
Dua belas tahun kemudian....
Dea, si gadis cerdas dan gadis yang sangat irit bicara itu berjalan di Koridor kampus menuju perpustakaan. Siapa yang tidak tahu dengan gadis ini, dan siapa juga yang berani mengganggunya jika tidak ingin berakhir babak belur.
Dari ujung sana, Celsi dan Lisa berlari saling memacu.
"Dea!!!!!! Dea!!!! "
Celsi dan Lisa berdiri di depan Dea yang menatap mereka aneh. Dahi Dea mengerut, apa yang membuat Celsi dan Lisa berlari seperti di kejar anjing gila.
"Ada apa? kenapa kalian berlari seperti orang gila begini? "
Celsi menghela nafas panjang, mengatur nafas yang masih terdengar memburu.
"Kamu tahu tidak, ada mahasiswa pindahan dari London" ucap Celsi setelah mengatur nafasnya. Lisa ikut mengangguk mengiyakan ucapan Celsi.
"Katanya ni yah, dia sangat tampan, cowo populer di kampus nya" sambung Lisa serius, mereka berdua terlihat sangat antusias menceritakan anak baru itu.
Dea menggeleng pelan, ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju perpus yang sempat tertunda.
"Loh Dea, kok malah pergi si" teriak Celsi mengejar Dea dan mengiringi langkah Dea. Tentu saja Lisa mengekori mereka, kedua gadis itu benar-benar membuat Dea bosan.
"Kalian itu hanya membuang buang waktu ku saja, obrolan tidak penting itu tak ada gunanya" Dea menatap kedua sahabat nya itu malas, lalu kembali melangkah cepat membiarkan kedua temannya yang menekukkan wajah nya.
"Ih Dea, selalu saja begitu"
"Tau ih, gimana mau nikah coba? kalo sama Pria saja dia tidak terlalu peduli"
Celsi mengerutkan dahinya, Lisa tiba-tiba syok dan menutup mulutnya dengan kedua mata melotot.
"Kamu kenapa? "
"Cel, jangan jangan.... " lirih Lisa menghentikan kalimat nya.
"Jangan jangan apa? "
Celsi mulai penasaran, ia menatap Lisa penuh tanda tanya.
"Jangan jangan apa? "
Lisa memegangi kedua bahu Celsi erat, raut wajah nya masih sama.
"Jangan jangan apa sih Lisa"
"Jangan jangan Dea tida memiliki ketertarikan pada laki-laki? "
Peletak!
__ADS_1
Sebuah jitakan melayang ke kepala Lisa, Celsi mencebik kesal. Ia pikir Lisa tahu sesuatu tentang Dea, eh malah gadis ini memikirkan sesuatu yang tidak masuk akal.
Lisa merengut, tangannya terangkat mengusap usap kepalanya bekas jitakan tangan Celsi.
"Sakit tahu Cel! "
"Kami sih aneh aneh aja, mana mungkin Dea seperti itu" decak celsi pergi begitu saja meninggalkan Lisa yang merengut padanya.
"Tungguin aku!!! " Lisa akhirnya mengejar Celsi.
Di perpustakaan Dea duduk di sudut ruangan salah satu ruang baca langganan nya. Sepasang earphones terpasang indah di telinganya.
Dea membuka earphones nya ketika seseorang menyenggol bahunya. Pria yang bernama Boby duduk di depan Dea.
"Ada apa? " tanya Dea jutek, tatapannya terlihat kesal karena Boby mengganggu waktu santai nya.
"Ya elah Dea, kamu jutek banget sih" gerutu Boby.
Boby adalah teman sekelas Dea dan juga kedua sahabat nya Lisa dan Celsi. Melanjutkan pendidikan pada Universitas yang sama dengan Dea , adalah sebagai usaha Boby agar bisa selalu berdekatan dengan gadis ini.
"Ada makanan tidak? " sahut Dea merubah ekspresi nya menjadi biasa saja. Boby yang sudah tahu kebiasaan Dea langsung mengeluarkan berbagai macam makanan kesukaan Dea.
"Ekhem!! "
Bu Sulis mengetuk dinding pengunguman yang menyatakan di larang membawa makanan ke dalam ruang baca.
"Maaf yah bu" lirih Dea menunduk hormat.
"Hemm" balas bu Sulis dengan tatapan tajam nya.
"Buruan Bob, "
Dea dan Boby berlari kecil agar segera berlalu dari sana, dan terhindar dari bu Sulis.
Dea dan Boby pergi ke taman, mereka sudah menghubungi Lisa dan Celsi. Berdua saja dengan Boby membuat Dea merasa tidak nyaman. Bukan tidak tahu, Dea tahu jika Boby memiliki rasa yang berbeda untuk dirinya.
"Wah Boby Royal lagi ni yee" goda Lisa mencolek colek dagu runcing milik Boby.
"Apaan sih, udah makan aja" tepis Boby.
"Ih sih Boby, sama kita aja ketus. Coba sama Dea" gumam Celsi menggerutu.
"Pasti lembut lah" sambung Lisa.
Dea hanya diam saja, mendengar kan celetukan aneh dari kedua sahabat nya. Hal ini tidak lagi menjadi sesuatu yang baru bagi Dea.
"Dea, apa kamu benar-benar tidak tertarik ingin mengetahui siapa mahasiswa itu? "
__ADS_1
Bukan nya Dea, tapi malah Boby yang kaget mendengar ucapan Lisa.
"Siapa mahasiswa baru itu? dan apa hubungannya dengan Dea? " tanya Boby penasaran.
"Ihhh si tukang kepo, kita itu lagi berusaha agar Dea memiliki rasa ketertarikan pada laki-laki" balas Lisa polos.
Celsi langsung melotot dan membekap mulut Lisa. Gadis itu belum siap dengan apa yang Celsi lakukan, sehingga tubuh Lisa hampir terjungkal ke belakang.
"Ihh Lisa, kamu pikir aku lesbi" dengus Dea kesal. Ia malah mengambil seluruh makanan miliknya dan menjauhkan dari kedua sahabat nya itu.
"Emang bener yah, kamu gak ada deket sama cowo kecuali cuma sama Boby" balas Lisa.
Mendengar namanya di sebut sebut membuat Boby tersenyum malu.
"Sama tu cowo kamu gak akan berkembang" celetuk Celsi kesal, ia melirik Boby dengan tatapan membunuh.
"Apa salah ku? " tanya Boby pura pura tidak tahu.
"Aku yakin, karena Boby selalu saja berada di sisi Dea, makanya tidak ada yang mau dekat sama Dea" ungkap Celsi masih menatap lekat Boby.
"Celsi... " lirih Lisa, tatapannya melemah setelah mendengar ucapan Celsi barusan. Bukan karena Boby yang membuat para cowo takut mendekati Dea, tetapi karena sikap jutek dan cueknya lah yang membuat para cowo tidak berani menanam rasa untuk Dea.
"seperti nya tidak ada yang salah dengan Boby, tapi yang salah itu temen kamu itu" bisik Lisa pada Celsi sembari melirik Dea yang acuh dengan obrolan kedua temannya.
"Hem.. benar juga, cowo kaya Boby juga gak bakalan membuat mereka takut" cibir Celsi.
"Apa? maksud kalian aku lekong? " serga Boby marah, matanya hampir keluar menatap kedua gadis ada di hadapan nya ini.
Sebenarnya Boby sangat tampan, tubuh atletis, kulit sawo matang, hidung mancung. Boby sama seperti Dea, terlahir dari keluarga Sultan.
"Boby cukup maco kok" sahut Dea tiba-tiba. Boby yang mendengarnya langsung mengembangkan senyum bahagia, beribu ribu pertanyaan melambung di pikiran nya.
Apa Dea tertarik padanya? apa Dea memperhatikannya selama ini?? Apa Dea, apa Dea... ahh semuanya berputar putar di kepala Boby sekarang.
"Jangan ngayal dulu!! " timpal Lisa dan Celsi menepuk pipi Boby bersamaan. Pria itu tersenyum aneh menatap ke arah Dea. Lisa dan Celsi yakin jika pria itu sedang menghayal.
Di tempat lain, seorang pria tinggi kulit putih susu hidung mancung dan memiliki tatapan yang memukau.
"Kak Tian!!!!! "
Pria itu memejamkan matanya sebentar ketika suara melengking itu merasuki gendang telinganya.
Bastian berlari kecil meninggalkan gadis imut yang dengan penuh semangat berlari mengejar pria itu.
Bastia baru saja tiba di bandara, ini adalah pertama kalinya ia pulang sejak lulus SD dan pergi ke London untuk menimba ilmu.
...----------------...
__ADS_1