Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
(SEASON II) Ruang privasi


__ADS_3

Sepulang dari kampus Dea langsung menuju cafe nya. Masuk dengan wajah masam dan tidak menanggapi siapapun di sana.


"Dea!! "


Langkah kaki Dea terhenti, ia menoleh pada Boby yang duduk di sudut ruangan. Dea berjalan Menghampiri pria itu.


"Ngapain kamu di sini Bob? " tanya Dea bingung, tadi Boby di kampus sangat sibuk.


"Hehehe... aku hanya ingin mampir saja" kekeh Boby. Dea sudah duduk di depan Boby.


"Bagaimana hasilnya? apa mentor mu bisa di ganti? " tanya Boby, Dea menggeleng, usahanya sia sia.


"Lah kenapa? bukannya itu hal sepele?, kenapa pak Jidan menolak nya? " tanya Boby bingung, tadi Boby mendengar temannya ada yang berganti Mentor, tapi kenapa Dea malah tidak bisa.


"Menurut pak Jidan, Pria itu yang sangat bagus untuk menjadi mentor ku, apalgi tahun kemarin dia yang menjuari progres ini. " jelas Dea lesu, gadis itu merebahkan kepalanya di atas meja.


"Kamu yang sabar yah, tapi kamu tidak boleh menyerah Dea" ucap Boby.


"Kamu harus membuktikan pada pria itu, kalau kamu sangat berkualitas. Kamu bisa mengalahkan nya" tutur Boby lagi.


Dea tersentak, benar juga apa yang Boby katakan. Jika ia bersikap seperti ini, menghindar dan terus menghindar. Maka Bastian akan semakin lancang pada nya.


"Kamu benar Boby, aku akan memberi pria itu pelajaran! " ucap Dea kembali bersemangat. Dea tersenyum pada Boby yang selalu membuatnya tetap semangat.


"Nah gitu dong. Masa Dea yang terkenal jutek, super cuek kalah. Ya kan? " Boby mengedipkan sebelah matanya, membuat Dea tertawa keras.


"Kamu ini benar-benar yah" kekeh Dea.


Dari luar Bastian baru saja memarkirkan mobilnya. Senyum Bastian melebar ketika melihat mobil Dea sudah terparkir di sana. Ia mengingat kejadian ketika Bastian dengan sengaja menabrak dan membuat mobil Dea tergores. Bastian sengaja melakukannya karena kesal pada Dea yang tidak mengenalinya.


Bastian memasuki cafe papanya, Bastian tahu jika cafe ini di kelola oleh Dea. Bastian Berniat untuk mengganggu gadis itu lagi.


Bastian mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Dea.


Deg.


Mata Bastian menangkap sosok Dea sedang tertawa, dan lagi lagi Dea tertawa bersama pria itu.

__ADS_1


"Selamat sore tuan muda, ada yang bisa saya bantu? " tanya Kikan menghampiri anak dari pemilik cafe ini.


"Tidak, saya tidak butuh apa apa" balas Bastian, matanya masih saja menatap ke arah Dea dan Boby duduk. Mereka terlihat semakin dekat. 'Apa mereka berpacaran? '


Kikan mengikuti arah pandang Bastian, ia menatap bos nya dan juga teman bos nya. Seketika bibir Kikan tertarik membentuk lengkungan. Bastian pasti sangat cemburu dengan Boby.


"Tuan muda, mereka itu hanya teman" bisik Kikan, membuat Bastian mendelik kesal pada nya.


"Aku tidak memperhatikannya" sangkal Bastian.


"Oohhh gak perhatikan yah, tapi mengapa muka tuan muda memerah menahan amarah? " ucap Kikan tersenyum miring.


"Sudah sudah sana, kamu mengganggu waktu ku" usir Bastian menggerakan tangannya seperti mengusir.


"Nanti suka, baru tahu" cibir Kikan, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Dea melihat ke gaduhan yang terjadi antara pegawainya dan juga.... Bastian? Dea mengerut, sejak kapan pria itu ada di Cafe ini.


"Boby, aku ke sana sebentar yah" ucap Dea, lalu beranjak mendekat pada Bastian.


"Heh!! " Dea menggebrak meja yang Bastian tempati. Pria itu terlihat biasa saja, ia masih sangat kesal dengan Dea, entah apa alasan nya hanya Bastian yang tahu.


Dea semakin kesal, Bastian sungguh sangat menguji kesabaran nya. Dea hendak membogem Bastian, andai saja Dea tidak mengingat ucapan Boby barusan.


"Ohw maaf yah tuan Bastian, aku hanya ingin menanyakan soal progres itu, dan aku ingin kau serius kali ini" ucap Dea menatap lekat Bastian yang juga menatap ke arahnya.


Bastian diam sejenak, memikirkan apa yang Dea bicarakan. Tanpa merubah ekspresi nya, Bastian menatap Dea.


"Baiklah, kita akan memulainya dari awal. Tapi aku butuh ruang privasi" jawab Bastian.


"Ru-ruangan privasi? " Dea mendadak gugup, mengapa tiba-tiba Bastian sedingin ini.


"Baiklah, kita bisa memulainya di ruangan ku" ucap Dea bangkit dari dari duduknya, lalu berjalan lebih dulu. Sebelum masuk ke dalam ruangannya Dea menghampiri Boby terlebih dahulu.


"Bob, aku ada urusan. Maaf mengabaikan mu" sesal Dea pada temannya itu. Boby tersenyum paham, lalu mengangkat tangannya untuk mengusap rambut Dea. hal ini sudah biasa Boby lakukan, memberi perhatian kecil dan memanjakan Dea. Namun, hal ini bukan hal biasa bagi Bastian. Pria itu mengepalkan tangannya melihat pemandangan yang menyesakkan.


"Ekhem! " dehem Bastian yang berdiri di belakang Dea dengan tangan terlipat di dada.

__ADS_1


"Aku pergi dulu Boby" pamit Dea mendelik kesal pada Bastian.


Mereka masuk ke dalam ruangan Dea, Bastian yang masuk setelah Dea langsung menghempaskan pintu, lalu langsung menguncinya.


Dea kaget, ia menatap Bastian takut. Aurah Bastian terlihat berbeda dari tadi. Bastian mengikis jarak di antara mereka.


Langkah Dea perlahan mundur setiap langkah kaki Bastian maju mendekatinya.


"Ka-kamu kenapa? " tanya Dea gugup.Ia mulai panik, Bastian tidak menjawabnya.


Bastian terus melangkah maju, hingga tubuh Dea terpojok ke dinding. mengurung Dea di antara kedua tangannya.


Dea merutuki kebodohannya, seharusnya Dea tidak membawa Bastian ke tempat ini.


Tatapan mereka bertemu, mata Bastian Seola mengunci pandangan Dea, sehingga gadis itu tidak berani mengalihkan pandangannya.


Saat ini, Dea yang jutek, dingin, angkuh, sudah di lumpuhkan oleh Bastian. Dea menjadi ciut dan gugup saat ini.


"Aku tidak suka kamu dekat dengan pria itu! " lirih Bastian penuh penekanan.


"Si-siapa? apa hak mu melarang larang ku? " protes Dea masih dengan suara gugup. Dea berusaha agar tidak terlihat ketakutan.


"Pria di luar!!! aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan nya!! " ucap Bastian dengan suara sedikit lebih keras dan terdengar seperti ancaman.


Mata Bastian turun ke bibir Dea, pemandangan Dea mengecup pipi pria itu kembali muncul di pikiran Bastian.


Jantung Dea berdegup kencang, deru nafas Bastian mulai menerpa permukaan wajahnya.


Cup.


Mata Dea membulat, bibir Bastian menempel pada bibirnya?? tidak. Ini tidak bisa di biarkan. Dea mendorong tubuh Bastian sekuat tenaga, Dea memalingkan wajahnya agar ciuman Bastian terlepas.


Kekuatan Bastian lebih besar dari pada kekuatan Dea, sekuat apapun gadis itu melawan, ia tak akan pernah menang.


Kini Bastian semakin rakus, bibirnya tak lagi hanya sekedar mengecup, bahkan Bastian ******* habis bibir ranum Dea.


Dea mulai pasrah,ciuman panas Bastian mulai mempengaruhinya. Bibir Dea terbuka ketika Bastian menggigit kecil bibir bawahnya. Sehingga Dea membuka bibirnya. Bastian menggunakan kesempatan itu untuk menelusup kan lidahnya dan mengakses seluruh rongga mulut Dea.

__ADS_1


Bastian tersenyum, Dea mulai menikmati aksinya.


__ADS_2