
Dea kembali masuk ke dalam kelas, niatnya untuk bolos di urungkan nya.
"Dea, akhirnya kamu kembali" ucap Lisa tersenyum lega.
Dea tidak menjawab, ia melirik Zia sekilas lalu berjalan ke bangkunya dan duduk dengan wajah dingin nya.
Lisa dan Celsi saling menyikut, mereka penasaran dengan Dea. Gadis itu berubah drastis hari ini.
"De... " lirih Celsi menarik narik lengan baju Dea.
Dea melirik Celsi, dahinya mengerut melihat wajah polos kedua temannya.
"Ada apa? "
"Kamu kenapa sih de, kita jadi takut tahu" rengek Lisa.
"Iya ih Dea, kita takut tahu, terus kita juga bingung" tambah Celsi.
"Dosen sudah datang, fokuslah belajar! " ucap Dea ketus mengusir kedua temannya agar kembali ke kursinya masing-masing.
Skip.
Setelah selasai mengikuti pelajaran, Dea langsung bergegas keluar dari kelas mengikuti pak Jidan.
"Pak!! " panggil Dea sopan.
Merasa ada yang memanggil dirinya, Pak Jidan menghentikan langkahnya, lalu memutar, tubuhnya menghadap ke sumber suara.
"Saya mau minta waktu bapak sebentar" ucap Dea sopan.
"Oh boleh saja, tapi di ruangan saya yah. barang barang saya ini terlalu berat jika kita bicara di sini. "
Dea terkekeh pelan, ia membantu membawakan barang barang pak Jidan.
"Sini saya bantu pak"
"Oh baiklah, kamu mahasiswi yang rajin" kekeh pak Jidan memuji Dea.
Dea dan pak Jidan tiba di ruangannya, Dea memberikan tas laptop pada pak Jidan untuk di letakkan di atas meja nya.
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan dengan saya Dea? " tanya pak Jidan menatap Dea.
"Begini pak, saya ingin mengundurkan diri dari progres ini "
"Kenapa Dea?? kenapa kamu mengundurkan diri dari progres ini? padahalkan kamu yang menjadi bintangnya Dea. Kamu yang jadi tokoh utamanya"
Pak Jidan menatap tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya dari Dea Gadis ini sangat pintar, Jidan yakin jika Dea pasti bisa memenangkan progres ini.
__ADS_1
"Saya tidak memiliki ketertarikan ini lagi pak, saya ingin merubah mimpi saya" jelas Dea serius.
"Tapi Dea, waktunya sudah tidak lama lagi"
"Saya tahu pak, tapi keputusan saya sudah bulat" jawab Dea tegas, ia benar-benar sudah yakin dengan keputusannya kali ini. Meskipun menjadi pemenang progres ini menjadi impian nya dan sekarang Dea memilih untuk meninggalkan nya.
Pak Jidan menghela nafas, ia tidak bisa memaksa Dea untuk tetap melanjutkan ini. "Ya sudah, kalau begitu saya akan mencari seseorang untuk menggantikan kamu"
"Terimakasih pak, " ucapan Dea menunduk hormat.
"Kalau begitu saya Pamit pak" pamit Dea, lalu keluar dari ruangan pak Jidan.
"Huhh... sayang sekali" gumam pak Jidan menatap pintu yang Dea lewati tadi, seolah dirinya dapat melihat Dea di sana.
Dea berjalan melewati koridor kampus, langkah nya terlihat sangat lesuh.
"Dea!!!!!! " teriak Lisa dan Celsi serempak, berlari kearah Dea.
"Kamu dari mana ada? kita nyariin kamu tahu" ucap Lisa.
"Aku dari ruangan pak Jidan" jawab Dea seadanya.
"Huh?? ngapain? " Celsi malah jadi penasaran. Sangat sulit mencari waktu dosen satu itu, kecuali di dalam kelas. Hanya ada hal hal tertentu yang bisa meminta waktunya.
"Aku mengundurkan diri dari progres ini" Jawa Dea lirih, hatinya tak rela, tetapi dia harus melakukan nya. Dea tidak mau bertemu lagi dengan Bastian, Dea ingin benar-benar terlepas dari pria itu.
"Kenapa?? apa yang salah Dea?? "
"Aku hanya tidak mau bertemu dengan pria itu" jawab Dea. Ke tiga gadis itu duduk di salah satu bangku taman.
Dea menghela nafas beratnya, lalu mulai menceritakan pada kedua teman temannya kejadian yang selama ini ia hadapi.
"Jadi kamu sudah kenal Kak Tian sejak dulu?? " tanya Lisa dengan mulut terbuka. Dea mengangguk pelan.
"Wahhh... parah ni. Semua terasa rumit" gumam Celsi.
"Gimana dong.... " lirih Dea dengan ekspresi lucunya.
"Aku baru tahu jika Bastian seperti itu orang nya" Gumam Lisa.
"Awas saja jika bertemu" ujar Celsi mengepalkan tinjunya.
"Awas apa? " sahut seseorang, Dea dan kedua temannya spontan berdiri dari duduknya menatap Bastian yang entah sejak kapan duduk di belakang bangku Dea dan kedua sahabatnya duduki.
"Bastian? " Gumam Lisa terkejut.
Bastian hanya diam saja, matanya terfokus menatap lurus pada Dea. Bastian berdiri dari duduknya, berjalan mendekat pada Dea.
__ADS_1
"Aku perlu bicara dengan gadis ini" tekan Bastian dengan nada dingin. Bahkan lisa dan Celsi tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun.
"Aku tidak mau" tolak Dea menepis tangan Bastian yang meraih tangannya.
"Aku bilang tidak mau!!! " bentak Dea lagi karena Bastian kembali mencoba menarik tangannya.
"Aku butuh bicara sama kamu!! " ucap Bastian tegas.
"Bicara saja di sini"
"Kau membuat ku geram" gumam Bastian kesal. Lisa dan Celsi hanya bisa diam saja, tidak bisa membantu Dea.
"Dea!!! " Boby berlari kecil menghampiri Dea dan kedua temannya, dahi Boby mengerut ketika mendapati Bastian di sana.
Mau tidak mau Bastian melepaskan tangan Dea.
"Boby, sayang kita jadi kan pulang? " ucap Dea sengaja memanggil Boby dengan Sayang, Dea gak peduli nantinya Boby menyalah artikan ucapan nya atau pun tidak.
"Huh, kamu udah gak ada jam kuliah lagi? " tanya Boby kaget, namun ia merasa senang sekarang.
"Aku udah selesai" balas Dea cepat.
"Dea.... kenapa kamu lakukan itu... " bisik Lisa pelan pada Dea.
"Dea!!! " tegas Bastian.
"Eh kenapa kamu membentak pacar ku? " Boby berdiri di depan Dea, menatap Bastian tajam. Boby sangat tidak suka kepada Bastian karena ia tahu Bastian menyukai Dea.
"Dia itu calon tunangan saya!!! kamu tidak usah memaksa dia jadi pacar kamu lagi" balas Bastian sembari menarik Dea ke belakang tubuhnya.
Lisa melebarkan matanya mendengar ucapan Bastian, ia melirik ke kanan dan kiri, memperhatikan apa ada yang mendengar ucapannya barusan.
"hahahaha.... gak usah bercanda deh. Dea itu pacar aku. Dea sini!! " Boby mencoba menarik tangan Dea, namun Bastian menghalanginya dan mendorong Boby.
"Aduhhh gimana sih ini" Lisa dan Celsi khawatir.
"Ingat baik baik yah!!! Dea itu Tunangan aku!! bukan pacar kamu."
"Aku tahu semua yang terjadi! " sambung Bastian menatap tajam Boby.
"Dea... apa itu benar? " Boby melirik Dea, ia mencoba mengklarifikasi agar tidak salah Jika Dea mengakuinya, maka Boby akan melepaskannya.
Dea tidak menjawab, ia benar-benar bingung sekarang. Ini adalah salah satu kesempatan dirinya untuk menjauh dari Boby.
"Jawab Dea" suara Boby mulai mengeras, dan hal itu tidak di sukai Bastian.
"Kau tidak pantas membentak tunangan ku!! " balas Bastian tegas. Lalu menarik tangan Dea pergi dari sana.
__ADS_1
"Maaf Boby" lirih Dea sebelum dirinya di bawa pergi Bastian. Dea memutuskan untuk menjauh dari Boby, jika Bastian ia bisa mengurusnya nanti. Namun urusan dengan Boby sangat ribet jadi Dea menggunakan kesempatan ini untuk melakukannya.
...----------------...