
Mentari bersinar terik, semilir angin menyejukan sejenak dikalah kulit merasakan panas. Seperti hati Zoya yang kini terasa sejuk menatap indahnya mekaran bunga di bawah sinar matahari.
"Cantik sekali" gumam Zoya tersenyum manis.
"Di sini loe ternyata"
Zoya menoleh, matanya menyipit silau kearah Mila yang datang dari arah matahari bersinar.
"Dari tadi gue nyariin loe"
"Ada apa? "
Mila menggeleng pelan, ia hanya ingin mengobrol.
"Eh, gue kok gak di ajak"
Nisa berlari menghampiri keduanya, lalu duduk bersama di taman.
"Selama 6 tahun belakangan ini, apa aja yang loe lakuin? " tanya Nisa penasaran.
"Hmm.. gak banyak. "
"Apa loe kerja di perusahaan besar? atau loe menjadi CEO? " tebak Mila.
Lagi-lagi Zoya menggeleng, tidak pernah terpikir di benaknya seperti tebakan kedua sahabat nya ini.
"Lalu apa yang loe lakuin? "
Zoya menghela nafas, lalu tersenyum pada kedua sahabat nya.
"Lulus SMA, aku langsung masuk Universitas, jurusan management. Aku bekerja di perusahaan paman Pram. Dan menghabiskan keseharian duduk di pantai"
"Aku hanya akan datang ke kantor apabila perusahaan di ambang bangkrut. "sambung Zoya.
" Huh? gue pikir loe udah punya perusahaan sendiri, loe punya otak cerdas"
Zoya menggeleng, ia tidak memiliki mimpi itu lagi. Sejak kehilangan putranya, di saat itulah Zoya kehilangan tujuan hidup.
"Aku merasa mati, tujuan hidup hilang begitu saja"
Mila dan Nisa saling melirik, mereka sangat iba dengan nasib Zoya.
"Lalu bagaimana sekarang? "tanya Mila.
Zoya terdiam, ia mengerti maksud dari pertanyaan Mila.
" Entahlah, aku hanya mengikuti alur"
"Gue rasa hanya Azlan tujuan hidup loe"sungut Nisa.
" Nisa"tegur Mila, ia melirik Zoya yang malah menunduk.
"Tidak usah dengarkan dia, loe tenangin aja dulu hati loe" alih Mila agar Zoya tidak terbebani dengan ucapan mereka. Lalu Mila menarik Nisa menjauh dari taman belakang.
"Ihhh apaan sih Mil, gue mau ngasih tahu Zoya supaya dia ngerti Azlan juga menderita"
"Tapi gak gini juga caranya nis, Zoya butuh waktu! " bantah Mila.
Sementara Zoya menghela nafas gusar, ucapan Nisa memang benar. Namun hati tidak bisa di paksa. Zoya masih belum siap untuk memulai nya dari awal.
"Nih"
__ADS_1
Zoya mentap jus alpukat yang tiba-tiba ada di depan matanya.
"Loe pasti hauskan? "
Zoya masih diam, matanya masih fokus kearah jus itu.
"Udah ambil ajah, gue gak minta bayaran kok" ucap Azlan sembari meletakkan jus itu ke tangan Zoya.
"Terimakasih" lirih Zoya, gadis itu menerima jus alpukat dari Azlan, namun gadis itu juga bang kita dari duduknya hendak pergi.
"Mau kemana? " cegat Azlan.
"Aku mau masuk, panasnya sudah tidak enak"
"Tapi kan gue baru saja duduk"
"Aku tidak melarang mu untuk duduk di sana"
Zoya kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.
"Zoya! " panggil Azlan menghentikan langkah Zoya.
"Biarkan gue berjuang, beri gue kesempatan untuk merebut hati loe lagi"
"Gue yakin, bisa menaklukkan rasa ketakutan loe dan kebencian loe sama gue" sambung Azlan.
"Lakukan sesuka hati loe" lirih Zoya sebelum melanjutkan kembali langkah kakinya.
"Apa itu sebuah kode? " gumam Azlan bingung.
Azlan mendadak girang karena merasa Zoya memberinya kesempatan. "Lihat saja, gue bakal buat loe klepek klepek lagi sama gue"
"Apa ini kamar Azlan? "
Zoya melangkah masuk ke dalam sana, matanya membulat melihat kamar Azlan sangat berantakan.
"Astaga, pria bodoh itu hanya di luar saja terlihat rapi. " gerutu Zoya mulai merapikan isi kamar Azlan.
Di saat Zoya menyusun buku buku yang berserakan di atas meja, tanpa sengaja Zoya menyenggol satu buku yang berjudul My wife.
Buku itu terjatuh ke lantai, semua foto yang tersimpan di dalamnya berserakan di lantai.
"My wife? " gumam Zoya membaca judul buku. Lalu meraih lembaran foto dirinya yang berserakan.
"Sejak kapan foto foto ini ada sama pria itu"
Zoya menatap foto foto dirinya yang entah sejak kapan Azlan mengambilnya. Bahkan foto ketika mereka sedang melakukan masa orientasi siswa.
Tunggu, Zoya mencoba mencerna pemikiran nya sendiri. Azlan sudah mengikutinya sejak mereka awal masuk sekolah?.
"Ini ketika aku kena hukum karena mengacaukan labor " Gumam Zoya tertawa kecil mengingat peristiwa itu.
Zoya membalik lembar foto itu, ternyata ada pesan kecil yang tertulis di sana.
*gadis lucu, tapi galak.
Di sini dia cantik
Melihat mu kesal aku bahagia*.
"Alay" Gumam Zoya.
__ADS_1
Ada satu foto yang membuat Zoya terdiam, matanya menatap nanar lembaran foto itu. Foto dimana dia dan Azlan berdiri bersama sembari menunjukkan buku nikah. Zoya membalik lembar foto itu untuk melihat pesan apa yang Azlan tulis di sana.
"Kembali lah, aku merindukan mu. Akan ku pastikan air mata mu tak akan keluar lagi. Aku sangat merindukanmu. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga mu dan buah hati kita" Zoya meneteskan air matanya membaca pesan itu.
"Apa yang loe lakuin disini? "
Zoya tersentak, di sapunya kasar air mata yang sempat mengaliri pipinya. Lembaran foto itu di letakkan nya di atas meja kecuali foto pernikahan. Zoya menyembunyikan nya di balik saku bajunya.
"Aku hanya membereskannya" lirih Zoya, lalu bergegas pergi dari sana.
"Akhhh" pekik Zoya, tiba-tiba tubuhnya sudah melayang dan terhempas di ranjang.
"Sudah masuk tidak bisa keluar tanpa seijin dari gue"
"Apa yang kamu lakukan? "
Zoya berusaha bergerak agar terlepas dari kungkungan tubuh Azlan.
"Gue mau menanam benih"
"Tidak, kita tidak boleh melakukannya. Kita sudah cerai" tolak Zoya.
"Ya sudah, mari menikah lagi! "
"Aku tidak mau" tolak Zoya.
"Tapi gue mau!! gak sabar buat dedek lagi! " rengek Azlan mengecup bibir Zoya pelan.
"Azlan!! lepasin aku!! " teriak Zoya.
"Jika buat dedek gak boleh, setidaknya kita ciuman hot" kekeh Azlan.
"Aku tidakhmmpppp"
Azlan menyumpal mulut Zoya dengan mulutnya, kedua tangan Zoya di tahan di atas kepalanya, sementara tubuhnya di himpit oleh Azlan.
Cup.
Cup.
Cup.
"Aahhh Azlan, hentikan! " teriak Zoya merasa geli setiap kecupan kecupan Azlan pada seluruh area wajahnya.
"gue tidak akan berhenti, loe yang menyerahkan diri"
"Tidak, aku hanya membersihkan kamar kamu"
"tetap saja, kamu harus mendapatkan hadiah" keke Azlan, kembali menghujani wajah Zoya dengan kecupan lembutnya.
"Love you" lirih Azlan, lalu memejamkan matanya mulai menikmati setiap inci bibir Zoya.
Alam bawah sadar Zoya mulai menguasai dirinya. Perlahan Zoya mulai terbuai, menikmati permainan Azlan. Zoya juga sudah mulai memberikan perlawanan.
"Ahh"
tangan Azlan tak lagi menahan tangan Zoya, kini tangannya berpindah ke dua gunung kembar Zoya, berkerja sebagai mana mestinya di sana.
Zoya mengalungkan tangannya ke leher Azlan, meremas rambut Azlan ketika sensasi itu menghampiri dirinya.
Siang itu kembali terjadi penanaman benih, selain hati Zoya yang terenyuh membaca setiap pesan dari Azlan. Zoya juga kaget, bahwa Azlan sudah menyukainya sejak mereka bertemu di masa orientasi siswa.
__ADS_1