
Zoya tersadar, matanya mengerjap ngerjap menyesuaikan pencahayaan lampu. Matanya menatap sekeliling, terlihat tidak asing bagi Zoya.
"Dimana gue? " batin Zoya. Di lihatnya mama febi berjalan sembari tersenyum yang di paksa kan ke arah nya.
"Kamu sudah bangun sayang" Mama Febi duduk di samping Zoya, menggegam tangan yang masih terasa dingin.
Zoya sedikit merasa aneh, ada yang hilang dari dirinya. Di rabanya perut yang kini sudah kembali datar.
"Mah, bayi Zoya mana?? bayinya kemana ma?? " tanya Zoya mulai panik, ia tidak mau kehilangan bayi yang selama ini ia rawat di dalam kandungan nya. Bayi yang sangat di nanti nantinya telah tidak ada. Awalnya Zoya memang ingin bayi itu tiada, tetapi setelah mengandungnya selama berbulan bulan membuat Zoya menyayanginya. Ibu mana yang tidak menginginkan anaknya.
"Zoya tenang lah nak, kamu harus tabah" ucap mama Febi.
"Apa?? tabah? " ulang Zoya. Tidak, ini tidak mungkin. Zoya menggeleng cepat, ia tidak ingin kehilangan bayinya, cukup sudah papa yang meninggalkannya.
"Maafkan mama Zoya"
"Mama tidak berhasil menjagamu"
Zoya tak lagi mendengarkan ucapan mamanya, ia kembali menangis dalam diam. Zoya belum siap kehilangan semua yang ia sayangi.
Ceklek.
Azlan berjalan memasuki kamar Zoya, mata pria itu terlihat sembab.
"Maaf"
Hanya itu kata yang terucap dari bibir Azlan, matanya menunduk tak berani menatap Zoya.
Zoya yang melihat Azlan langsung berusaha untuk mendudukkan tubuhnya, gadis itu menatap Azlan tajam. Jika bukan karena pria itu, Zoya tak akan kehilangan anaknya.
"Pergi!!! pergi loe dari sini!!! gara gara loe!! gue kehilangan semuanya!!!! " Zoya histeris, oa berusaha menggapai Azlan dan ingin mencakar cakar Azlan. Namun keinginan nya tidak tercapai karena Febi menahan tubuhnya.
"Azlan sebaiknya kamu keluar dulu, biarkan Zoya tenang" ucap Febi, Azlan pun mengangguk menurutu permintaan sang mertua. Bukan hanya Zoya yang terpuruk di sini, Azlan juga merasakan hal yang sama. Ia benar-benar sudah mencintai Zoya, namun setiap masalah mulai berdatangan. Azlan tidak tahu di mana letak salahnya.
__ADS_1
"Sayang, sabar yah. Zoya munkin sedang terpuruk" Ujar Meika mengusap punggung putranya lembut. Raya yang iba melihat adiknya langsung memeluknya erat.
"Semua ini pasti akan berlalu, percaya sama gue. Setelah badai, akan ada pelangi"
Mereka menunggu di luar, menunggu Febi mempersiapkan Zoya untuk melaksanakan acara penguburan sang bayi. Putra mereka sudah di kafani dan siap untuk di kebumi kan.
"Sayang kamu sudah siap? " tanya Febi.
Zoya tak menjawab, gadis itu hanya mengangguk. Beberapa suster membantu Zoya pindah ke kursi roda.
Bayi tampan tertidur seakan tersenyum. Wajahnya sangat mirip dengan Azlan, hidung mancung bibir tipis persis seperti Zoya.
"Putra ku" gumam Zoya menatap putranya yang sudah di balut kafan. Tetesan air mata mulai berjatuhan tak tertahankan. Zoya menutup mulutnya menahan tangis.
"Maafkan papa sayang" lirih Azlan mengecup pipi bayi kecilnya, lalu menyodorkan pada Zoya untuk memberikan kecupan terakhir.
"Istirahat yang tenang sayang" lirih Zoya, mengecup pelan bayinya, lalu membawanya ke dalam dekapan nya.
"Maafkan mama" bisik Zoya.
"Kuburkan lah" Zoya memberikan Bayi nya ke pada Azlan, dengan berat hati ia harus mengikhlaskan putra tampan nya.
"Kamu akan selalu ada di hati mama" batin Zoya. Seiring jatuhnya air mata Zoya, bayi tampan sudah selesai di kuburkan. Kesadaran Zoya pun memudar.
...----------------...
"Bunda!!!! Zoya mana? " Azlan terengah berlari ke sana kemari mencari Zoya di setiap sudut rumahnya. Sejak penguburan sang putra Azlan ikut pingsan bersama Zoya, tubuh lelahnya dan juga pengaruh tidak tidur membuat tubuh Azlan drop hingga jatuh pingsan.
"Loe liat Zoya?? gue udah cari kemana mana, tapi Zoya gak ada"
Raya menghela nafas, lalu menepuk bahu adiknya pelan. Apa maksud nya ini? Azlan berlari mendekati bundanya yang duduk di ruang keluarga.
"Bunda! Zoya kemana? apa Zoya sedang keluar? " tanya Azlan panik.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Meika malah menepuk sofa agar Azlan duduk di sebelahnya. Azlan pun paham, ia duduk di samping bundanya masih dalam keadaan panik dan menunggu jawaban dadi sang Bunda.
"Bunda kok gak jawab, Zoya mana? "
"Sayang, Zoya sudah di bawa oleh mamanya. Keadaan Zoya benar-benar drop. " jelas Bunda Meika sembari mengambil secara kertas yang tergeletak di atas meja, lalu memberikannya pada Azlan.
"Ini, tanda tangan surat ini. maka kamu sudah sah bercerai dengan Zoya. "
"Gak bun, Azlan gak mau bercerai sama Zoya bun. Azlan cinta sama dia bun" tolak Azlan bangkit dari duduknya, lalu pergi begitu saja meninggalkan ruang tamu.
"Mama juga maunya begitu, tapi Zoya memintanya sayang" lirih Meika menunduk pasrah, ia tidak tahu harus bagaiamana. Febi ngotot ingin membawa putri nya yang dirinya pikir menderita hidup bersama Azlan.
Azlan berjalan cepat keluar dari rumah besarnya, masuk ke dalam mobil sport lalu melaju meninggalkan rumah.
Pria itu melaju menuju rumah Zoya, ia tidak ingin kehilangan Zoya, apalagi bercerai dengan gadis yang sudah menjadi belahan jiwanya.
Azlan tampak gila, ia menerobos lampu merah bahkan menyelip asal mobil mobil yang menghalangi jalannya. matanya mengkilap tajam. Siapapun yang melihatnya saat ini, akan merasa ketakutan karena terlihat tidak ada kilauan persahabatan di sana.
Tibanya di rumah besar Zoya, Azlan langsung memarkirkan mobilnya, lalu bergegas keluar dari mobil ketika melihat bi Iyun menarik sebuah koper.
"Bi, mana Zoya bi? " Azlan berdiri tepat di depan Bi Iyun, matanya menatap bi Iyun penuh harap.
Namun seketika Air muka Azlan berubah menjadi dingin ketika bi Iyun menggeleng pelan.
"Maaf den, bibi gak tahu. Nona Zoya sudah pergi sejak tadi malam"
Azlan menggeleng, ini tidak mungkin Ia harus menemukan istrinya. Mama Febi tidak boleh membawa Zoya. Tapi kemana?? Azlan tidak tahu harus mencari Zoya kemana.
"Yang sabar ya Den, jika jodoh pasti bertemu kok" lirih bi Iyun, lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah besar itu.
Febi sudah memberhentikan bi Iyun karena Mereka akan pindah dan tidak akan kembali lagi ke negara ini.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...