
Hai kakak semua, terimakasih yah udah mampir, dan aku sangat berterimakasih pada kakak silvi dan kak dwi. Komentar kalian sangat membantu, tapi gimana yah?? aku gak bisa ubah alur cerita aku😳, karena Setiap author memiliki pola pikiran tersendiri untuk memuaskan pembacanya. Aku sebagai author akan membuat cerita ku seperti yang kakak inginkan, yaitu berbeda dari cerita cerita yang sudah ada. Ikutin terus yah😘😘😘😘Sekali lagi makasih yang udah komen, aku selalu membaca semua komentar dari kalian. Karena komentar kalian adalah nilai yang penting dalam meningkatkan kemampuan ku, tanpa kalian author bukan lah apa apa.
Happy Reading😘
...----------------...
Zoya terbangun dari tidurnya, mengingat ingat terakhir ia tidur di meja makan bersama Azlan, tapi sekarang ia tidur di kamarnya.
"Apa Azlan yang memindahkan gue? " pikir Zoya.
Gadis itu bangkit, membersihkan kamarnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hari ini adalah hari minggu, Zoya keluar dari kamarnya lalu masuk ke dapur. Ia melihat meja makan sudah terdapat sarapan yang terlihat menggiurkan.
"Selamat pagi" sapa Azlan lembut.
Zoya mematung, tumben sekali Azlan bersikap manis seperti ini. Apa ini mimpi? pikir Zoya.
"Loe pasti laperkan? " tanya Azlan menarik Zoya lalu mendudukkan nya ke kursi. Zoya tampak bingung, sungguh sangat berbeda.
"Sayang kamu sudah bangun? "
Zoya menoleh, ia melihat bunda Meika keluar dari dapur, "Pantes sikapnya seperti ini" batin Zoya.
"Ini bunda yang masak? " tanya Zoya menatap makanan lezat itu.
"Tentu saja sayang, bunda sengaja masakin kamu semua makanan ini" jawab Meika.
"Ini sayang, susu untuk menguatkan calon bayi kita" ucap Azlan lembut.
"Terimakasih " Jawab Zoya kikuk, meskipun ini merupakan drama, tetap saja Zoya merasa canggung.
"Hari ini jadwal Zoya periksa kandungan, Azlan kamu harus bawa istri kamu ke dokter kandungan" titah Meika di akhir kalimatnya menatap Azlan.
"Baiklah Bunda, apapun Azlan lakukan untuk istri Azlan" jawab Azlan.
Meika tersenyum, hubungan rumah tangga Azlan baik baik ajah. Ia tidak perlu cemas lagi, hatinya tenang sekarang.
"Ya sudah Bunda pulang dulu, sebelum ayah nyariin bunda" pamit Meika.
"Lah kok cepet banget bunda, Zoya masih kangen loe bun"
Meika tersenyum, lalu memeluk menantu kesayangan nya itu.
"Sayang, hari ini kan hari minggu. Bunda gak mau ganggu waktu libur kalian" bisik Meika mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Dahh... bunda pulang" ucap Meika melambaikan tangannya, lalu pergi dari apartemen Azlan dan Zoya.
"Kok loe gak bangunin gue pas bunda dateng" tanya Zoya menatap Azlan yang sudah berubah dingin kembali.
"Kebo mana bisa di bangunin" lirih Azlan sari mengangkat piring kotornya ke wastafel, lalu mencucinya.
"Maksud loe, loe bilang gue kebo? " sungut Zoya berapi api.
"Menurut loe? " tanya Azlan menatap Zoya malas, ia sebenarnya masih sangat mengantuk. Gara gara mencari Seblak Azlan tidur dini hari.
"Tega banget!! gue marah sama loe! " ucap Zoya menghentakkan kakinya, lalu beranjak kembali masuk ke kamarnya.
"Dasar, mencari alasan untuk menghindari pekerjaan rumah" dengus Azlan mengambil piring kotor Zoya, lalu mencucinya. untung Zoya hamil, jika tidak Azlan tak akan melakukan semua ini.
Pukul 14.30 Azlan sudah siap dengan stelan santainya, mengenakan kaos lengan pendek dengan di lapisi cardigan rajut berwarna coklat. Celana jins hitam menambah kesan ketampanan yang alami.
Tuk!! Tuk!!
"Zoya!! keluar lah. " panggil Azlan. Mereka sudah berjanji untuk ke dokter jam 14.30,Sudah 30 menit terlewat Zoya masih saja belum keluar dari kamarnya.
"Zoya!!! " panggil Azlan tak sabaran.
Ceklek~ pintu kamar Zoya terbuka, lalu menampakan Zoya hanya mengenakan baju kaos oversize dan celana santai saja.
"Kenapa lama sekali? " omel Azlan.
"Ke rumah sakit saja harus memilih milih baju? " geram Azlan tak habis pikir.
"Bukan begitu, Azlan si suami galak!!!!! " rengek Zoya menarik Azlan masuk ke dalam kamarnya. Lalu mengambil beberapa baju yang tadi ia coba.
"Lihat ini, mereka terlihat sempit di tubuh gue" ucap Zoya menempelkan salah satu baju ke tubuhnya, sedikit kekecilan.
"Bubbbbbhhhhahahahaa" tawa Azlan pecah, ia pikir Zoya memilih milih baju seperti akan ke pesta, tetapi ternyata seluruh baju Zoya sudah tidak muat karena Zoya mulai gendutan.
"HaaaaðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜" seketika Zoya menangis di tertawakan Azlan.
"Sudah sudah gak usah menangis, loe tinggal beli baju baru aja. " ujar Azlan menenangkan Zoya.
Bukan masalah beli baju baru, tetapi Zoya merasa frustasi dengan berat badan nya yang semakin meningkat.
"Yaudah yuk ke dokter, keburu tutup nanti" ucap Azlan menarik tangan Zoya keluar dari kamar, menggenggam erat tangan gadis yang berstatus sebagai istri nya.
"Sorry" ucap Azlan ketika sadar menggenggam tangan Zoya.
Zoya mengangguk pelan, ia bisa memaklumi nya.
__ADS_1
"Perut gue terlihat semakin membuncit" lirih Zoya, Azlan yang fokus dengan jalan pun menoleh. Lalu mengusap tangan Zoya yang berada di atas pahanya.
Zoya kaget dengan perlakuan Azlan, namun tidak berniat untuk menjauhkan tangan Azlan dari tangannya.
"Loe tenang aja, jika perut loe sudah membesar nanti, gue bakal minta pihak sekolah untuk melakukan homeschooling buat loe"
Hati Zoya menghangat, kata kata Azlan cukup menenangkan kegelisahan nya.
Di rumah Sakit, Azlan menuntun istrinya turun dari mobil, lalu membawa Zoya mengantri untuk pemeriksaan. Untung tidak terlalu banyak yang mengantri, jadi Zoya tidak perlu terlalu lama menunggu.
"Zoya Arkan Asyid" panggil suster yang memegang daftar pasien.
"Ayo giliran kita" ucap Azlan kembali menuntun Zoya yang sebenarnya tak perlu di tuntun, Zoya masih kuat, kandungannya pun masih terlalu muda. Jika di lihat dari jauh atau dari dekat masih tidak terlihat seperti wanita hamil.
Zoya di periksa oleh dokter ambran, dokter yang menjadi bidan Azlan ketika lahir dulu.
"Keadaan janin saat ini stabil, ibunya juga sehat sehat saja" ucap dokter Ambran setelah memeriksa Zoya.
"Baguslah dokter, saya senang mendengarnya" sahut Zoya, Azlan juga ikut tersenyum mendengar nya.
"Kehamilan nona Zoya sudah berjalan 3 bulan, tolong di jaga pola makan nya yah" saran Dokter.
"Baik dok" jawab Zoya.
"Untuk tuan Azlan, jangan terlalu keras mainnya. Nanti si bayi jadi kelelahan jika sang ibu juga lelah" bisik Dokter pada Azlan yang masih bisa di dengar oleh Zoya.
Zoya tidak bodoh untuk tidak mengerti maksud dari dokter itu, pipinya bersemu merah menahan malu.
"Aman dok, saya akan bermain pelan" kekeh Azlan mengikuti candaan sang Dokter.
"loe dengar istri ku" bisik Azlan menggoda Zoya.
"Apaan sih? " dengus Zoya gugup.
"Hahahahahha" Dokter Ambran tertawa melihat ekspresi lucu Zoya.
"Ya sudah dok, kami permisi dulu" pamit Azlan, menjabat tangan dokter sebelum keluar membawa Zoya pulang.
Di dalam mobil, Azlan tak berbicara seperti di depan dokter tadi. Ekspresi Azlan tanpa datar, sangat berbeda ketika di depan sang dokter, terlihat hangat dan berwibawa.
"Mau kemana lagi? " tanya Azlan menoleh pada Zoya yang saat ini menatapnya.
"Huh? " kaget Zoya, ia langsung memalingkan wajahnya menatap lurus ke depan.
"Heheh, lucu sekali" kekeh Azlan.
__ADS_1
"Dia tertawa? " pikir Zoya.
"Kita ke mall aja deh, ganti semua baju baju loe yang sudah kekecilan" putus Azlan, lalu melajukan mobilnya menuju sebuah Mall.