
Tuan Albisyam sudah pulang, mereka sudah berkumpul di ruang keluarga sekarang.Tuan Albisyam kaget melihat Pram ada di rumah nya, ternyata Pram adalah sahabat kecil tuan Albisyam.
"Jadi, paman ini adalah teman ayah? " tanya Raya.
"Iya sayang, kami sejak SD sudah bermain bersama. " jawab ayah.
"Tapi, karena saya pindah ke Amerika. Kami jadi jarang berkomunikasi" tambah Pram.
"Wahhh reuni dong" kekeh Zoya.
"Oh iya Syam, Maksud kedatangan aku ke sini. Untuk melamar anak kamu Raya. " jelas Pram.
"Wahh, bagus dong. Kita bisa lebih dekat lagi Pram"
"Dia sudah tidak sabar Syam, menunggu bulan deman saja tidak mau" kekeh Pram melirik putranya yang tersipu malu.
"Papa.. " tegur Anggi merasa malu.
"Baiklah, Lamaran mu aku Terima. Seperti nya putri kami juga merasakan hal yang sama" goda Ayah pada Raya.
"Iya kan kak? "
"Ayaaaaa" rengek Raya membuat seisi rumah tertawa.
"Kak, sebentar lagi nikah loh" ucap Zoya ikut menggoda.
"Ah iya Pram, aku juga mau melamar gadis ini. "
Pram mengerut, siapa lagi yang akan di lamar oleh sahabat nya ini.
"Aku ingin melamar gadis cantik ini, untuk putra ku" kekeh Ayah.
"Ha? " cengoh Azlan dan Zoya bersamaan.
"Aku ingin melangsungkan pernikahan dan pesta kedua pasangan ini secara terbuka. Berharap semua keluarga kita ini bahagia"
"Aku setuju dengan mu Syam"
"Yeahhhh kita pesta besar!! " sorak Mila.
"Nah kamu kapan? " tanya Bunda. Mila tercekat, pertanyaan ini membuatnya menutup rapat mulutnya. Bagaimana mungkin Mila nikah cepat, dulu alasannya aja yang menunggu Zoya.
__ADS_1
"Kok diam? "
"Bundaaaa, masa bicarain ini depan tamu? " bisik Mila tertahan.
"Loh kenapa? kita ini sudah menjadi keluarga" sahut Calista.
"Nah, kamu juga. Kapan nikahnya? jangan mau jadi selingkuhan aku terus" tegur Pram melirik Calista.
"Hahahaha, "
"Ihhh paman, jika kita tidak berselingkuh. Pekerjaan aku akan hilang" celetuk Calista polos, menambah kesan lucu diantara mereka.
"Emang udah ada calonnya? " sahut Zoya.
Calista nyengir, sembari menggeleng pelan. Azlan mengangkat alisnya, ia memiliki sebuah rencana yang muncul di benaknya sekarang. Azlan mendekatkan bibirnya ke telinga Zoya, membisikkan sesuatu yang membuat Zoya mengangguk sembari tersenyum misterius.
"Terus kapan ni pestanya akan kita langsung kan? " tanya Meika.
"2 minggu lain! " ujar Raya dan Anggi serempak. Membuat mereka yang mendengar nya tertawa.
"Wahhhh udah ke belet banget yah nona Raya dan Tuan Anggi" decak bi Iyun yang juga ikut dalam perkumpulan mereka.
"Yah buat apa lama lama, aku gak mau yah menunggu kaya Azlan! " ujar Anggi.
"Coba aja, gue gak takut"
"Ohhh berani menantang kamu sekarang yahh" geram Azlan di buat buat. Mereka adalah CEO yang di takuti dalam dunia bisnis, Azlan yang kejam dan Santai. Menghancurkan setiap perusahaan yang mencoba coba mencari perang dengan mereka. Sementara Anggi, pria berdarah dingin itu melakukan sesuatu dengan santai, tidak terburu-buru namun pasti, memiliki serangan mematikan ketika menyerang lawan.
"Sudah sudah, aku tahu kalian paling kejam. Tapi aku ingin... "ucap Zoya terjeda.
Deg.
Glek.
Jantung mereka berdetak kencang, menelan saliva menunggu keanehan apalagi yang akan Zoya inginkan.
" Aku rasa aku ada pekerjaan " lirih Anggi sembari bangkit dari duduknya.
"Eh kak Anggi, aku mau kakak gendong Azlan! "
"huh? " kaget Anggi, mana mungkin ia mau menggendong Azlan yang memiliki badan bogel dan berotot itu.
__ADS_1
"Kamu jangan bercanda dong" protes Anggi, sementara Azlan tersenyum mengejek.
"Oh iya kah? yaudah aku pengen... "
Zoya berpikir sejenak, apa yang sedang ia inginkan saat ini. Dan mereka semua menunggu dengan perasaan khawatir.
"Sayang, buatin aku nasi goreng yah"
"Dan Kak Anggi buatin Jus alpukat" jelas Zoya memberikan tugas pada kedua pria tampan itu.
Anggi dan Azlan berdecak senang, semua ini sangat mudah di lakukan. Merka berdua melenggang menuju dapur, namun panggilan Zoya kembali membuat keduanya berbalik.
"Semua bahannya harus di panen sendiri dengan kedua tangan kalian yah"
"Hah? kamu jangan main main Zoe" protes Anggi.
"Sayang, bagaimana mungkin semua bahan nasi goreng Aku petik sendiri"
"Aku gak ingin" ujar Zoya acuh, membuat Azlan dan Anggi kembali tersenyum.
"Tapi, babynya yang mau" lanjut Zoya.
"Astagaaaa, bener bener baby ajaib" gerutu Azlan kesal, kemudian menyambar, kunci mobilnya dan berlalu dari sana mencari kebun sayuran.
Begitu juga dengan Anggi, pria itu berjalan keluar dari rumah mengejar Azlan. Mereka akan mencarinya sama sama.
"Jika bukan karena itu anak gue! gak bakal gue cariin! " dengus Azlan.
"Lah, begonya mulai muncul" decak Anggi.
"Maksud loe? " berang Azlan.
"Kalo tu anak bukan anak kamu, mana mungkin dia minta ke kamu. Ada ada aja sih kamu! "
"Iya juga yah" kekeh Azlan menggeleng pelan.
"Ngidamnya juga gak bakalan aneh kaya gini"
"Jangan meledek gue, Loe masih belum nikah. Kalau udah nikah dan kakak gue hamil. Kita lihat bagaimana anehnya istri lo hamil" ucap Azlan bergidik ngeri membayangkan mereka semua harus tunduk rapuh di hadapan istri mereka yang hamil.
Sementara di ruang keluarga, mereka tertawa bersama. Membayangkan Azlan dan Anggi mencari cari semua bahan ke kebunnya langsung.
__ADS_1
...----------------...