
Dea masuk ke dalam cafe, raut wajahnya tidak bersahabat. Kikan karyawan nya tidak berani menyapa nya.
"Eh bos kenapa tu? " Reni menyenggol bahu Kikan.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba bos sudah seperti itu" sahut Kikan menggeleng pelan.
Dea masuk ke dalam ruangannya, pintunya terhempas kuat.
"Apa sesuatu terjadi? " gumam Reni.
"Hei, ada apa ini? " Kikan dan Reni langsung menunduk hormat.
"Selow saja, aku bukan bos kalian" balas Caca. Namun Kikan dan Reni tetap saja melakukan nya. Walau bagaimana pun Caca adalah keponakan pemilik cafe ini.
"Apa yang kalian bicarakan tadi Dea? " Ragu ragu Kikan menganggu pelan.
"Bos Dea datang ke cafe dengan wajah yang sangat masam" ucap Reni ke ceplosan.
"Benarkah? apa yang terjadi? " gumam Caca. Kedua pelayan itu menggeleng tidak tahu.
"Ya sudah, aku akan bertanya langit pada Dea, kalian silakan lanjutkan pekerjaan kalian" ucap Caca. Kikan dan Reni menunduk hormat, lalu kembali pada pekerjaan masing-masing.
Dea duduk di kursi ke besarannya, mengecek laporan pendapatan minggu ini dari Kikan. Semua ny masih tetap sama, bahkan semakin meningkat.
Tuk!! Tuk!!
"Apa aku boleh masuk? " Dea mencebik, Caca selalu bertingkah menyebalkan seperti ini.
"Jika aku tidak memberi kakak ijin, apa kakak tidak jadi masuk? " cibir Dea. Tawa caca langsung pecah, gadis itu melangkah masuk, lalu duduk di depan Dea.
"Apa yang terjadi? mengapa wajah mu jelek sekali? "
"Jangan memancing ke marahan ku! " peringat Dea melirik caca kesal, lalu dea kembali menyelesaikan pemeriksaan laporan keuangan cafe.
"Aku dengar kamu mengamuk yah? " tanya Caca.
Dea menoleh pada Caca dengan mulut terbuka. "Mengamuk gimana? orang aku tidak emosi"
"Nah itu emosi" celetuk Caca. Gadis ini sangat suka melihat Dea kesal.
"Ihh kak Caca,, kalau kakak cuma mau buat aku kesal mendingan kakak pulang deh" usir Dea.
"Ih ngusir? "
"Terserah"
__ADS_1
"Iya iya maaf, tapi aku mau tanya serius sama kamu" Caca menatap Dea serius.
"Apa? " Dea menghentikan kegiatannya sebentar agar fokus pada Caca.
"Kenapa kamu tiba-tiba datang ke cafe dengan wajah di tekuk"
Dea mencebik, ia pikir sesuatu serius apakah yang membuat kakak nya ini menghampiri nya ke dalam. Eh malah hanya menanyakan hal itu, ini pasti berkucot dua itu yang mengatakannya.
Dea menghela nafas gusar,berusaha meredakan emosi yang tadi sudah mulai mereda. Setiap kali mengingat kejadian tadi, jantung dea mulai memburu cepat, Dea seolah kembali terbawa emosi.
"Mobil kesayangan aku tergores, seseorang tanpa bertanggung jawab melakukannya! "
Brak!!
Tangan Dea mengepal dan menggebrak meja kuat, ia kembali terbawa suasana tadi.
"Apa?? trus gimana keadaannya? udah di perbaiki belum? " ucap Caca pura-pura panik, Dea terlalu mencintai mobil nya itu, sedikit saja gores bisa membuatnya menangis berhari hari.
Dea mengerut, Caca mulai mengejek nya.
"Ih kak Caca jangan meledek aku lah"
"Yah, kamu sih. Giliran di ajak pergi gak bisa. Tapi giliran mobil kamu langsung bisa "
"Au ah, pokoknya aku sangat kesal sekarang"
"Maksud kakak apa? "
"Huh? apa kau mendengarnya? " Dea mencebik, pertanyaan konyol apa yang Caca lontarkan ini, Caca bergumam, tapi suaranya seperti memakai toa.
"Hehehe... " Caca tercengir.
"Aku pikir kamu bersikap aneh karena seseorang cowo, makanya aku langsung kesini" Caca terkekeh di ujung ucapannya.
"Hmm... kenapa isi kepala kalian cowo semua sih"
"Yah wajar lah, umur segini tu udah mulai memperhatikan cowo, lalu ajak serius. Nah nikah deh setelah lulus"
"Wah pemikiran yang luar biasa" cibir Dea, namun dia tidak sependapat dengan Caca. Ia lebih memikirkan karirnya ketimbang melakukan hal konyol itu. Menurut Dea, jodoh itu akan datang dengan sendirinya, tidak perlu bersusah susah mencari jodoh yang sudah pasti, lebih baik perbaiki diri dan terus berusaha menjadi lebih baik lagi.
......................
Hari ini adalah hari pertama Bastian mulai masuk kulia. Seharusnya 2 hari yang lalu, tapi karena malas Bastian mengatakan pada wali dosen nya untuk mulai masuk hari ini.
Seluruh mahasiswi se penjuru kampus tahu tentang ke datangan Bastian. Ia di kenal sebagai mahasiswa populer karena ketampanan nya dan juga ke ramahannya.
__ADS_1
Bastian berjalan menuju kelasnya, hari ini pria itu ada jam kuliah siang. Bastian sekarang suda semester 6, Karena kepintarannya yang luar biasa. Bastian mampu menguasai ke empat prospek di jurusan management. Keempat prospek itu adalah, management keuangan, pemasaran, operasi dan sumber daya.
Ketika Bastian melewati koridor kampus, banyak komentar komentar dari mahasiswi yang membicarakannya.
"Wahhh benar-benar tampan"
"Persis seperti gosip yang beredar"
"Eh eh, dia tersenyum!! " sekelompok mahasiswi itu lompat lompat kegirangan ketika Bastian tersenyum ke arahnya dan mengedipkan sebelah matanya.
"Ada apa sih, kok rame banget" gumam Lisa penasaran. Celsi mengangguk setuju, ia juga penasaran dengan apa yang membuat semua mahasiswi heboh seperti ini.
"Ihhhh Celsi!!!!!!!! " teriak Lisa heboh.
"Ada apa? "
"Itu.... itu cel... " Celsi mengikuti arah tunjuk Lisa, seketika Celsi berbinar dan uring uringan.
"Ada apa sih! " dengus Dea risih melihat kedua sahabatnya heboh seperti ini. Karena penasaran akhirnya Dea bangkit dari duduk nya dan ikut melihat ke arah koridor kampus.
"Cowo itu! " Gumam Dea mengepalkan kedua tangannya.
"Kamu kenal De? " tanya Celsi, ia kaget ketika mendengar gumaman Dea.
"Huh? masa sih" sahut Lisa tak percaya.
"Pria bodoh itu!!! yang udah membuat mobil ki tergores! " ucap Dea menunjuk Bastian yang sudH menghilang dari sana.
"What?? bagaimana bisa"
"Aku tidak tahu, pria yang tidak memiliki tata krama itu sangat sangat menyebalkan! " maki Dea. Lisa dan Celsi saling menyikut, baru kali ini mereka melihat Dea peduli dengan keberadaan seseorang, bukan dalam arti care suka atau gimana. Sebelum nya banyak juga pria yang mencoba menarik perhatian Dea dengan berbagai cara dan masalah. Namun Dea tidak pernah tertarik, bahkan mengabaikan segala masalah itu. Tetapi kali ini, hanya karena goresan kecil, Dea terlihat sangat heboh.
Sekarang mereka berada di depan kelas, menunggu dosen yang katanya akan masuk 10 menit lagi. Namun sudah 25 menit menunggu pak bondan tidak menunjukkan wujudnya.
"Dea kamu mau kemana? " teriak Lisa karena Dea tiba-tiba keluar dari kelas.
"Pak bondan tak akan masuk, sudah 30 menit berlalu" sahut Dea, ia tak suka berdiam diri tanpa melakukan apapun seperti ini, waktunya akan terbuang sia-sia dan tidak ada manfaatnya.
"Awas Dea.. " pekik Celsi, Dea tidak memperhatikan jalan nya karena menoleh kepada mereka berdua hingga sesuatu terjadi.
BrakkK!
Bug.
"Akhw..... "
__ADS_1
...----------------...