Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Kehidupan Bastian Dan Dea


__ADS_3

Di rumah Mila Zoya dan Dea tengah menonton TV. Serial kesukaan mereka sedang tayang. Mereka lupa jika para suami mereka tengah berlari sekuat tenaga.


"Mila!!! Mila!!! "


"Eh ada yang datang? " gumam Dea menatap mertuanya dan bibi mertua. Mereka beranjak dari sofa. Kemudian berlalu ke pintu depan, belum sempat bergerak ternyata Nisa sudah masuk duluan.


"Ya ampunn..... Ternyata kalian di sini juga? " Nisa berhamburan mendekati Mila. Ia pikir terjadi sesuatu pada Mila, sehingga suami Mila si pria dingin itu berlari kerumah.


"Nisa, kamu kenapa? "


"Gue khawatir sama lo. gue pikir lo kenapa kenapa"


"Hahahahaha"


Seketika tawa Dea pecah, apalagi melihat wajah cemberut bundanya yang teelihat lucu di matanya.


"Heh, kenapa kamu tertawa? " serga nisa.


Dea semakin tertawa, namun cepat cepat iavmengendelikan dirinya. Dea menatap bundanya, kemudian berhamburan memeluk Nisa.


"Eh eh kenapa? " kaget Nisa, namun tetap membalas pelukan putrinya.


"Kangen bunda" kelu Dea.


"Uuu Anak manja" keke Nisa.


"Udah yuk duduk" ajak Zoya sembari menuntun Nisa dan Dea duduk di sofa. Sementara Mila pergi ke dapur membuat sesuatu untuk mereka.


"Nah silahkan di makan" ucap Mila, ia kembali duduk di tempat semula, di sana sudah ada Lalisya yang sudah tertidur pulas.


"Kasian tahu para cowo lari lari di jalan raya" ucap Nisa memulai percakapan.


"Enggak gitu, tapi aku pengennya gitu" jawab Mila dengan raut merasa bersalah.


"Udah gak papa, biar mereka gerak juga sikit. Kan biar sehat" lerai Zoya, ia sudah melihat Mila hampir menangis.


"Ya iya, bagus kan" sahut Mila, raut kesedihan hilang seketika.


Mereka akhirnya menghabiskan waktu dengan cara menonton TV dan sharing soal tingkah suami.


Dea tampak diam saja, ia tidak ikut nimbrung pembicaraan para ibu ibu tua itu. Hatinya sebenarnya khawatir sama suaminyamEntah mengapa ia sekarang merasa sangat sedih.


Zoya menyadari perubahan sikap menantunya, di ambilnya tangan Dea, kemudian di bawanya ke atas pahanya. Kemudian di usap ucapnya punggung tangan Dea sampai ibu hamil itu merasa tenang.


"Nak, kamu merasa cemas? "

__ADS_1


Dea pun mengangguk, ia merasa sangat cemas.


"Hal itu biasa kok di alami oleh ibu hamil" sahut mila pula.


Dea merasa mulai lega, ia beruntung memiliki ibu ibu seperti mereka. Di masa masa seperti ini banyak di antara mereka yang tidak bisa di dampingi oleh ibu nya.


Dea tersenyum lebar, kemudian memeluk ketiga wanita itu. Alisya terbangun ia tak mau kalah. Ia juga ingin ikut berpelukan.


"Aku ikutt" rengek Alisya bangun dan langsung memeluk keempat wanita itu. Membuat Mila, Nisa dan Zoya tertawa lepas.


Sementara di luar, para suami sudah hampir tiba di depan gerbang rumah Mila dan Agai.


"Hah Hah, Agai, lo gimana sih main nya. Kok sampai ngidam yang beginian? " Celetuk Ali di sela sela deru nafas nya yang memburu.


"Apaan sih lo, gue yah main *** *** lah. Gak mungkin gue main lari lari sama Mila" jawab Agai.


"Ini mah bukan ngidam namanya. Nyiksa unver" sahut Bastian. Seketika Azlan dan Ali melirik padanya.


"Kenapa? " tanya Bastian ketus, ia tidak sadar jika istrinya lebih parah dari itu.


"Jadi, menangkap Ayam di kandang itu tidak nyiksa? " ujar Ali dengan tatapan geram.


"Eh malah yang ngidam enak enak di kamar" sahut Azlan. Bastian tercengir, perlahan langkahnya mulai mundur. Alarm kecemasan di otaknya sudah berbunyi.


"Tian duluan yah, seperti nya Dea kangen Bastian" teriak Bastian berlari meninggalkan mereka. Menyisakan Azlan dan Ali menahan geram.


"Ehh Apa maksud lo" balas Azlan.


"Agai, tahan gue Agai. Tahan.... Agai" ucap Azlan seperti orang ingin menyerang Ali namun Di tahan oleh seseorang. Yang nyatanya tidak ada yang menahannya.


Ali mencebik, tingkah seorang CEO dingin dan tegas dan di agung agung kan. Lihat, lebih konyol dari dirinya.


"Agai, Agai" panggil Azlan lagi karena Agai tak kunjung menahan dirinya. Mereka tidak sadar Jika Agai sudah kembali berlari bersama Bastian.


"Dasar bocah ulung" dengus Azlan.


"Udah tua" teriak Ali lagi, kemudian berlari menyusul Menantu dan sahabatnya.


"Eh eh tunggu gue!!! " teriak Azlan ikut berlari.


Setibanya di rumah Mila, Agai langsung membawa mereka masuk ke dalam rumah.


"Astaga!!!!! "


Keempat wanita itu sudah tertidur di sofa dengan TV masih menyalah.

__ADS_1


"Eh papa udah pulang? " gumam Alisya, gadis itu baru saja kelar dari kamarnya.


"Em" sahut Agai kesal.


"Ya ampunnnn.... Dea, Momy, bibi!!! " teriak Bastian kuat, membuat keempat wanita itu terjaga seketika.


"huammmm.... " Mereka menguap. Dea mengucek matanya, ia melirik kearah Bastian.


"Kamu kenapa teriak teriak sih, sakit kepala aku menahan kantuk ucap Dea dengan suara hampir menangis. Bastian tersentak, pandangan mata mereka semua langsung mengarahkan kepada nya.


" Ayah, Bastian jahat" rengek Dwa mengadu pada Ali.


"Eh" Agai bergidik, Dea yang jutek, judes tomboy, berubah menjadi cengeng dan terbilang manja seperti ini.


"Ihhh Kak dea lucu yah, manja manja gitu" kekeh Alisya.


"Lucu? " ulang Bastian. Ini bukan lucu, malahan terlihat mengerikan di mata Bastian.


"Sudah sudah," lerai Mila berdiri dari sofa. Ia menatap keempat pria yang sudah keluhannya, tampak dari keringatnya yang masih bercucuran di pelipis.


"Aku minta maaf yah, serius. Gue gak bermaksud. Tapi... "


"Sudah lah Mila, kamu gak salah kok. Kami semua ngerti apa yang lo rasain" ucap Zoya menenangkan Mila.


"Makasih Zoya" cicit Mila.


"Sekarang aku yang ngidam" teriak Agai. Ia maju selangkah lebih di depan Azlan dan Bastian. Mereka semua menatap Agai aneh.


"Aku mau para wanita Masak. Kecuali yang hamil" ucap Agai. Senyum kemenangan mereka di senyum Bastian, Ali dan Azlan. Termasuk Mila dan Dea, mereka berdua terselamat karena hamil.


"Ehhh, kok kalian tega sih" kelu Zoya merengek.


"Sudah sudah, gak ada bantahan. Aku ingin mandi dulu. Kalian kalo mau mandi di kamar tamu saja yah" ucap Agai menunjuk kamar tamu yang tak jauh dari ruang tamu.


"Oke.. " sahut mereka.


Sementara Zoya dan Nisa dengan lesu pergi ke dapur. "Kenapa aku gak hamil aja yah" geram Zoya.


"Eh, lo mau biarin gue kerja sendiri? " serga Nisa. Zoya tercengir.


"Bukan begitu Nisa, tapi kan enak sama Mila dan Dea" gerutunya lagi.


"Seharusnya, yang ngidam tu minta yang laki-laki masak" balas Nisa.


"Eh tapi kan Nis, selama ini kita hamil, selalu saja membuat laki-laki menderita. Sesekali biarlah mereka yang merasakan indahnya istri mengidam. " Nisa mengangguk pelan, ia juga merasakan hal itu. Sejak awal ada hamil hamil, mereka selalu saja menderita. Akankah bisa membuat mereka yang bahagia ketika istri nya hamil???.

__ADS_1


Nantikan kehidupan Dea dan Bastian lagi yahhhh!!!


...----------------...


__ADS_2