
"Lan, udah! loe gak boleh kaya gini"
Ali merebut botol minuman dari tangan Azlan. Sudah botol ketiga Azlan habiskan.
"Pergi sana, gue gak mau di ganggu"
"Kita gak akan biarin loe mabuk kaya gini"
Azlan tak mendengar kan ucapan Ali dan Agai, Azlan malah memanggil pelayan untuk memberikannya minum lagi.
"Sudah cukup Azlan! loe pikir Zoya akan senang lihat loe kaya gini? "
Bugh~
Azlan tersungkur di lantai, Agai benar-benar tidak tahan lagi melihat Azlan yang seperti ini.
"Kalian gak dengar, di benci sama gue! "
"Zoya benci sama gue! " lirih Azlan terduduk di lantai.
Agai menarik kerah baju Azlan, "Loe harusnya berusaha menggapainya, bukan malah seperti ini!! "
"Bodoh! " maki Agai lagi.
Ali mengangguk dari belakang Agai, bodohnya pria itu tidak menahan Agai agar tidak memukul Azlan.
"Loe kok gak nahan gue sih" gerutunya Agai melirik Ali.
"Lah, ngapain. Kan biar tu cowo sadar" sahut Ali melirik Azlan yang memejamkan matanya.
"Azlan! bangkit!! 6 tahun loe menunggu, dan sekarang loe nyerah begitu aja? "
"Iya lan, masa loe nyerah sih. Perjuangan loe selama 6 tahun sia sia dong"
Azlan membuka matanya, ucapan kedua teman nya ada benar nya.
"Loe udah sadar? " tanya Ali cengoh. Agai melepas kerah baju Azlan. Membiarkan pria itu bangkit dan merapikan pakaiannya.
"Berisik kalian" dengus Azlan.
Dalam sekejap Azlan sudah berada di rumah. Kakinya melangkah menuju kamar yang sekarang di huni oleh Zoya.
"Dia baru saja tidur"
Azlan menoleh pada Bunda Meika sebentar, lalu menekan ganggang pintu kamar Zoya dan membukanya perlahan.
Azlan melangkah pelan mendekati ranjang. Zoya seperti nya sudah tertidur lelap.
Azlan duduk di pinggir ranjang, menatap wajah Damai Zoya.
"Maaf " lirih Azlan mengusap pipi Zoya. memperbaiki selimut Zoya, menyelimuti hingga ke dada Zoya.
"Andai loe tahu, gue sangat terpuruk"
"Hati gue lebih sakit ketika melihat air mata mengalir di pipi loe"
Cup~ satu kecupan mendarat di dahi Zoya.
Azlan menatap Zoya dalam, lalu memutuskan untuk keluar.
Setelah memastikan Azlan keluar, Zoya mulai membuka matanya. mengusap pelan bekas kecupan Azlan.
"Aku butuh waktu" lirih Zoya.
...----------------...
"Aduhhh Mila loe jangan ancurin masakannya" serga Azlan garang. Sejak tadi Mila terus saja menyicipi hasil masakan Azlan.
__ADS_1
"ihh baru juga sesendok"
"Tapi loe merusak desainnya."
"Apaan, orang gue ambil sudut sini doang"
Meika menggeleng jengah, melihat dapur yang sangat berantakan karena ulah Azlan.
"Kalian ini yah, subuh subuh sudah bikin gaduh"
"Ini Azlan Bunda, masa Mila nyicip dikit doang dia marah" adu Mila.
"Tapi dia ancurin desainnya Bunda"
"Gue kan cuma ambil yang pinggir doang! "
"Ahhh sudah sudah, ngeselin tahu gak" lerai Raya.
"Huhh" dengus Mila kesal, pergi meninggalkan dapur.
"Zoya sudah bangun kah? " tanya Azlan melirik kakaknya.
"Gak tahu, ini mau lihat"
Azlan mengangguk, kemudian kembali melanjutkan membuat sarapan special untuk Zoya. Kemarin boleh gagal, tapi kali ini Zoya harus terkesan.
"Wahhh ada acara apa ini? " tanya ayah menatap lapar ke arah meja makan. Ayah menarik salah satu kursi, lalu duduk tidak sabar menunggu istri nya mengambilkan makanan untuk nya.
"Putra ayah lagi rajin masak, rasanya enak sekali"
"Iya ayah, tapi nasi goreng ayam bakarnya tidak boleh di sentuh" keluh Mila di akhir ucapannya.
"Tentu saja, kan itu khusus untuk istri tercinta" celetuk Raya.
Zoya turun, langkah kakinya semakin cepat ketika melihat semuanya sudah berkumpul di meja makan.
"Selamat pagi bunda"
Zoya tersenyum pada semua nya, namun menunduk ketika matanya bersirobok dengan mata coklat Azlan.
Pria itu menghela nafas berat, ia harus lebih kuat berjuang. Azlan tidak boleh menyerah.
"Ayo makan sayang"
"Iya bun"
Zoya mulai menyuap nasi goreng yang menurutnya berbeda dari semuanya.
"Gimana, enak gak? " tanya Mila.
"Enak banget, ini bunda yang masak? " tanya Zoya penasaran, ia merasa rasa nasi goreng ini tidak asing di lidahnya.
"Itu Azlan yang masak khusus untuk loe"
Uhuk uhuk. tiba-tiba Zoya tersedak.
Azlan mengulurkan segelas air.
"Terima" lirih Zoya, lalu meneguk habis.
"Ini bukan bunda yang masak? " tanya Zoya menatap Meika, ia masih tak percaya jika itu Azlan yang membuatnya.
"Iya Zoya, suami loe pinter masak sejak loe pergi" sahut Mila lagi.
"Pantes rasanya tidak asing" lirih Zoya.
"Enak kan? "
__ADS_1
Zoya mengangguk pelan pada Meika, mana mungkin Zoya memberikan komentar yang tidak enak di depan ayah dan bunda.
"Kami tahu, Azlan rela bangun pagi demi membuat semua ini" timpal Ayah.
Zoya melirik Azlan dengan ekor matanya, Azlan tampak diam fokus dengan sarapannya.
"Dapur hancur, dan kegaduhan terdengar karena Mila terus mengganggu Azlan memasak. " ujar bunda terkekeh menceritakannya.
"Sedikit sentuhan tangan gue di pukul" imbuh Mila.
Zoya hanya mendengarkan, ia melahap habis nasi goreng yang sebenarnya memang sangat enak. Kemarin Zoya tidak mengakuinya karena tidak ingin membuat Azlan besar kepala.
"Wahhhh lagi makan enak nih"
"Eh nak nisa, ayo sekalian sarapan" ajak bunda.
"Dengan senang hati" nisa duduk di samping Mila, kebetulan ia belum sarapan di rumah tadi.
"Kita gak di ajak ni bun? "
"Kalian jugalah, ayo sini ikut gabung"
"Dasar pecinta gratisan" cibir Azlan pada kedua sahabat nya.
"Untung gue pake handset" sahut Ali pura-pura v tidak mendengar ucapan Azlan.
"Gue juga lagi budek" imbuh Agai.
Mereka sarapan bersama, kedatangan Nisa, ali dan Agai menambah keramaian di meja makan.
Di lain negara, Pram dan Anggi sedang makan malam.
"Selamat malam, kak"
Febi berjalan cepat, ikut bergabung dengan kakak dan keponakannya.
"Sejak kapan aunty pulang? "
"Batu saja tiba. "jawab Febi, matanya melirik ke segala arah.
" Zoya dimana? "
"Dia kembali ke ini" jawab Pram singkat. Sejujurnya ia sudah muak dengan adiknya ini.
"Apah! kenapa Kakak membiarkan Zoya kembali ke sana! "
"kenapa? "
"Kak, mereka hanya bisa menyakiti Zoya! mereka hanya bisa membuat putri ku menangis" balas Febi menggebu gebuh.
"Lalu, apa menurut mu hidup bersama mu dia akan merasa bahagia? terlantar dan kekurangan kasih sayang! "
Anggi hanya bisa diam, mendenykan perdebatan adik dan kakak ini.
"Febi, sadarlah. Zoya juga butuh bahagia. Tidak uang yang membuatnya bahagia. Zoya juga butuh kasih sayang" lirih Pram.
Febi tak bergeming, ia tidak mendengarkan ucapan Pram. Wanita yang sudah hampir terlihat menua itu. mengepalkan tangannya. Ia akan kembali membawa Zoya pergi dari sana.
"Aku akan kembali membawa putri ku jauh dari mereka! " Tekat Febi.
"Tidak usah aunty! biar Pram saja" tawar Pram mengajukan diri. Feby menoleh pada keponakannya.
"Apa kamu mau? "
"tentu aunty, aku juga tidak ingin Zoya di sakiti oleh mereka lagi" sahut Anggi yakin.
"Baiklah, aunty serahkan pada mu"
__ADS_1