
Hup..
Hup..
"Aduhh!!! ayam. Kita ini udah tua, tolong jangan buat kita mati struk karena kelelahan menangkap kalian" omel Azlan menatap semua ayam ayam yang terus berlari, terbang ketika Azlan dan Ali mencoba menangkapnya.
"Azlan, aku benar-benar gak kuat lagi" ungkap Ali melambaikan tangan ke atas.
"Sabar Ali, ini demi cucu kita" jawab Azlan memberikan semangat agar Ali kembali bangkit dan bersemangat menangkap ayam.
"Huh.. Siapa yang dapat enak, siapa yang susah" Ali ngedumel. Perasaan sejak Azlan, hingga anak Azlan, Ali selalu mendapatkan ketidak adilan seperti ini.
"Azlan, sebenarnya kamu ini dapat kutukan apa sih, perasaan ketika Nisa hamil, gak ada tuh ngidam aneh aneh ke kalian" ungkap Ali mulai memikirkan keanehan ini.
"Udah... nikmati ajah. Emang kamu beneran mau tahu letak kesalahan nya? " ujar Azlan menatap Ali serius. Ali pun mengangguk, ia penasaran.
"Salahnya adalah, mengapa kamu menjadi teman ku. Jadi aku dapat kutukan ini karena kamu" jelas Apaan mengarang cerita, membuat Ali mencebik kesal.
"Hei.. kapan ayam itu akan tertangkap. Jika kalian hanya asik mengobrol sejak tadi" teriak Nisa dari pintu belakang rumah Bastian.
"Iya... kami segerakan menangkapnya" sahut Azlan. Mereka kembali membuat ancang ancang untuk menangkap seekor ayam yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Huh, di pikir mudah menangkap ayam ini" gerutu Ali, meskipun terpaksa Ali tetap berusaha untuk menangkap ayam itu.
Di dalam rumah Dea tengah asik menonton TV bersama Celsi. Dea menikmati susu buatan Celsi, entah mengapa susu itu terasa nikmat sekali.
"Bagaimana, apa kamu suka susu buatan ku? " tanya Celsi melirik Dea yang duduk bersandar di samping nya.
"Hem.. sangat enak" gumam Dea tersenyum membalas tatapan mata Dea.
Bastian menghela nafas berkali kali, ia baru saja memanjat pohon kelapa yang sengaja di tanam Zoya di samping rumah, karena halaman depan dan belakang rumah Bastian dan Dea sangat luas, jadi mereka menanam berbagai macam tanaman.
"Apa kelapanya sudah bisa di ambil? " tanya Zoya menatap putranya yang bermandikan keringat. Bastian memanjat pohon kelapa yang memang tidak terlalu tinggi. Namun meskipun tidak terlalu tinggi Bastian cukup kesulitan memanjat nya.
"Huh..Huh.. udah Momy, ini Bastian ambil 2" jawab Bastian rengah karena nafasnya masih memburuh.
"Baiklah, terimakasih sayang" Zoya menerima dua buah kelapa itu, lalu membawanya ke dapur.
Bastian menghampiri istrinya yang tengah menonton bersama sahabat nya di ruang TV.
__ADS_1
"Celsi... kok ada bau busuk yah? " tanya Dea mengendus ngedus menghirup udara mencari bau busuk itu berasal.
"Gak ah, kamu salah kali. Aku gak mencium bau apapun" jawab Celsi ikutan mengendus.
Dea terus mengendus, hingga ia berhadapan dengan suaminya.
"Huawekkmmm, huawekk. Kak Tian. " Dea menjepit hidungnya.
"Apa?? jangan menuduh ku sayang"
"Tapi, kak Tian memang bau!! " rengek Dea mulai menangis. Mendengar menantu dan anaknya merengek Zoya dan Nisa spontan berlari ke depan.
"Bastian ada apa ini? " tanya Zoya panik.
"Momy, Bunda. Kak Tian bau, tapi dia malah membentak ku" aduh Dea melebih lebihkan, Bastian tidak ada membentak istri nya. Celsi pun kaget mendengar pengaduan Dea.
"Gak bun, mom. Aku gak ada bentak Dea" sangkal Bastian.
"Ihh hiks.. hiks.. Tanya Celsi momy, bunda. Kak Tian tadi membentak Dea, iya kan Celsi? " tanya Dea melirik Celsi. Gadis itu tercekat, Celsi menjadi bingung harus mengatakan apa. Jika ia mengatakan Bastian tidak ada membentak Dea, gadis hamil muda itu pasti akan meledak ledak. Tapi, jika ia berbohong kasian Bastian. Ahhh Celsi sangat bingung.
"Eh, uncle Azlan dan uncle Ali memanggil ku" ujar Celsi pura-pura mendengar sesuatu.
"Iya, uncle aku datang" teriak Celsi, Zoya dan Nisa mengerut bingung, tidak ada yang memanggilnya.
"Huh,, Celsi kabur. Yaudah deh Dea mau ke kamar dulu" ucap Dea santai. Bastian melongo melihat perubahan drasttdari istrinya, baru saja Istri nya menangis seperti anak kecil, dan sekarang istri nya bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa apa. Padahal jantung Bastian sudah kembang kempis menunggu jawaban Celsi. Masih untung gadis itu pintar, sehingga Bastian tidak perlu melakukan apapun untuk membujuk istri nya.
Di kandang ayam yang area kandang ayamnya di pagari dengan jaringan setinggi 3 meter, dan ada beberapa kotak yang di jadikan oleh ayam itu sebagai rumah.
"Uncle, apa ayamnya sudah tertangkap? " tanya Celsi bergabung dengan kedua pria setengah tua itu.
"Huh, belum ada satupun" sahut Ali. Mereka berdua sudah hampir frustasi menangkap ayam ayam itu, di tambah lagi hari sudah sangat gelap.
Celsi melirik ke kiri dan kanan area kandang ayam. Ia tersenyum miring, mata Celsi menangkap sebuah tangguk ikan yang di gunakan untuk menangkap ikan di kolam.
Celsi mengambil Tangguk yang berukuran sedang, lalu mencoba mengayunkan pada sekumpulan ayam yang sedang was was.
Hup.
"Yeee!!!!! " sorak Celsi berhasil menangkap 2 ekor ayam sekaligus dengan tangguk itu.
__ADS_1
Azlan dan Ali melongo, mereka saling menatap satu sama lain. Sudah hampir 4 jam mereka menangkap Ayam, seekor pun tidak ada dapat.
"Kok kita gak kepikiran itu tadi yah" gumam Ali.
"Lahh namanya sudah tua uncle, otaknya pasti gak bakal secerdas dulu" kekeh Celsi dengan nada bercanda.
"Hahaha.. iya bener, efek umur maya nya" sahut Ali menyadari kebodohan mereka.
"Emang kamu kapan cerdasnya Ali"ceketuk Azlan membuat Ali kembali cemberut.
Setelah mereka menangkap 2 ekor ayam itu, mereka bertiga kembali masuk ke dalam rumah. Terlihat isi rumah sudah sepi, Ali mencari cari keberadaan orang yang sudah membuat mereka kocar kacir.
" Kemana Dea? "tanya Azlan.
" Mana aku tahu" jawab Ali mengangkat bahunya.
"Sayang, udah selesai menangkap ayamnya? " Zoya muncul dari ruang tamu.
"Kemana Dea? " tanya Ali.
"Oh Dea, dia sedang tidur sama suaminya di kamar. " jawab Nisa santai.
"Apa??? tidur??? " kaget Ali.
"Iya"
"Kita sudah capek capek menangkap ayam, mereka malah enak enakan tidur?? " Ali benar-benar emosi sekarang.
"Hahaha... sabar yah, namanya juga sayang anak" kekeh Nisa mengusap dada bidang suaminya agar tetap sabar dan tenang.
"Huh.. Anak dan Cucu sama saja" gerutu Azlana.
"Kalau begitu Celsi pulang aja ya tante" pamit Celsi, selain sudah larut malam, Celsi juga memiliki tugas kuliah yang harus di kerjakan.
"Oh iya sayang, terimakasih banyak yah sudah mau membantu anak tante" balas Zoya memeluk Celsi.
"Iya sama sama tante" Balas Celsi. Gadis itu bergegas keluar dari rumah Dea dan melaju meninggal kan rumah besar Dea dengan kecepatan sedang.
Sementara Ali dam Azlan mencak mencak melihat kedua manusia yang malah terdengar ******* dari kamar Dea dan Bastian.
__ADS_1
"Astaga!!! menyebalkan!!! " teriak Ali.
...----------------...