisa satu kamar, dasar bodoh.
"Aku tidak sudih berbagi kamar dengan mu!! "
"Hei, apa salahnya. Jika kau tidur dengan ku. Akan ku pastikan kau akan selalu meminta ku untuk menginap di sini" balas Bastian tersenyum misterius.
Dea melongo, gadis ini malah tidak mengerti apa yang di maksud Bastian.
"Bagaimana mungkin aku akan begitu, tidur dengan mu sama saja aku merasa tidur di nereka" balas Dea ketus.
"Benarkah?? "
Sleesss!!!!
Sekali tarik, Dea melayang dan terbaring di atas ranjangnya dengan Bastian yang sudah menindih tubuhnya.
"Apa kita perlu mencoba nya? " goda Bastian meniup wajah Dea. Gadis itu tercekat, ia mulai merasakan kekhawatiran. Maksud dari ucapan Bastian mulai di mengertinya.
"A-ap-pa ya-ng kau lakukan? " Dea mencoba mendorong dada Bastian, agar pria itu menjauh darinya. Tentu saja hal itu hanya sia sia, Bastian jauh lebih kuat darinya.
Bastian menatap wajah Dea dengan senyuman, mata bulat, hidung mancung, bibir ranum terlihat sangat sexy di mata Bastian. Memang keturunan keluarga Bastian, jika sudah mencintai satu gadis, maka tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi gadis itu.
"Bastian minggir!! " ucap Dea mencoba kembali mendorong tubuh Bastian.
"Aku sangat ingin memiliki mu" lirih Bastian dengan suara paraunya. Ia sedang berusaha menahan gejolak yang muncul dari bawah sana.
"Bastian!!!! " ucap Dea ketika Bastian mulai menyerang leher jenjangnya.
"Tapi... cup" Bastian menjeda ucapannya dengan mengecup bibir Dea sekilas.
"Aku tidak mau seperti dady dan Momy. Mendadak hamil"
__ADS_1
"Aku ingin kamu mengandung anak ku di sini" Dea menggelinjang kegelian ketika tangan Bastian mengusap perutnya.
"Setelah kita menikah nanti" Bastian bangun dari posisinya, lalu pergi begitu saja meninggalkan Dea yang masih bengong setelah mendengar ucapan Bastian barusan.
"Apa? dia serius dengan ucapannya itu? " gumam Dea tersadar dari lamunan nya, namun Bastian sudah tidak ada di sana.
"Kemana perginya pria itu!! " dengus Dea mencari keberadaan Bastian, Dea berlari keluar kamar, menuruni anak tangga, dan berlari keluar rumah. Bastian tetap tidak ada, Dea mulai berpikir jika semua ini hanya halusinasi nya saja.
"Apa aku hanya berhalusinasi? " Dea menggelengkan kepala nya kuat, ini bukan halusinasi. Sentuhan Bastian tadi terasa sangat nyata.
"Dea, kamu lagi apa di sana? " Dea menoleh pada sumber suara, Bunda nya tengah menatap bingung kearahnya yang berdiri di depan rumah. Dea segera masuk ke dalam, menghampiri sang bunda.
"Gak ngapa ngapain kok bunda, kita langit aja. Kirain mendung" bohong Dea.
"huh" Nisa menatap langit, tidak ada mendung di sana.
"Gelap sayang, mana keliatan mendung nya"
"Makanya di liatin dari luar, bunda" kekeh Dea berhasil membohongi bundanya yang kelewat polos.
"Yaudah, Dea mau masuk ke kamar Sulu, Dea mau istirahat" Dea kembali ke kamarnya, melihat ponsel nya yang berkedip. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel nya.
Bastian jelek!
Dea menatap pesan singkat, namun terlihat seperti mengklaim dirinya.
"Bagaimana ini, Bastian dan Boby sama sama membuat pikiran ku kacau" lenguh Dea mencak mencak di atas ranjang.
Dua pria yang membuat Dea menjadi dilema, hati dan rasa toleransi berkecamuk di dalam hati Dea.
"Bodo Amat! " dengus Dea melempar ponselnya ke sembarangan di atas ranjang empuknya, lalu Dea memejamkan matanya tanpa mandi terlebih dahulu. Sungguh jorokš¤¢
Ke esokan harinya, Dea berangkat ke kampus seperti biasanya. Lisa dan Celsi sudah menunggu nya di depan parkiran.
"Hai, girls sudah lama? " tanya Dea menatap kedua sahabat nya.
"Baru juga nyampe" jawab lisa. Celsi mengangguk setuju.
"Yuk ke kelas"
Ketiga gadis itu berjalan bersamaan menuju kelas. 10 menit lagi kelas akan di mulai. Dea dan kedua sahabat nya seperti biasanya menjadi pusat perhatian.
"Eh, katanya ni yah ada mahasiswi baru. Dan dia bakalan masuk ke kelas kita" ucap Lisa.
"What?? benarkah? siapa? " tanya Celsi penasaran. Berbeda dengan Dea yang terlihat biasa saja.
__ADS_1
Bruk~
"Aw" Dea mengusap bahu nya yang tidak sengaja di tubruk seseorang.
"Sorry aku gak sengaja"
Dea menatap gadis yang asing di matanya, seperti nya dia baru di kampus ini.
"Kamu gak papa? " tanya gadis itu lagi, ia terlihat khawatir dengan Dea.
"Aku gak papa kok" sahut Dea menjauhkan bahunya ketika gadis itu hendak menggapai bahu Dea untuk memeriksa keadaannya.
"Kamu baru yah di sini? " tanya Lisa, ia merasa tidak pernah melihat Gadis ini di sekitar kampus.
"Iya, ini hari pertama aku masuk" jawab Zia. Gadis lucu yang memiliki paras imut. Namun kecantikan dan keimutan Zia belum bisa mengalahkan kecantikan Dea, hanya saja Dea kurang tersenyum Berbeda dengan Dia yang sangat murah tersenyum. Baru pertama kali masuk, Zia sudah mampu menarik perhatian sebagian mahasiswa.
"Kamu jurusan apa? semester berapa? " tanya Celsi.
"Aku jurusan manajemen, semester 4"
"Wahhh, berarti kita sekelas" jawab Lisa berbinar.
Dea tak bergeming, ia hanya diam saja dan menatap Zia biasa saja.
"Aku Zia, mahasiswi pindahan dari London" ucap Zia memperkenalkan diri.
Deg. apa gadis ini satu Universitas dengan Bastian? Dea mulai penasaran.
"Wahhh apa kamu kenal Bastian? " kini suara Celsi mewakili pertanyaan yang muncul dari benak Dea.
"Kak Bastian??? siapa yang tidak kenal dia. " Zia melangkah lebih dekat dengan ketiga gadis itu, tangannya terangkat seperti orang yang akan berbisik. "Aku kesini karena dia"
Zia tersenyum malu, ia terlalu fanatik. Mengikuti Bastian hingga kembaki ke negara asal.
"benarkah? apa kamu menyukai kak tian? " tanya Lisa lagi, ia saling melempar pandangan dengan Celsi. Gawat jika gadis ini menyukai Bastian, lalu bagaimana dengan Dea.
"Aku sangat menyukai" jawab Zia penuh semangat, ia seperti sudah kenal lama dengan ketiga gadis itu, tidak ada rasa malu malu pada diri Zia.
"Oh iya, apa kalian sudah mengenal Bastian? apa kalian mau membantu aku bertemu dengan nya? "ucap Zia menatap mereka penuh harap. Dea tidak menanggapi ucapan Zia, gadis itu malah melangkah pergi begitu saja.
" Eh sorry Zia, kami harus pergi" ucap Celsi, lalu menarik Lisa bersama nya mengejar Dea.
"Ada apa dengan mereka?? hmm... gadis itu terlihat angkuh sekali" gumam Zia menilai Dea, sejak tadi Dea tidak ada mengucapkan apapun selain karena menghindari tangan nya.
...----------------...
__ADS_1