Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
(SEASON II) Will you marry me?


__ADS_3

Sesuai yang Bastian janjikan, pukul 8 malam pria itu kembali datang ke rumah Dea. Bastian datang bersama kedua orang tuanya, sebelumnya pria ini sudah memberitahu semua keluarganya soal ini.


Azlan sempat kaget mendengar penuturan putranya yang terkesan mendadak. Meskipun pria itu sudah tahu putranya menyukai Dea sejak kecil.


"Selamat malam Nisa, Ali" sapa Zoya ketika Nisa membukakan pintu menyambut mereka.


"Malam juga sahabat ku mari masuk" sahut Nisa berbinar.


"Hei bro... " ucap Ali bersalaman kas genk mereka.


"Ah lebay" cibir Bastian melihat tingkah para orang tua yang lupa umur itu. Pria itu melenggang masuk mengikuti momy dan aunty Nisa.


"Kau ini" dengus Azlan. Mereka pun ikut masuk menyusul istri dan anaknya.


"Ayo duduk zoya" ucap Nisa.


"Dea!!!!!!!!!! " panggil Nisa kuat.


"Tidak papa aunty, gak usah di panggil. " cegah Bastian membuat Nisa dan yang lain mengerut.


"Kenapa Bastian? "


"Karena gadis itu tahu bagaimana menyambut ku" kekeh Bastian mengingat terakhir kali ucapannya pada Dea tadi.


Azlan menatap penuh curiga pada putranya, ia yakin Bastian sudah melakukan sesuatu pada Dea, sehingga gadis dingin itu bisa bertekuk lutut di hadapan nya.


"Tidak usah menuduh ku" sangkal Bastian membuyarkan pikiran Azlan.


'Bagaimana mungkin dia tahu isi pikiran ku' pikir Azlan heran, semua tergambar di raut wajahnya.


"Karena dady bodoh" cibir Bastian.


Pletak!!!!


"Mulut mu!! "tegur Zoya.


" Rasain" cibir Azlan tersenyum menang.


Perdebatan mereka buyar, ketika mendengar bunyi koper di seret. Dea turun membawa 2 koper besar. Matanya menatap malas pada Bastian yang ternyata datang, membawa kedua orang tuanya.


"Loh Dea, kenapa membawa barang sangat banyak? " heran Zoya.


"Dia akan tinggal bersama ku di apartemen" jawab Bastian, matanya tak lepas dari Dea yang menatap datar padanya.


"Lohh mana bisa, kan gak muhrim" sangkal Zoya, ia tidak setuju dengan hal ini. Bastian tidak membicarakan hal ini kepadanya ketika di rumah tadi.


Melihat Zoya tidak setuju, inilah kesempatan Dea membatalkan rencana konyolnya itu.


"Iya aunty, Dea juga berpikir begitu. Tapi aunty tahulah Bastian sangat pemaksaan" adu Dea, gadis itu malah duduk di samping Zoya dengan ekspresi wajah memelas.


"Tidak masalah Zoya, mereka hanya satu apartemen, namun berbeda kamar" jawab Nisa membela Bastian. Dea menatap bundanya, orang tuanya seakan ingin membuangnya.


"Tapi Nisa, tetap saja gak boleh" tolak Zoya membuat Dea tersenyum lebar.

__ADS_1


"Aku tidak akan melakukan sesuatu yang pernah dady lakukan pada momy" cibir Bastian.


Azlan yang sejak tadi berbincang dengan Ali melirik tajam putranya. Sudah tidak ikut campur, Bastian malah membawa bawa namanya.


"Tidak boleh!!! Dea kamu tetap di rumah ini!! "


"Terimakasih aunty" sorak Dea girang.


"Zoya... "


"Momy... " lirih Bastian dan Nisa bersamaan.


"Aku tidak setuju Nisa, mereka harus menikah dulu baru serumah" ucap Zoya. Seketika mata Dea membulat, perasaan tidak enak mulai menghampiri nya.


"Dea sayang, sabar yah. Nanti aunty akan atur pernikahan mu dan Bastian secepatnya" bujuk Zoya menggenggam tangan Dea, menatap gadis itu lembut.


"Heh... malah makin parah" gumam Dea pelan, matanya menatap kosong ke depan. ia tidak bisa bereaksi apa apa lagi. Seakan musibah semakin besar, menghampirinya.


"Aku mau pernikahannya 2 hari lagi" ujar Bastian.


"Buset, ngebet banget kamu Bastian" celetuk Ali kaget, mendengar ucapan Bastian yang ingin cepat cepat menikah dengan putrinya.


"Hahaha... ini keputusan yang lebih baik" sahut Nisa.


"Dan musibah bagi ku" lirih Dea.


"Bawalah kembali koper mu ke atas" titah Bastian tersenyum miring.


"Bersabar lah sayang" kekeh Zoya.


Kini pertemuan itu tidak lagi menjadi pertemuan lamaran, Zoya dan Nisa mulai merancang pernikahan kedua anak mereka. Sementara Ali dan Azlan tidak mau ikut campur urusan yang begitu. Mereka memilih bermain catur dan sibuk berdua.


Dea duduk di balkon kamarnya, sebentar lagi ia akan menikah dan musuh bebuyutannya sejak lahir. Antara senang dan sedih, Dea akan menjadi budak Bastian selamanya.


"Hisss.... mengapa aku harus berurusan dengan pria bodoh itu!! " ucap Dea berbicara sendiri, ia memukul kepalanya melampiaskan kekesalannya.


"Jangan melukai kepala calon istri ku" tangan kekar Bastian menahan tangan Dea yang akan memukul kepalanya. Dea menatap Bastian sinis, ia menepis tangan Bastian agar melepaskan tangannya.


"Ini kepala ku!! suka suka aku mau melukainya atau tidak!! "


"Aku tidak mau memiliki istri yang cacat" balas Bastian.


"Bagus dong, dengan begitu aku tidak perlu menikah dengan mu" Jawab Dea tersenyum menyeringai.


"Huh... apa sebenci itu?? " lirih Bastian. Pria itu berpaling, menatap langit malam dari balkon kamar Dea.


"Aku selalu berusaha agar, kamu melihat ku. "


"Menarik perhatian seorang gadis yang terlihat tidak terpengaruh dengan kehadiran ku"


Dea tercekat, ia menatap mata Bastian yang tiba-tiba berubah senduh. Ada ketulusan di sana. Bastian menghela nafas berat, lalu kembali menghadap pada Dea, memegang bahu Dea.


"Dea, aku mencintaimu"

__ADS_1


"Huh? " cengoh.


"Iya Dea, aku mencintai mu Bahkan sejak kita kecil!! " ungkap Bastian.


Apa?? dia mencintaiku?? sejak kecil??? Dea tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Apa aku sedang bermimpi?? entah kah. Dea merasa ada gelitikan menyeruak ke dalam hatinya. Tanpa Dea sadari Ia juga memiliki rasa yang sama pada Bastian, hanya saja ego dea lebih tinggi untuk mengakuinya. Terbukti, hingga saat ini Dea masih sendiri sesuai permintaan Bastian dulu.


"Apa kamu tidak menyukai ku?? apa hanya ada benci di hati mu?? "tanya Bastian menatap jauh ke dalam manik mata Dea.


Dea menggeleng pelan, ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.


" Will you merry me? " Bastian tiba-tiba berlutut di hadapan Dea dengan sebuah cincin di acungkan Bastian di depan Dea.


"Kamu gak lagi mengerjai ku kan? " tanya Dea memastikan, ia tidak mau kemakan jebakan Bastian lagi.


"Hahah.. " Bastian tergelak pelan. Dea benar-benar lucu.


"Apa aku terlihat bercanda?? "


"Kamu bercanda atau tidak terlihat sama. Sama sama terlihat seperti iblis" gerutu Dea.


"Tapi kamu suka kan? " goda Bastian usil.


"Siapa bilang, aku kan belum menjawabnya" sahut Dea sok jual mahal. Seketika air muka Bastian berubah.


"Jadi kau menolak ku? " tanya Bastian datar.


"Hem... cincinnya terlihat asli" gumam Dea mengambil cincin itu, lalu memakainya di jari manisnya.


"Kenapa kau memakainya? " tanya Bastian kaget, itukan tugasnya. Hilang sudah kesan romantis yang dirinya rancang tadi.


"Eh kenapa? " tanya Dea bingung.


"Itu kan peran ku" sungut Bastian kesal.


"Lahh kamu sih lama" sahut Dea santai.


"Itu karena kamu tidak kunjung menjawab ku"


"Memangnya jika aku menolak kau akan melepaskan aku?? " cibir Dea, ia tahu betul sifat Bastian. Meskipun Dea menolaknya, maya Bastian akan tetap memaksa dirinya untuk menikahinya.


"Tentu saja aku akan memaksamu menikah dengan ku, Dan kau dalam keadaan telanjang" bisik Bastian tepat di telinga Dea.


"Kau gila??? "


"Seperti yang kau tahu" balas Bastian nyengir. Ia sudah menggunakan ancaman ini dia kalo. Dan ini sangat manjur pada Dea.


Bastian memeluk tubuh Dea erat, mengecup pucuk kepala gadis itu lembut.


"Kau adalah milikku, dan akan tetap menjadi milik ku" bisik Bastian.


"Yayayaya si tuan pemaksa" sahut Dea jengah. Walaupun begitu mereka saling, mencintai, hanya saja Ego yang memisahkan mereka semakin jauh. Hingga Bastian dapat mengalahkan ego nya dan mengejar Dea.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2