
Zoya menatap paman Pram dan Calista yang mengantar dirinya ke bandara. Calista tampak sedih seakan Zoya pergi dan tak kembali lagi.
"Hei gadis bodoh, berhenti menangis"
Zoya merengkuh tubuh Calista, memeluk sahabat nya erat. "Aku akan kembali menyaksikan pernikahan mu"
pletak~
Bukuhan tangan Calista melayang dan mengenai kepala Zoya. Gadis itu menatap Calista tak percaya, apa salah dirinya sampai mendapat jitakan darinya.
"Kau meledek ku? calon nya saja aku belum punya! " gerutunya. Zoya terkekeh, ia beralih menatap Pram yang sejak tadi hanya ikut terkekeh dengan tingkah keduanya.
Pram tersenyum, ia yakin Zoya bisa melakukan semua ini. Selain untuk perusahaan, Pram juga memiliki tujuan lain.
"Hati-hati di sana sayang, sering sering lah menghubungi paman"
Zoya tersenyum, lalu mengangguk pelan. Gadis itu pasti akan baik baik saja jika Azlan tidak menemukannya.
"Paman juga yah, jaga kesehatan mu selama aku pergi"
"Tentu saja Zoe, selagi selingkuhan ku ada di sini" kekeh Pram melirik Calista yang memanyunkan bibirnya.
"Kau sudah tua, aku tidak berselerah pada mu" tolak Calista.
Zoya dan Pram tertawa bersama, tingkah Calista benar-benar lucu. Di sela sela tawanya, Zoya melirik ke sekeliling mencari seseorang. Namun orang itu tidak ada di sana.
"Kau mencari Anggi? " tebak Pram.
"Tidak, aku yakin Anggi sibuk" balas Zoya tersenyum palsu, sesungguhnya ia sangat menginginkan sepupunya ada di sini.
"Anggi sedang ada dinas ke Turki, jika ia sudah selesai Paman akan menyuruhnya menemui mu" ucap Pram membuat hati Zoya senang.
"Perhatian, kepada penumpang yang bertujuan ke Indonesia. Di mohon memasuki pesawat. Karena sebentar lagi pesawat akan berangkat"
"Perhatikan setiap barang barang anda, dan pastikan tidak ada yang tertinggal. Terimakasih"
Zoya tersenyum, lalu menarik koper pinknya setelah pengumuman selesai.
"Baiklah, aku pergi dulu. " pamit Zoya, lalu melangkah masuk ke pesawat.
"Sampai di sana kamu harus menghubungi ku!! " teriak Calista menghapus jejak air mata di pipinya.
"Aku akan merindukan mu" teriak Calista lagi, yang hanya di balas oleh Zoya dengan lambaian tangan tanpa menoleh.
"Dia akan baik baik saja, di sana lah letak kebahagiaan nya" gumam Pram menghela nafas berat.
__ADS_1
"Paman mungkin benar, semoga Zoe kuat " sahut Calista.
Di dalam pesawat, Zoya duduk di bangku penumpang di tepi jendela. Matanya menatap luas nya langit. Pesawat sudah terbang selamat 3 jam. Tersisa waktu penerbangan 20 jam 45 menit lagi termasuk trasitnya.
Di saat penumpang lain memutuskan untuk tidur, Zoya malah terjaga dan setia menatap awan yang dari jauh terlihat seperti gumpalan, namun berubah menjadi asap ketika pesawat membelanya.
Ngantuk menyerang mata indah itu, namun setiap kali Zoya ingin memejamkan matanya, saat itu pula wajah Azlan terukir di sana.
"Loe selalau membuat gue kacau"
Zoya memejamkan matanya, menikmati perjalanan nya di temani bayangan bayangan masa lalu.
Pukul 9 pagi, Zoya mendarat di bandara soekarno hatta. Langkah kakinya tampak tercekat sehingga langkah kakinya melambat.
Zoya menghirup udara segara negara asalnya yang sudah 6 tahun lama nya ia tinggalkan.
"Aku kembali, tapi bukan sebagai Zoya! Zoe nama ku Zoe" tekan Zoya pada dirinya sembari menggenggam tag name yang ia tempelkan di dada sebelah kiri nya. Tag name itu terlihat mengkilap ketika terkena cahaya matahari.
Zoya memberhentikan Tahu untuk membawanya ke hotel terdekat.
"Kemana neng? " tanya Supir menatap Zoya melalui spion.
"Taman pemakaman melati pak" sahut Zoya, ia merubah rutenya. Zoya ingin menjenguk makan putranya terlebih dahulu. Sejak putranya yang di beri nama Arzael pramudia.
Air mata Zoya kembali mengalir mengingat sang putra, bayi itu masih belum melihat dunia, tetapi yang maha Kuasa sudah memanggilnya.
"Bapak tunggu di sini, saya akan kembali karena ini bukan tujuan utama saya " tutur Zoya yang di angguki oleh supir Taxi.
Zoya terus menelusuri pemakaman melati, hingga kakinya terhenti pada gundukan kecil yang sudah di beri keramik agar terlihat lebih terawat.
"Arzael" lirih Zoya mengelus batu nisan putranya. Di letakkan nya bunga yang sempat zoya beli di depan pemakaman itu, di kecupnya bagus nisa biru yang bertulisan nama Arzael.
"Sayang, mama datang. Apa kamu bahagia sekarang? "
"Apa kamu senang karena mama sudah menjenguk mu? " lirih Zoya berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Kamu yang sabar yah! "
Deg.
Suara itu, Zoya menghapus air matanya cepat lalu segera berdiri. Tanpa menoleh pada pria yang sedang berdiri di belakang nya Zoya beranjak cepat.
"Zoya tunggu! "
Azlan menahan tangan Zoya.
__ADS_1
"Maaf, anda salah orang. permisi" Zoya menghempas kan cekalan tangan Azlan, lalu kembali beranjak pergi. Azlan tak akan membiarkan Zoya lepas begitu saja. Bukan suatu kebetulan jika ia bertemu dengan Zoya di pemakaman putra mereka.
Azlan kembali mengejar Zoya lalu menahan tangan Zoya, wanita itu terus meronta tanpa menoleh padanya.
"Zoya!! gue gak salah!! loe itu Zoya!! "
"Maaf, anda salah orang!! tolong lepaskan saya! " mohon Zoya, wanita itu terus meronta melepaskan tangannya dari cekalan tangan Azlan. Ia tetap tidak mau menoleh takut Azlan melihat wajahnya dan kembali membawanya.
"Zoya!! gue tahu ini Loe" Azlan mendekap tubuh Zoya erat, menahan setiap gerakan tangan Zoya yang terus mendorong tubuhnya agar, menjauh.
"Lepaskan!!! " bentak Zoya,lalu mendorong tubuh Azlan hingga membuat pria itu terjungkal ke tanah. Zoya pun menggunakan kesempatan itu untuk kabur.
"Zoya!!! Zoya!! " teriak Azlan mengejar Zoya yang sudah masuk ke dalam taxi dan melaju pergi.
"Zoya!!! loe gak akan bisa lari dari gue!!!! " teriak Azlan kuat. Zoya masih bisa mendengar teriakan Azlan. Tubuhnya bergetar hebat, ia tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan Azlan secepat ini. Bahkan di saat dirinya baru saja tiba di negara ini.
"Neng, gak papa? " tanya Supir, ia kasihan melihat penumpang nya ini menangis sejak ia masuk tergesa gesah ke dalam taxi nya.
"Jalan yang cepat saja pak"
Supir taxi itu pun mengangguk pelan, lalu melajukan mobilnya menuju sebuah hotel di pusat kota.
Zoya masih dalam keadaan bergetar, kakinya sudah lemas. Matanya menatap ke luar taxi dengan air mata terus mengalir melalui sudut matanya.
"Aku tidak boleh bertemu lagi dengannya. Aku tidak boleh" Zoya terus meyakinkan dirinya, ia berusaha menenangkan hati yang mulai gelisah.
"Azlan!! " gumam Zoya matanya menatap tajam keluar sana. Ia harus kuat, Zoya harus mempersiapkan dirinya untuk menghadapi pria itu.
Zoya tidak boleh terlihat lemah, pria itu pasti akan mencarinya apalagi Azlan sudah mengetahui dirinya sudah kembali dan keluar dari persembunyian.
"Loe gak akan bisa membuat gue jatuh dan terpuruk lagi! " tekat Zoya mengepal tangannya kuat.
"Neng, sudah sampai"
Zoya tersentak dari pemikiran nya, gadis itu lalu turun dari Taxi setelah memberikan 3 lembar yang tukaran 50 ribu.
"Ini neng kembaliannya" ucapan supir taxi itu setelah menurunkan koper Pink Zoya dari bagasi.
"Sudah pak ambil saja"
"Gak neng, saya cukup menerima sesuai cargo yang ada, " tolak supir itu.
"Gak papa pak, ini rejeki bapak. Terimakasih" ucap Zoya lagi setengah memaksa agar bapak itu menerima uang yang tidak seberapa itu.
"Terimakasih neng"
__ADS_1
Zoya mengangguk lalu berjalan memasuki hotel dan melakukan pem bookingan kamar.
...----------------...