Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Kapan Zoya kembali?


__ADS_3

Azlan memasuki ruangannya, di sana sudah ada Malik, ali dan Agai. Mereka sejak tadi berkumpul menunggu kedatangan Azlan.


"Akhirnya loe datang juga"


Azlan mengangkat sebelah alisnya, ada apa mereka mencari nya sepagi ini.


"Lan, loe beneran udah nemuin Zoya? " tanya Ali, ia benar-benar sudah semakin resah sekarang.


Azlan masih belum menjawab, pria itu duduk dengan santainya di kursi kebesaran nya.


"Azlan!! " rengek Ali sedikit terlihat memaksa agar Azlan lebih cepat menjawab nya.


"Emangnya kenapa sih, mau bos nemuin Zoya atau enggaknya" sahut Malik yang bingung dengan kedua sahabat nya ini, Agai dan Ali datang ke kantor Azlan hanya untuk menanyakan apakah sudah menemukan Zoya atau belum.


"Anak kecil kaya loe, gak usah ikut campur"


Malik merengut, Ali selalu saja menganggapnya anak kecil, padahal mereka beda 5 bulan saja.


"Kecil kecil gini gue perkasa tahu" Ucap Malik bangga.


"Perkasa? " decak Ali tertawa bersama Agai.


"Perkasa gimana, pacar aja gak punya" ledek Agai.


Azlan menatap ketiga manusia di hadapan nya ini, mereka hanya menambah beban di kepalanya semakin terasa berat.


tak mau kalah, Malik memikirkan berbagai cara untuk membalas ucapan kedua nya.


"behhhh percuma punya kekasih, tapi gak nikah nikah! kapan nyoblos nya mas brooo"


Ali dan Agai terdiam, ini adalah senjata paling ampuh Malik utuk menutup mulut keduanya agar tidak mengejeknya.


"Gimana mau nikah, bosnya aja jomlo" cibir Ali.


Azlan melirik ke arahnya, bukan tatapan biasa. Tatapan Azlan lebih tajam dari pada mata silet.


"Mau keluar sendiri, atau gue yang nendang kalian semua dari ruangan ini! " tegas Azlan serius.


"I.. iya maaf, tapi jawab dong pertanyaan kita*


" sahut Agai mulai ketakutan, jika sudah begini Azlan dalam keadaan hati yang buruk. Mereka tidak boleh mengusik nya.


"Iyaaa, kita cuma mau nanya doang! " cicit Ali.

__ADS_1


Azlan tidak menjawab, matanya bergerak melirik pintu.


Mau tidak mau Ali dan Agai bergegas keluar dari sana. Tersisa Malik yang masih berdiri di depan meja Azlan, Malik tertawa melihat Ali dan Agai terburu buru keluar dari ruangan Azlan.


"Loe kenapa masih di sini? " ketus Azlan dingin.


"eh? iya yah, ngapain aku di sini" Malik mulai beringsut gak karuan menuju pintu. Lalu bergegas keluar ketika tangannya sudah menggenggam ganggang pintu.


"Huhhh, bikin pusing gue aja" gerutunya Azlan pelan. Ia mengambil ponselnya, lalu membuka aplikasi CCTV, lalu membuka bagian kamera yang memantau isi kamar.


Mata yang biasa mengkilap tajam, berubah sendu dan sayu menatap sang istri tengah duduk di tengah ranjang dengan kedua tangan memeluk lutut. Terbesit rasa bersalah karena telah melakukan hal ini kepada Zoya.


"Maafin gue zoy, jika gue gak melakukan ini. Loe pasti akan pergi dari gue" lirih Azlan pelan, tangannya tergerak mengusap layar ponselnya seolah tengah mengusap Zoya.


Azlan menghela nafas berat, meletakan ponselnya ke atas meja. Pria itu harus menyelesaikan pekerjaan nya yang sedang menumpuk. Setelah semuanya selesai Azlan akan fokus memikirkan bagaimana cara agar Zoya kembali lagi kepadanya seperti dulu.


"Beb... kapan kamu ke sini. Aku rindu" ucap Raya manja pada kekasihnya. Mereka sedang melakukan panggilan video call.


"Sabar yah sayang, aku akan kesana kok. Setelah urusan aku di sini selesai"


"Kapan? aku sudah tidak kuat" lirih Raya merajuk.


"Dalam bulan ini, aku akan menemui mu" bujuk sang kekasih. Seulas senyum terukir di bibir Raya, ia sangat merindukan kekasihnya yang sudah 1 bulan tidak bertemu dengan nya. Mereka melakukan LDR yang sebelumnya sama sama Di Paris.


"Oh iya, aku akan mengenalkan mu pada seseorang nanti" ucap Pria itu ketika mengingat sesuatu.


"Kebiasaan yah, belum di jawab tapi sudah nebak sendiri"


Raya terkekeh pelan mendengar omelan dadi kekasihnya.


"Yasudah, tidur gih, aku juga mau kerja dulu"


"Baiklah, semangat kerjanya" sahut pria itu sembari melemparkan ciuman dengan kedua tangannya.


"Nice dream honey"


Panggilan telfon berakhir, Raya tersenyum bahagia. Akhirnya kekasihnya akan datang menemui nya.


"Siapa itu? " tanya Mila yang baru saja memasuki kamar Raya. Wanita yang sengaja membagi kamarnya menjadi 2 area tanpa OEM atas. Sebelahnya tempat ia bekerja, dan sebelahnya tempat Raya istirahat. Menurut Raya, pekerjaan nya adalah pekerjaan tanpa waktu. Ketika sebuah ide muncul, maka di saat itu juga Raya harus menuangkannya ke dalam buku atau langsung mempraktekan nya.


"Kak... " panggil Mila lagi.


"Iya kenapa? " tanya Raya pura-pura tidak dengar.

__ADS_1


"Siapa itu?? "


"Yang mana? "


Raya pura-pura tidak tahu siapa yang di maksud oleh adik sepupunya ini. Raya masih merahasiakan identitas pacarnya. Menurut Raya, ketika mereka sudah membicarakan sesuatu yang serius dan langsung melaksanakan pertunangan, maka di sanalah ia akan memamerkan kekasih tampan nya.


"Itu loe kak!! yang barusan video call sama kakak" sungut Mila kesal karena Raya terus saja pura-pura tidak tahu.


"Bukan siapa siapa, kepo aja deh loe" ucap Raya membuat Mila semakin mencak mencak kesal.


"Gue penasaran tahu, tapi loe nya ngeselin! " cibir Mila membuat Raya tertawa geli.


Mereka duduk di atas ranjang Raya, keduanya saling tersenyum. Raya kembali fokus dengan ponselnya, melihat lihat hasil jepretan dirinya bersama sang kekasih. Aktifitas Raya terhenti ketika mendengar helaan nafas berat dari Mila.


"Ada masalah apa? " tanya Raya menatap Mila penasaran.


"Kepo.... " balas Mila. Raya mengerut kesal, Mila membalas perbuatannya tadi.


"Ihh yaudah gak usah cerita" sungut Raya.


Mila terkekeh pelan, merebahkan tubuhnya di atas ranjang Raya sembari menatap langit langit kamar Raya nanar.


"Gue kangen Zoya" lirih Mila.


Kalian tahu gak sih kenapa Mila dan nisa begitu sedihnya kehilangan zoya? . Jadi mereka itu merasa sangat bersalah karena mengakui zoya sebagai sahabat, sementara mereka tidak tahu penderitaan yang zoya alami. Bahkan Zoya kehilangan papa dan bayi yang selama ini ia jaga, kedua sahabat nya tidak di sisiNya. Mila sangat terpukul, bahkan hampir sama seperti Azlan. Zoya berjuang menutupi kerapuhan nya dalam senyuman.


"Gue yakin, Zoya akan kembali lagi" ujar Raya. Mila menatap ke arahnya, lalu mereka tersenyum bersama. Raya berharap Zoya kembali dan melihat senyum di bibir sang adik. Sementara Mila berharap Zoya kembali lagi agar mereka kembali bersama, dan menebus semua penyesalan.


...----------------...


Zoya bingung ingin melakukan apa, terkurung di dalam kamar yang berukuran besar. Tanpa di perintah, kaki zoya melangkah ke arah balkon.


Pemandangan yang memiliki sedikit perubahan masih mampu menenangkan hati Zoya. Terlihat dari atas sana betapa padatnya kota jakarta. Keasikan Menikmati semilir angin yang seakan akan menghempas hempaskan rambutnya membuat zoya tidak sadar akan ke hadiran Azlan.


Zoya kaget ketika tiba-tiba tubuhnya di peluk dari belakang. zoya tidak bisa melihat wajah orang itu karena tubuhnya di tahan agar tidak bisa berbalik. Zoya menghirup aroma yang sejak lama ia rindukan, dan Aroma inilah yang selalu membuat hatinya merasa tenang.


Cukup lama mereka berada dalam posisi menempel seperti itu, hingga kecupan Azlan di leher Zoya membuat gadis itu tersadar dan langsung berbalik. Lalu mendorong Azlan kuat.


...----------------...


Apa yang akan terjadi selanjutnya???


tetap suport author yah, like. Komen, vote dan giftnya 😢.

__ADS_1


Maaf jika ada typo, dan mohon maaf jika author lama up nya. maaf banget. Author akan usahakan untuk selalu up untuk kalian.


Sesibuk apapun, tapi author akan melakukan yang terbaik agar kalian senang😘


__ADS_2