Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Kehilangan Papa


__ADS_3

Zoya terbangun dari tidurnya, tiba-tiba gadis itu teringat dengan sang papa. Di liriknya Azlan yang masih tertidur di samping nya sembari memeluk pinggangnya.


Senyum Zoya terukir tipis sekali, jika di lihat sekilas orang akan berpikir jika Zoya tidak tersenyum. 2 hari ini sungguh melelahkan bagi Zoya, sakit di hatinya masih belum pulih.


Tuk!!! Tuk!!!


Zoya melirik ke arah pintu, lalu beranjak untuk membukanya.


"Ada apa bi? " tanya Zoya kaget melihat bi Iyun berdiri di depan pintu kamarnya dengan gelisah.


"Kita harus ke rumah sakit non, "


"Kenapa bi? siapa yang sakit? "


Zoya menjadi panik, baru juga merasa ke legaan Zoya kembali merasakan kekhawatiran, di pikiran nya melintas wajah sang papa.


"Tuan Brian masuk rumah sakit Non, pihak kepolisian menelfon rumah tadi" jelas bi Iyun.


Kaki Zoya terasa lemah, lututnya tak sanggup lagi untuk menahan tubuhnya sehingga Zoya terduduk di lantai.


"Papa... " lirih Zoya, air mata segera memenuhi pelupuk mata.


Azlan menggeliat, tangannya meraba raba sisi kanannya.


"Zoya? " lirih Azlan membuka paksa matanya. Azlan meredarkan pandangannya, matanya terhenti pada pintu kamar yang terbuka lebar, mata Azlan semakin melebar ketika melihat Zoya ambruk di lantai bersama sang bibi yang setia memeluknya.


Azlan bangkit dari ranjang, berjalan cepat mendekati istrinya.


"Sayang, ada apa ini? "


Zoya menggeleng tak bersuara, yang terdengar hanya isak tangis nya.


"Tuan Brian den,"


"Papa kenapa bi? "


"Tuan Brian masuk rumah sakit, keadaannya kritis" jelas bi Iyun.


Azlan memeluk sang istri, berharap istri nya tidak merasa sendiri. "Sayang Jangan menangis, gue yakin papa baik baik aja" ucap Azlan menenangkan istri nya.


"Gue mau lihat papa" ujar Zoya tiba-tiba, lalu bangkit dari duduknya. Tubuhnya terhuyung, Zoya merasa kepalanya pusing sekarang.


"Sayang tenang, gue akan antar loe" ucap Azlan kembali menenangkan istri nya yang tergesa gesa. Azlan tahu bagaimana perasaan Zoya, tetapi Zoya harus ingat juga bahwa dia sedang hamil.


"Anter gue ke sana sekarang" pinta Zoya di iringi dengan isak tangisnya. Azlan mengangguk lalu membantu sang istri untuk bersiap.


"Hati-hati yah den, kabari bibi kalau ada sesuatu yang terjadi"


Azlan mengangguk lalu masuk ke dalam mobil, di tatap nya Zoya yang meringkuk menangis di jok mobil samping kirinya.


"Kamu yang sabar yah sayang" lirih Azlan, lalu melajukan mobilnya membela jalan.


Jalanan masih terlihat sepi, penghuni jagat raya masih menikmati mimpi indah di dalam selimut. Sekarang masih pukul 2 dini hari, pantes saja jalanan masih sangat sepi.


Tiba di rumah sakit, Azlan kembali membantu istri nya yang terlihat lemes keluar dari mobil, lalu membawanya masuk ke dalam rumah sakit.


Kaki zoya tampak semakin lemes menatap pintu ruangan sang papa. Terlihat seorang pria paru baya terbaring lemes dengan alat pembantu pernafasan menempel di hidung Brian.

__ADS_1


Tangan Zoya terlihat mengusap kaca pintu ruang IU seolah olah mengusap wajah sang papa.


Seorang polisi menghampiri mereka, lebih tepatnya menghampiri Azlan.


"Apakah anda keluarga dari saudara Brian? " tanya sang polisi.


Azlan langsung mengangguk cepat, melirik Zoya sekilas lalu kembali fokus pada pak polisi yang tengah menjelaskan tentang kondi Brian.


"Saudara Brian melakukan percobaan bunuh diri, untung salah satu dari petugas melihat tepat waktu, jadi kami bisa segera membawa saudara ke rumah sakit" jelas polisi itu.


Azlan tertegun, apa yang menyebabkan papa mertuanya itu ingin bunuh diri, sementara selama ini papanya itu baik baik saja. Bahkan Brian terlihat lebih suka di penjara dari pada si rumah.


"Dalam masa pengobatan, kami memberikan ijin untuk keluarga nya mendampingi beliau, namun tetap dalam pengawasan kami" tutur polisi itu lagi.


"Baiklah pak terimakasih" sahut Azlan menunduk hormat pada polisi.


Setelah polisi itu pergi, Azlan kembali mendekat pada istri nya yang masih saja berdiri di depan pintu menatap sang papa dari kaca kecil.


"Papa... bangun, papa masih belum ada waktu untuk zoya!! " lirih Zoya memilukan.


"Sayang, kita duduk di sana yah" bujuk Azlan membawa Zoya duduk di kursi tunggu, ia kasian melihat Zoya sejak tadi berdiri saja.


"Enggak, gue mau lihat papa" tolak Zoya menepis tangan Azlan.


Zoya mencari cari keberadaan mamanya, polisi pasti sudah memeberi tahu mamanya sebelum memberi tahu dirinya. tapi, Zoya tidak melihat sang mama di sekitar nya.


"Cari mama? " tanya Azlan pelan, Zoya tak menjawab matanya kembali menatap pada papanya di dalam sana.


"Polisi sudah menghubungi mama, tapi mama tidak menjawabnya"


Zoya tak bergeming, ia sudah biasa dengan hal itu. Zoya kembali meneteskan air matanya, hidupnya seakan tidak di perbolehkan bahagia, selalu saja ada kesedihan ketika ia akan beranjak ke tahap bahagia.


"Ayah" lirih Azlan menyapa sang ayah yang terakhir kali marah padanya karena kelakuannya yang membuat Zoya sedih.


"Bagai kondisinya? " tanya ayah Azlan.


"Masih kritis yah, luka di tangannya terlalu dalam sehingga menyebabkan papa Brian kehilangan banyak darah"


Meika semakin mengeratkan pelukan nya pada Zoya setelah mendengar penjelasan dari putranya.


"Yang sabar yah sayang" lirih Meika berbisik.


"Papa baik baik aja kan bun, Papa gak akan meninggalkan Zoya kan bun? "


"Gak sayat, kita berdoa pada yang di atas, semoga papa kamu baik baik aja yah"


Zoya kembali menangis, membenamkan wajahnya di pelukan sang mertua. Tangis Zoya terhenti, tiba-tiba alat pendeteksi jantung Brian berbunyi cepat. Azlan dan ayahnya yang duduk di kursi tunggu mendadak berdiri mendengar nya.


"Papa!!! , papa!! " teriak Zoya.


"Panggil dokter cepat!! " titah Meika pada Azlan yang langsung berlari ke ruangan dokter.


"Dokter!! dokter!!! tolong papa saya dok," teriak Azlan pada seorang dokter yang menghampiri nya, lalu mereka berjalan cepat menuju ke ruangan Brian di rawat.


"Tolong selamat kan papa saya dokter" mohon Zoya. Gadis itu bersikeras ingin masuk ke dalam ruangan papanya ketika dokter dan beberapa suster masuk ke dalam untuk memeriksa Brian.


"Sayang, bersabarlah. Dokter akan melakukan yang terbaik" ucap Azlan menahan Zoya.

__ADS_1


"Gak!! gue mau lihat papa!! papa!!! " teriak Zoya meronta ronta di pelukan Azlan.


Meika menutup mulutnya tak tega melihat keadaan Zoya, hatinya ikut sedih mendengar teriakan teriak pilu dari menantunya itu.


Selang beberapa menit, dokter keluar dari ruang Brian. Dokter itu menundukkan kepalanya dengan raut wajah sendu.


Zoya langsung menghampiri dokter itu, menghapus air matanya berharap sang dokter memberikan kabar baik.


"Dokter, Dokter,, bagaimana keadaan papa saya, papa baik baik aja kan? " tanya Zoya tidak sabaran.


"Dokter!!! jawab dokter!! papa baik baik ajah kan? " ulang Zoya karena dokter tak kunjung, menjawabnya.


"Maaf nona, pak Brian telah tiada" jawab sang dokter pelan.


Zoya menggeleng kuat, ia tidak percaya dengan ucapan sang dokter.


"Dokter jangan bercanda!!!! dokter!!! jawab dengan serius!!!!! " bengak Zoya histeris.


"Sayang kamu harus tabah" lirih Meika.


Zoya melirik Meika, lalu berjalan cepat mendekati mertuanya itu dengan tatapan memohon.


"Tolong katakan pada dokter itu bunda, Zoya tidak suka dengan lelucon ini" mohon Zoya berlutut di depan kaki Meika yang hanya mampu menutup mulutnya menahan tangis.


Azlan menunduk, tidak tahan melihat kerapuhan sang Istri.


"Bunda!!!! tolong bunda!! papa tidak mungkin meninggalkan Zoya" lirih Zoya dalam tangisnya.


Zoya bangkit dari duduknya lalu berlari masuk ke ruangan dimana Brian terbaring tak bernyawa.


"Papa... " lirih Zoya.


"Bangun pa!!! jangan tinggalin Zoya!! papa masih ada janji sama Zoya!! "


"Papa!!! "


"Bangun pa!!! Zoya tidak mau sendirian!! papa!!! "


Zoya terus menggoyang goyangkan tubuh Brian berharap sang papa membuka matanya dan memeluk nya.


"Papa!!!! " teriak Zoya.


"Sayat kamu harus kuat" lirih Meika.


Azlan membuang pandangannya ke sisi lain, jujur Azlan tak sanggup melihat istri nya menangis seperti ini.


"Pa... papa mau ngasih tahu Zoya kan, kalo papa itu sayang banget sama Zoya. Tapi papa gak pernah ucapin di depan Zoya. Zoya pengen papa ucapin sekali saja,"


"Bilang kalo papa sayang sama Zoya, gak bakal biarin Zoya sendiri lagi. "


Zoya menghapus air matanya, mengajak Brian terus bicara meski hatinya terasa sakit menerima kenyataan bahwa sang papa telah tiada.


"Papa.... " panggil Zoya, tangis nya semakin pecah karena Brian tak kunjung menjawab ucapannya.


"Papa jangan diam aja, Zoya takut!! " lirih Zoya.


...----------------...

__ADS_1


Jujur ketika nulis ini, author udah nangis duluan membayangkan perasaan Zoya. Gimana dengan kalian?? apa kalian mendapat feel yang sama seperti aku???


__ADS_2