Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Mencoba melupakan


__ADS_3

Zoya memasuki rumah, Sepi merasuki hati yang yang sudah hancur di tambah lagi dengan hilangnya kehormatan nya.


"Non sudah pulang? " bi Iyun menghampiri zoya yang berdiri di depan pintu. Gadis itu tersadar dari lamunannya, memaksakan untuk tersenyum.


"Iya bi, baru pulang" kata Zoya.


"yu makan dulu, bibi siapin yah"


Zoya tak menjawab, gadis itu malah berjalan menghampiri bi iyun, lalu memeluknya dari belakang.


Awalnya Bi Iyun kaget, namun cepat di kendalikan nya rasa kagetnya dengan mengusap tangan Zoya yang melingkar di perutnya. Bi iyun tahu bagaimana perasaan Zoya sekarang. Sejak Zoya kecil bi Iyun sudah mengasuh Zoya, bisa di bilang waktu Zoya lebih banyak bersama bi Iyun ketimbang bersama kedua orang tuanya.


"BI..... kalau Zoya melakukan sesuatu kesalahan besar apa bi Iyun akan membenci Zoya? " tanya Zoya. Bi Iyun berbalik, menatap gadis yang sudah di anggap seperti anaknya sendiri, di usapnya pipi lembut Zoya penuh kasih sayang.


"Sebesar apa pun kesalahan nona, bi Iyun akan selalu menyayangi nona. Nona Zoya akan selalu menjadi nona kesayangan bi Iyun"


Zoya tersenyum getir mendengarnya, mungkin bi Iyun bisa mengatakan itu karena bi Iyun tidak tahu kesalahan apa yang Zoya lakukan.


"Apa mama sama papa akan mengatakan sama seperti itu? " pikir Zoya. Teringat dengan kejadian ketika nilai Zoya turun, papa dan mama Zoya mengomeli Zoya ,bahkan gadis itu di tuduh tidak belajar dengan baik.


"Bi... terimakasih" ungkap Zoya kembali memeluk bi Iyun sembari terisak.


"Nona jangan menangis, sudah sudah, sekarang kita makan dulu yah" bujuk bi Iyun menuntun Zoya ke meja makan, lalu menghidangkan makanan kesukaan Zoya yang sudah di persiapkan bi Iyun tadi.


****


Seperti kapal pecah, ruang musik yang di jadikan Azlan untuk berpesta pora bersama teman teman nya setelah memenangkan pertandingan basket. Airaya tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Ya ampunnnnn Azlan!!!!!! " teriak Airaya menggebu gebuh. Di langkahkan kakinya menuju kamar Azlan,


Brak~ pintu kamar Azlan terhempas keras. Azlan yang baru saja menutup matanya terlonjak kaget


"Aduh kak.... bisa sopan gak sih! " kata Azlan membentak.


Airaya tak memperdulikan nya, ia malah melangkah mendekati Azlan yang duduk di tepi ranjang. Dengan sigap Airaya menarik kuping Azlan keras hingga Azlan mengaduh ke sakitan.


"Aduhh aduhhh, Kak Ai, sakit!!! lepasin"


"Gue gak bakal lepasin sebelum loe bersihin ruang musik gue!!! " ucap Airaya penuh tekanan.


"Lah itukan ruang musik milik bersama" ucap Azlan membela diri.

__ADS_1


"Tetap aja loe harus membersihkan nya kembali setelah membuat semuanya berantakan!! "


Azlan mengusap kupingnya yang sudah memerah, dengan mulut monyong ke depan Azlan beringsut menuju ruang musik.


"Awas ajah kalau ruang musik itu tidak bersih seperti semula" teriak Airaya ikut keluar dari kamar Azlan, namun berbelok ke kamarnya.


"Iya iya bawel loe" gerutu Azlan.


Azlan bergidik melihat ruangan yang memang tidak bisa di katakan seperti ruangan lagi. Bekas minuman kaleng berserakan dimana mana. Kulit kacang berserakan, kursi kursi tak menentu letaknya.


"Memang seperti kapal pecah" kekeh Azlan, lalu mulai membersihkannya. Di rumah Albisyam memang ada asisten rumah tangga, tetapi bunda mengajarkan anak anaknya untuk lebih mandiri dan bertanggung jawab.


Selama 30 menit Azlan selesai membersihkan dan merapikan ruang musik. "Akhirnya selesai juga"


Azlan menghempaskan bokongnya di sofa, lelaki itu meraih remot AC. Tanpa sadar ia sudah terlelap di sana.


"Astaga, malah tidur di sini" Airaya menggeleng menatap Azlan sudah terkapar di sofa. Airaya pergi ke kamarnya mengambil selimut, lalu menyelimuti tubuh Azlan dengan selimut.


"Dasar nakal" gerutu Airaya. Setelah itu Airaya pergi dari ruang musik dengan langkah pelan agar tidak mengganggu adiknya, masih banyak tugas tugas yang harus ia kerjakan.


Perlahan Azlan membuka matanya, sebenarnya lelaki itu tersadar ketika kakaknya menyelimuti tubuhnya. Matanya menerawang menatap loteng. Kejadian di bali kembali berputar, Azlan memijat keningnya mencoba mengingat kejadian setelah ia dan Zoya meminum minuman itu.


"Apa yang sudah kami lakukan? " tanya Azlan tanpa ada yang menjawab.


"Gue harus tanyain ke Zoya? "


"Tapi mana mungkin gadis itu mengatakannya, natap gue aja dia enggan"


Azlan berbicara seperti orang gila, mengusulkan lalu dia juga yang menolak nya.


"Apa gue lupain gitu aja? " gumam Azlan lagi, ia sudah berkali kali mencoba untuk melupakan kejadian malam itu, tetapi bayangan Zoya tanpa pakaian membut dirinya yakin telah terjadi sesuatu di antara mereka.


"Azlan!, kamu ngigo? " tanya Bunda bingung melihat Azlan berbicara sendiri.


Azlan tak menjawab, membuat bundanya semakin bingung.


"Azlan!! " panggil bunda sedikit lebih kuat membuat Azlan tersentak kaget.


"Eh bunda, sejak kapan di situ? "


"Kamu ini yah, dari tadi juga bunda panggil gak nyahut nyahut"

__ADS_1


"Hehe maaf bunda" kekeh Azlan.


Bunda duduk di samping Azlan, ia melihat Putranya seperti memiliki banyak pikiran.


"Kamu lagi ada masalah? " tanya bunda. Azlan menggaruk tengkuknya pertanda memiliki masalah namun ragu mengatakannya. Bunda sangat hafal dengan sikap Azlan.


"Katakan saja, siapa tahu bunda bisa bantu" ucap Bunda menyakinkan Azlan untuk membicarakan padanya.


Azlan berpikir sejenak, lalu memperbaiki posisi duduknya.


"Bunda,,, seandainya bunda melakukan kesalahan fatal, dan kesalahan itu sulit untuk di selesai kan, apa yang bunda lakukan? " tanya Azlan meminta pendapat.


"Hmmm.. " bunda tampak mencerna pertama Azlan.


"Jika bunda melakukan sebuah kesalahan besar, kesalahan yang sulit di selesaikan, bunda akan memilih untuk tetap menyelesaikan nya sampai tuntas, unda akan bertanggung jawab atas apa yang telah bunda lakukan. Sesuatu masalah pasti ada penyelesaian nya, mau itu penyelesaian yang manis, ataupun penyelesaian yang pahit untuk kita jalani. itu semua adalah Resiko yang harus kita Terima atas apa yang kita lakukan " jelas bunda panjang lebar sembari mengusap usap tangan Azlan.


"Paham? " ulang Bunda.


Azlan mengangguk, ia tahu sekarang apa yang harus ia lakukan. Mencoba melupakan masalah yang telah terlanjur terjadi harus ia selesaikan dengan cara baik baik dengan Zoya. Azlan tidak boleh lari dari masalah ini, apalagi tidak bertanggung jawab atas masalah ini.


"Azlan keluar dulu bunda" pamit Azlan buru buru menyalami bundanya.


"Eh mau kemana? "


"Mendadak Azlan ada urusan bunda, makasih atas saran bunda tadi"


Azlan berlari keluar rumah, masuk ke dalam mobilnya lalu menancap gas melajukan mobilnya.


Tiba di suatu tempat Azlan langsung keluar dari mobilnya, mengetuk ngetuk pintu rumah orang itu tidak sabaran. Ia melihat ponselnya yang terdapat sebuah alamat, Azlan memastikan rumah itu persis sama dengan alamat yang ia dapat dari ketua kelas.


Beberapa kali mengetuk akhirnya pintu rumah itu terbuka, detak jantung nya berpacu cepat. Azlan meyakinkan dirinya jika ini adalah hal yang tepat untuk di lakukan.


"Cari siapa yah den? " tanya seseorang yang Azlan tebak merupakan Asisten rumah tangga di rumah ini.


*****


Menurut kalian Azlan ke rumah siapa yah?? apakah ke rumah Zoya, atau kerumah siapa???


yuk ikuti terus cerita keduanya😘😘😘jangan lupa suport aku terus yah guys, biar aku semakin bersemangat nulisnya. Aku sayang sama kalian😘😘😘


...T E R I M A K A S I H...

__ADS_1


__ADS_2