
Dea duduk di bangku halaman belakang rumah Zoya. Semilir angin dan wewangian bunga yang terlihat masih mekar, membuat udara terasa semakin segar.
Dea menghirup udara rakus, seakan akan udara segar itu akan habis.
"Segar yah" Dea menoleh, Lalisa duduk duduk di samping nya.
"Sejak kapan kamu di situ? " tanya Dea, ia tidak menyadari kehadiran lalisa.
"Sejak kakak melamun" kekeh Lalisa. Dea mendengus kesal, gadis ini selalu saja mengerjai nya.
Mereka terdiam untuk sejenak, menikmati kesunyian rumah bagian belakang Zoya.
"Apa kakak tidak mengingatnya? " Lalisa bersuara.
Dahi Dea mengerut, "Siapa? "
"Kak bastian lah, apa kakak tidak ingin bertemu dengannya? "
"Tidak, buat apa aku harus bertemu dengan nya" balas Dea, sikapnya berubah menjadi tidak karuan, Dea mulai gelisah. Sebenarnya jauh di dalam hatinya, Dea merindukan Bastian. Sudah sangat lama mereka tidak bertemu.
"Wahh sayang sekali, abang aku itu sudah sangat tampan sekarang"
Dea mengangkat bahu acuh, ia tidak terlalu mendengarkan ucapan Lalisa. Dulu sejak kecil Dea dan Bastian selalu bertengkar, ada saja yang mereka ributkan. Bahkan, ketika kelas mereka di gabung, antara kelas 4 dan kelas 3.
Semua guru yang masuk menjadi pusing dan menyerah, mereka tidak bisa melerai Bastian dan juga Dea.
"Kak!! " panggil Lalisa, sejak tadi ia memanggil Dea, tapi tak kunjung di jawab Dea.
"Eh iya" sahut Dea tersentak dari lamunannya.
"Kakak melamunkan apa? "
"Enggak kok, kakak gak melamun" sangkal Dea.
Dea bangkit dari duduknya, "yuk masuk, udaranya mulai dingin"
"Baiklah"
Lalisa berjalan beriringan dengan Dea, senyumnya semakin mengembang, Lalisa yakin jika Dea sangat merindukan Bastian.
Tiba di dalam rumah, para tamu mulai berangsur ingin pulang, tanpa sadar ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 23.30.
"Loh, mau kemana? " Kaget Dea.
"Ya ampun De, sekarang tuh udah larut banget, liat tuh, pada tidur semua" Dea mengikuti arah tunjuk Calista, benar saja Anak anak Calista sudah pada tidur.
"Dan... Bastian masih belum pulang" dengus Mila. Dea langsung menoleh pada Mila ketika nama Bastian di sebut.
"Yaudah deh, gak papa ma, kan Dani bisa tidur di sini sama Bastian, besok juga Dani libur. "sahut lalisa.
Ada sedikit rasa kecewa di hati Dea, ia tidak bertemu dengan Bastian. Namun rasa itu hanya hinggap sebentar, karena Dea langsung menepis nya.
" Dea gak jadi jumpa Bastian deh" lenguh Nisa.
__ADS_1
"Emang kenapa? " tanya Zoya bingung.
"Kita tuh bertaruh, mereka bakalan kaya anjing sama kucing lagi atau nggk. Kalo aku menang, semua isi dompet Ali bakalan jadi milik aku" jelas Nisa dengan raut kecewa.
"Bunda apaan sih, "
"Ihh parah ni, Ali sama Nisa. Anak sendiri di jadikan bahan taruhan" celetuk Malik.
"Hahaha.itu hanya hiburan doang" kekeh Ali. Mereka tertawa bersama, kecuali Dea.
Lalisa berjalan ke samping Dea, memeluk Dea dari samping.
"Tenang ajah ka Dea, Di kampus kakak pasti akan bertemu kok sama kak Tian"
"Kampus? " batin Dea. Otaknya mulai berputar, satu persatu kilasan Lisa dan Celsi mengatakan anak baru bermunculan.
"Bastian?, jadi Bastian mahasiswa pindahan itu, Bastian musuh ku? " pikir Dea. Ia menggeleng cepat, tidak mungkin. Itu bisa saja nama yang sama dengan orang yang berbeda. Dea berusaha menyangkalnya.
"Kak de.. " Lalisa mengguncang tubuh Dea pelan, mata Dea melirik ke arahnya, namun masih dalam keadaan diam.
"Wahhh, jangan jangan mereka sudah bertemu, tapi dalam keadaan yang berbeda" celetuk Agai.
"Benarkah Dea? " tanya Ali penasaran.
"Huh? en-gak kok, Dea gak ada jumpa sama bocah itu"
"Masa sih, " lalisa tak percaya.
"Udah ah, Dea mau pulang. Besok harus masuk pagi" Dea menyambar kunci mobil ayah nya, lalu berjalan cepat.
"Aku pulang dulu Zoya, Azlan" seru Nisa bergegas mengejar suami dan putrinya.
"Aneh" lirih caca.
Sekarang rumah Azlan dan Zoya sudah sepi, Bastian menggendong Dani masuk ke dalam rumah.
"Lah, udah pada pulang" lirih Azlan menatap nanar rumahnya, lalu bagaimana nasib bocah kecil yang ada di gendongannya.
"Tian, kamu baru pulang? " Bastian mengangguk pelan.
"Tadi main sama teman My, trus lupa deh kalo Tian ajak bocah ini" tunjuk Tian pada Dani dengan matanya.
"Oh yaudah, tidur di kamar kamu ajah dia"
"Iya my"
Bastian membawa Dani masuk ke dalam kamarnya, lalu membaringkan bocah tampan itu. Wajah mereka memiliki sedikit kemiripan, sama dengan caca. Ada tahi lalat di alis sebelah kanan.
Keesokan pagi nya, Dea datang pagi pagi sekali ke kampus, ia juga menyuruh kedua teman temannya untuk datang pagi juga.
Lisa mendengus kesal, harapannya untuk tidur kesiangan gagal total. Padahal mereka hari ini tidak memiliki jadwal kuliah pagi.
"Dea, ngapain sih kita datang sepagi ini? " sungut Lisa.
__ADS_1
"Aku mau nanya, Siapa nama sendiri baru itu? " tanya Dea serius. Lalisa dan Celsi saling melirik, tumben banget Dea menanyakan soal kak Tian, padahalkan mereka kemarin berantem.
"Emang kenapa? " tanya Lisa penasaran.
"Duhhh udah deh, jawab dulu pertanyaan aku! "
"Siapa nama mahasiswa pindahan itu!! " ulang Dea sedikit memaksa.
"Bastian, panggilan nya kak Tian. Pindahan dari Universitas ternama di London. Kak Tian, berasa dari keluarga kaya, dia juga sudah memiliki perusahaan sendiri, bahkan ia pindah kesini atas permintaan momy nya. Momy nya bernama Zoya!! " Celsi dan Kisah menjelaskan secara bergantian, semua informasi sangat akurat dan detail.
Dea pun tidak menyang kedua sahabat nya tahu begitu banyak tentang Bastian.
"Ternyata memang dia" gumam Dea keceplosan.
"Dia siapa Dea? "
"Ah bukan apa apa" jawab Dea cepat, ia tidak mau kedua sahabat nya tahu jika Bastian itu adalah musuh lamanya, dan kini akan menjadi musuh baru nya. Dea akan berusaha menghindari pria itu.
"Ah, daftar mentor sudah keluar" pekik Celsi, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Pengumuman dari grup seluruh mahasiswa manajemen dari tingkat satu hingga tingkat akhir.
"Wahhhh bagus, Dea kamu di mentori kak Tian! " Sorak Lisa senang.
"Apa?? " Dea merebut ponsel Lisa, memastikan ucapan temannya.
"Astaga, bagaimana mungkin! " batin Dea, rahangnya mengeras. Jika Bastian yang menjadi mentornya, maka mereka akan sering bertemu. Baru saja Dea berniat ingin menghindari Bastian.
"Segera temui mentor kalimat, sebelum jam 10 pagi" baca Celsi pada catatan di bawah daftar mentor itu.
"Astaga, setengah jam lagi" Lisa dan Celsi terlonjak kaget.
"Ayo buruan!!! " Lisa dan Celsi berhamburan mencari senior yang menjadi mentor nya masing-masing. Sementara Dea, masih duduk termenung memikirkan nasibnya. Ini secara kebetulan atau memang sudah di rancang.
"Ahhhkk!!!! , bodo amat lah! " dengus Dea, ia memutuskan untuk tidak menemui Bastian, walaupun Dea sangat ingin ikut serta dalam progres ini.
"Aku harus apaaaaa" lirih Dea bingung, ia sudah seperti orang gila sekarang.
"Dea, kenapa kamu gak jumpai mentor kamu? " Boby duduk di samping Dea, ia kaget ketika melewati taman, Dea duduk sendiri, mencak mencak seperti orang gila.
"Aduhhhh Boby, aku sangat bingung" aduh Dea memeluk tubuh Boby.
"Eh, bingung kenapa? " Boby membalas pelukan Dea, meskipun hatinya hancur mengingat Dea hanya menganggapnya teman.
"Kamu gak tahu? mentor aku adalah Tian!!!! "
"Huh? mahasiswa pindahan tu? " Dea mengangguk cepat.
Boby berpikir sejenak, lalu melepaskan pelukan Dea. "Coba kamu ajukan pertukaran mentor sama panitia" usul Boby.
"Oh iya, kenapa aku tidak kepikiran yah" Dea tersenyum lega.
Cup.
"Kamu memang sahabat terbaik aku" Dea mengecup pipi Boby spontan, lalu bergegas pergi menujukan ruang dosen. Tinggallah Boby yang mematung karena ulah Dea.
__ADS_1
Tak jauh dari sana, seseorang mengepalkan tangannya kuat. Pemandangan itu membuat api di dalam dirinya menyala.
...----------------...